Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Semarak Imlek di Gianyar, Seperti Galungan di Bali

Selasa, 24 Januari 2023, 15:33 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Semarak Imlek di Gianyar, Seperti Galungan di Bali.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, GIANYAR.

Pasca-pandemi Covid-19 perayaan imlek kembali dilakukan penuh suka cita. Seperti yang terlihat di Gianyar, Bali. 

Warga keturunan Tionghoa yang menetap di Gianyar melakukan persembahyangan imlek. Pada 15 hari kemudian, perayaan dilanjutkan dengan persembahyangan Cap Go Meh.

Salah seorang keturunan Tionghoa yang tinggal di Kelurahan Gianyar, Kadek Agus Arimbawa mengatakan, perayaan imlek dilakukan seperti Galungan di Bali. Ia bersama keluarga bersembahyang di wihara atau konco dengan perlengkapan canang sari serta manisan. 

"Canang sari, canang manisan, bedanya kita isi tehnya," ujar Agus. 

Kata Agus, Imlek merupakan perayaan yang menandakan bahwa musim semi segera tiba, mengingat Imlek diperingati berdasarkan kalender lunar Cina. 

"Secara harfiah, tahun baru cina diambil dari bahasa Tionghoa, yaitu Chunjie yang artinya Festival Musim Semi. Imlek juga menggambarkan suasana ketika musim semi tiba, yang berarti musim dingin telah usai," ujarnya. 

Di Gianyar sendiri, persiapan Imlek diawali dengan membersihkan sarana alat persembahyangan, tempat ibadah seperti wihara, bio maupun rumah, seminggu sebelumnya.

Sehari sebelum Imlek atau pada hari Sabtu (21/1), warga Tionghoa melakukan persembahyangan tutup tahun di rumah masing - masing maupun di kongco atau wihara. 

"Persembahyangan tutup tahun bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur karena telah diberikan kemudahan menjalani tahun sebelumnya," ujar Agus yang sudah lima generasi menetap di Gianyar. 

Hari Minggu (22/1/), sudah memasuki tahun baru sesuai dengan sistem kalender cina. Seluruh warga Tionghoa melakukan persembahyangan ke tempat ibadah dan terutama di rumah yang ditujukan kepada leluhur. Dengan harapan diberikan kemudahan dan kesejahteraan untuk menempuh tahun mendatang.

"Setelah melakukan persembahyangan di rumah, biasanya mengunjungi rumah sanak saudara lainnya untuk bersilaturahmi dan juga membagi angpao kepada anak - anak sebagai ucapan rasa syukur, membagi rezeki," terangnya. 

Lebih lanjut dijelaskannya, saat 15 hari setelahnya. dikenal dengan Cap Go Meh. "Di hari ke-15 perayaan Imlek ditutup dengan persembahyangan menggunakan sarana lontong, sehingga dikenal sebutan lontong Cap Go Meh," tutupnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/gnr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami