Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 10 Agustus 2026
Iran Kian Dekat Bikin Bom Nuklir, AS-Israel Ketar-Ketir
BERITABALI.COM, DUNIA.
Iran semakin pesat dalam pengayaan uranium yang tercatat sudah 60 persen, dan disebut-sebut kian dekat dengan pembuatan bom nuklir. Perkembangan ini, membuat musuhnya, Amerika Serikat dan Israel, ketar-ketir.
AS menyampaikan kekhawatiran atas kemajuan Iran terkait program nuklir dan kemampuan rudal balistiknya.
"Kami akan memastikan kami punya semua opsi yang tersedia untuk presiden. Kami tentu tak mengubah pandangan bahwa kami tak akan membiarkan Iran mencapai kemampuan senjata nuklir," kata juru bicara keamanan nasional AS, John Kirby, pada Selasa (22/11), seperti dikutip AFP.
Sekutu dekat AS, Israel, juga menyatakan hal serupa. Mayor Jenderal Tel Aviv, Aharon Haliva, mengatakan ujian terbesar bagi komunitas internasional adalah saat pengayaan uranium Iran mencapai 90 persen, meski hanya secara simbolis.
"Iran saat ini punya bahan yang diperkaya, yang cukup untuk empat bom nuklir. Itu artinya mereka membutuhkan 100 kilogram uranium yang diperkaya hingga 90 persen untuk empat hulu ledak nuklir," kata Haliva saat konferensi pers di Institut Kajian Keamanan Nasional pada Selasa, dikutip The Monitor.
Lebih lanjut, Haliva mengatakan Iran selangkah demi selangkah mengembangkan pengayaan dan menunggu reaksi masyarakat internasional. Saat Teheran mengetahui sebagian besar menerima langkah baru, mereka akan terus melakukan pengayaan.
Haliva juga menyampaikan kekecewaannya lantaran Barat tak turut campur tangan atau menghalangi tindakan Iran. Iran terus mengembangkan pengayaan uranium hingga 60 persen di pabrik Fordo untuk pertama kalinya.
Sementara itu, bom atom membutuhkan pengayaan uranium hingga 90 persen. Dengan demikian, perkembangan Iran merupakan langkah signifikan menuju pengayaan tingkat senjata.
Pabrik Fordo memiliki sistem perlindungan yang ketat. Pabrik ini berada di bawah tanah agar terhindar dari serangan udara atau rudal musuh. Pada April lalu, fasilitas pengayaan nuklir lain, Natanz, juga telah meningkatkan pengayaan uranium hingga 60 persen.
AS dan Israel kerap khawatir dengan pengayaan uranium Iran. Barat kemudian melakukan negosiasi agar Teheran kembali mematuhi Kesepakatan Nuklir 2015. Sebagai gantinya, Barat akan mencabut sanksi yang sudah dijatuhkan ke Iran.
Namun, Iran bersedia mematuhinya, jika AS juga kembali bergabung dengan kesepakatan tersebut. Pada 2018 lalu, di bawah pimpinan Donald Trump, AS secara sepihak keluar dari kesepakatan nuklir itu.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4437 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2096 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1551 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1008 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 939 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun