Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 29 September 2026
Ganjar dan Gibran Buka Suara Sikapi Konflik Keraton Surakarta
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming turun tangan menyikapi konflik internal Keraton Surakarta buntut penetapan putra mahkota. Ganjar menyarankan pihak keluarga berembuk untuk menghindari konflik yang berlarut.
"Saya berharap di antara keluarga mereka bisa rembukan, wong ya mereka keluarga sendiri," kata Ganjar menanggapi konflik internal Keraton Surakarta di Semarang, Jawa Tengah, Senin (26/12).
Ganjar mengatakan musyawarah merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik di Keraton Surakarta. Senada, Gibran mengatakan akan mengikuti perintah Raja Keraton Surakarta. Ia juga mengaku siap jika diminta menjadi penengah dalam konflik tersebut.
"Saya ikut perintah sinuwun (raja) saja. Kalau disuruh menengahi, yo menengahi," kata Gibran usai acara peluncuran Taman Pracima Tuin di Puro Mangkunegaran, Solo, dikutip dari kanal Youtube Berita Surakarta, Senin (26/12).
Namun, kata Gibran, konflik di Keraton hanya bisa diselesaikan oleh internal keluarga. Ia menyebut dirinya bukan siapa-siapa di lingkungan Keraton dan hanya menjalankan tugas sebagai wali kota.
"Kita tugasnya yang kotor-kotor aja. Becek-becek. Bangun. Revitalisasi," ujarnya.
Keraton Surakarta tengah dilanda konflik internal buntut penetapan Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Purbaya sebagai putra mahkota oleh Paku Buwono XIII. Bahkan sempat terjadi bentrokan yang menyebabkan empat orang luka-luka pada Jumat (23/12).
Penetapan KGPH Purbaya dicap keliru oleh Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta lantaran PB XIII telah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya, yaitu KGPH Mangkubumi. GKR Koes Moertiyah menilai KGPH Mangkubumi lebih tepat ditetapkan sebagai putra mahkota, mengingat ia merupakan putra tertua dari PB XIII.
"Dia anak laki-laki tertua dari sinuwun (PB XIII), kan harus urut tua. (Penetapan putra mahkota sebelumnya) bisa batal demi hukum, hukum adat dan hukum nasional. (Mangkubumi) sudah dipilih abdi dalem dan sentono dalem," kata Koes.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8524 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5873 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3685 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2518 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar