Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 19 September 2026
Semarak Imlek di Gianyar, Seperti Galungan di Bali
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Pasca-pandemi Covid-19 perayaan imlek kembali dilakukan penuh suka cita. Seperti yang terlihat di Gianyar, Bali.
Warga keturunan Tionghoa yang menetap di Gianyar melakukan persembahyangan imlek. Pada 15 hari kemudian, perayaan dilanjutkan dengan persembahyangan Cap Go Meh.
Salah seorang keturunan Tionghoa yang tinggal di Kelurahan Gianyar, Kadek Agus Arimbawa mengatakan, perayaan imlek dilakukan seperti Galungan di Bali. Ia bersama keluarga bersembahyang di wihara atau konco dengan perlengkapan canang sari serta manisan.
"Canang sari, canang manisan, bedanya kita isi tehnya," ujar Agus.
Kata Agus, Imlek merupakan perayaan yang menandakan bahwa musim semi segera tiba, mengingat Imlek diperingati berdasarkan kalender lunar Cina.
"Secara harfiah, tahun baru cina diambil dari bahasa Tionghoa, yaitu Chunjie yang artinya Festival Musim Semi. Imlek juga menggambarkan suasana ketika musim semi tiba, yang berarti musim dingin telah usai," ujarnya.
Di Gianyar sendiri, persiapan Imlek diawali dengan membersihkan sarana alat persembahyangan, tempat ibadah seperti wihara, bio maupun rumah, seminggu sebelumnya.
Sehari sebelum Imlek atau pada hari Sabtu (21/1), warga Tionghoa melakukan persembahyangan tutup tahun di rumah masing - masing maupun di kongco atau wihara.
"Persembahyangan tutup tahun bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur karena telah diberikan kemudahan menjalani tahun sebelumnya," ujar Agus yang sudah lima generasi menetap di Gianyar.
Hari Minggu (22/1/), sudah memasuki tahun baru sesuai dengan sistem kalender cina. Seluruh warga Tionghoa melakukan persembahyangan ke tempat ibadah dan terutama di rumah yang ditujukan kepada leluhur. Dengan harapan diberikan kemudahan dan kesejahteraan untuk menempuh tahun mendatang.
"Setelah melakukan persembahyangan di rumah, biasanya mengunjungi rumah sanak saudara lainnya untuk bersilaturahmi dan juga membagi angpao kepada anak - anak sebagai ucapan rasa syukur, membagi rezeki," terangnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, saat 15 hari setelahnya. dikenal dengan Cap Go Meh. "Di hari ke-15 perayaan Imlek ditutup dengan persembahyangan menggunakan sarana lontong, sehingga dikenal sebutan lontong Cap Go Meh," tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7664 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5625 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3526 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2385 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan