Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 16 Agustus 2026
Detik-Detik Tragedi Kanjuruhan Hasil Temuan TGIPF
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Kanjuruhan mengungkap kronologi Tragedi Kanjuruhan berdasarkan keterangan sejumlah pihak. Berdasarkan keterangan Komnas HAM, kericuhan di Kanjuruhan bermula dari tembakan gas air mata. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 22.10 WIB.
"Pemicu utama kericuhan adalah tembakan gas air mata ke shuttle ban dan tribun supporter," bunyi laporan TGIPF atas keterangan Komnas HAM.
Komnas HAM menyebut polisi menembakkan gas air mata ke tribun penonton dan lintasan lari atletik (shuttle ban).
Keterangan itu serupa dengan pengakuan dirijen Aremania Yones. Dia berkata suporter kecewa dengan hasil pertandingan, tetapi dirijen mengingatkan agar menjaga suasana kondisif dan tidak turun ke lapangan.
"Tiba-tiba terdengar tembakan ke arah tribun 11, 12, 13 yang awalnya menduga kembang api, yang ternyata gas air mata, tembakan pertama ke arah ke tribun 12," tulis TGIPF berdasarkan pengusutan tim Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD).
Jika merujuk keterangan Kodam V/Brawijaya, kondisi memanas setelah pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya berakhir. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 21.57 WIB.
"Beberapa suporter Arema (Aremania) sejumlah ± 200 orang mulai turun ke Lapangan ingin mendekat ke posisi pemain & official Arema FC sehingga mereka bergegas menuju kamar ganti pemain," dikutip dari dokumen hasil temuan TGIPF Tragedi Stadion Kanjuruhan.
Kodam V/Brawijaya menyatakan kepolisian menembak gas air mata karena kondisi tak terkontrol. Tembakan diarahkan ke tribune selatan dan tribune timur.
Tembakan itu membuat suporter turun ke lapangan dan menyerang aparat pada 22.20 WIB. Sejumlah anggota TNI menjadi sasaran amuk massa.
Pukul 22.30 WIB, menurut Kodam V/Brawijaya, kepolisian terus menembak gas air mata ke tribune selatan dan tribune timur. Lima menit setelahnya, suporter panik berusaha keluar stadion karena efek gas air mata.
"Pukul 22.50 WIB, massa melakukan aksi kepada personel polisi dan material milik polisi yang ada di sekitar stadion, adapun terdapat 13 kendaraan Polisi yang dirusak dan dibakar," bunyi laporan TGIPF atas keterangan Kodam V/Brawijaya.
Menjelang pergantian hari, ketegangan di stadion perlahan mereda. Kodam V/Brawijaya memerintahkan anggotanya untuk menyisir stadion dan membantu penanganan korban. Penanganan rampung sekitar 04.00 WIB pada 2 Oktober.
Kesaksian Kodam V/Brawijaya serupa dengan keterangan Polda Jawa Timur. Dua institusi itu menyebut Tragedi Kanjuruhan dimulai dengan kericuhan yang dipicu suporter.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4548 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2356 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2009 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1614 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1058 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun