Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 8 Agustus 2026
Agus Hernoto Pernah Todongkan Senjata ke Benny Moerdani
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kolonel Inf. Agus Hernoto merupakan sosok yang sangat dikenal di TNI khususnya di Korps Baret Merah. Keberaniannya di medan operasi membuat namanya menjadi legenda bagi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang bernama Kopassus.
Bahkan, karena keberaniannya Presiden Soeharto menganugerahi medali "Bintang Sakti" pada 1987. Sebuah penghargaan kepada mereka yang yang menunjukkan keberanian dan ketabahan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam pelaksanaan tugas operasi militer.
Penghargaan tersebut membuat Agus Hernoto menyamai jejak Jenderal TNI (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani alias Benny Moerdani, tokoh militer dan legenda intelijen Indonesia yang juga pernah meraih “Bintang Sakti” dari Presiden Soekarno. Kelak, keduanya menjadi tokoh dan teladan bagi prajurit Korps Baret Merah.
Namun di balik semua itu, keduanya pernah terlibat insiden di mana Agus Hernoto menodongkan senjata ke wajah Benny Moerdani. Beruntung, senjata yang dipegang Agus Hernoto tidak sampai meletuskan timah panas sehingga nyawa Benny Moerdani selamat.
Dikutip dari buku biografi berjudul "Kolonel Inf. Agus Hernoto: Legenda Pasukan Komando dari Kopassus Sampai Operasi Khusus” insiden tersebut berawal ketika sebagian besar prajurit Kopassus kecewa dengan kepemimpinan Mayor Djaelani, Komandan RPKAD saat itu yang merencanakan penculikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel A.H Nasution.
Rencana penculikan terhadap orang nomor satu di Angkatan Darat itu dirancang oleh Panglima Tentara Teritorium I Kolonel Zulkifli Lubis. Lubis kemudian mengajak sejumlah perwira Divisi Siliwangi, Termasuk Komandan RPKAD Mayor Djaelani.
”Lubis mengajak saya dan Komandan RPKAD Djaelani untuk menyerbu Jakarta. Saya mengajak beberapa pasukan dibanu RPKAD dari Bandung. Tujuannya untuk mengganti KSAD yang dijabat oleh Nasution. Sebelum rencana menyerang Jakarta saya hanya dua kali ebrtemu dengan Zulkifli Lubis dan Djaelani. Kami membicaran ketidakpuasan terhadap Pusdik Angkatan Darat yang saat itu dipimpin oleh Nasution. Kami mendambakan keadaan yang teratur dan normal hingga dapat mencapai suatu perkembangan,” kenang Kemal Idris, dikutip SINDOnews, Jumat (26/8/2022).
Dalam rapat-rapat yang digelar diputuskan pasukan Siliwangi dan RPKAD akan bertemu di Kranji, Bekasi. Saat itu, Mayor Djaelani membawa peleton Kompi A di mana komandan kompinya adalah Benny Moerdani. Namun Benny tidak ikut karena sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit Cimahi.
Setibanya di Kranji, Djaelani tidak mendapati pasukan Divisi Siliwangi. Djaelani pun memutuskan untuk kembali ke Batujajar, Bandung. Kegagalan ini karena A.H Nasution telah mengetahui rencana penculikan dirinya. Informasi tersebut diperoleh dari perwira intelijen Letkol Soekendro yang disusupkan sejak lama.
Meski gagal, Djaelani tetap pada rencana awal dan meneruskan upaya penculikan tersebut. Bahkan Zulkifli Lubis yang datang langsung ke Batujajar mendorong Djaelani dan RPKAD untuk menajamkan rencananya tersebut. Di hadapan para perwiranya, Djaelani memberikan waktu 2x24 jam untuk berpikir ikut atau tidak dalam gerakan ini.
Pasukan Kompi B yang tidak setuju dengan gerakan penculikan mengamuk. Mereka terlibat baku tembak dengan perwira Kompi A. Tidak berhenti sampai di situ, pasukan yang marah kemudian mencari keberadaan Djaelani, komandannya yang ketika itu berada di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD). Di sisi lain, Benny Moerdani yang tidak mengetahui persoalan tersebut terkejut ketika langkahnya dihentikan saat hendak masuk ke markasnya.
“Mau kemana?” gertak Sersan Agus Hernoto sambil menodongkan senapannya ke wajah Letnan Dua (Letda) Benny Moerdani. “Lho, ke kantor,” jawab Benny. “Lha kalian mau kemana?” tanya Benny kepada Agus Hernoto ”Ke Pak Djaelani, dia mengkhianati kita semua,” jawab Agus Hernoto.
Benny kemudian mengikuti dari belakang rombongan Agus. Saat itu, mantan Panglima ABRI ini menyaksikan sejumlah perwira sudah ditahan dalam sebuah ruangan. Benny satu-satunya perwira yang tidak diringkus karena semua orang tahu dia selama sebulan sakit.
Benny kembali bertanya kepada para pasukan yang ada “Ada apa ini?” tanya Benny “Pak, komandan mengkhianati kita. Para perwira ini mengkhianati kita, kita bunuh saja mereka,” jawab para bintara serentak. Mereka terlihat tidak sabar menunggu perintah untuk menarik picu senjatanya. Namun Benny dengan sigap melarangnya. ”Taruh-taruh itu semua senjatanya. Serahkan semua kepada saya,” kata Benny.
Benny bersama Agus Hernoto dan beberapa prajurit Kopassus lainnya menuju SSKAD. Benny kemudian menjelaskan peristiwa yang terjadi di Batujajar kepada Djaelani. Mendapat penjelasan tersebut, Djaelani akhirnya menyerah dan memberikan pistolnya kepada Benny Moerdani.
Pascaperistiwa itu, hubungan Benny Moerdani dan Agus Hernoto semakin dekat. Bahkan keduanya menjalin persahabatan seumur hidup sekalipun Agus Hernoto pernah menodongan senjata ke wajah Benny Moerdani.
Tidak hanya itu, ketika Agus Hernoto dikeluarkan dari RPKAD oleh Danjen Kopassus Moeng Parhadimoeljo karena cacat sepulang dari operasi pembebasan Papua. Benny lah orang yang menyelamatkan dan mengajaknya bergabung di Opsus binaan Wakil Asisten Intelijen Kostrad Mayjen TNI Ali Moertopo. (Sumber: SINDOnews.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4339 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1464 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 958 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 891 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 827 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun