Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 7 Agustus 2026
India, Jerman, Cina Ramai-Ramai Tenggelamkan Harga Batu Bara
BERITABALI.COM, DUNIA.
Harga batu bara makin tenggelam. Pada Pada perdagangan Rabu (15/3/2023), harga batu bara kontrak April di pasar ICE Newcastle ditutup di posisi US$ 179,65 per ton. Harganya melandai 0,19 persen.
Baca juga:
Rusia Obral Harga Batu Bara Sejak Juli Lalu
Harga tersebut adalah yang terendah sejak 20 Februari 2023.
Pelemahan kemarin memperpanjang tren negatif harga batu bara yang juga melemah pada Senin pekan ini. Dalam empat hari perdagangan terakhir, harga pasir hitam sudah ambruk 6,9 persen.
Harga batu bara jatuh setelah India dan Jerman mengirim kabar buruk.
Menteri Kelistrikan India RK Singh mengatakan Negara Gangga akan menurunkan kontribusi pembangkit listrik ke energi dari 72,3 persen saat ini menjadi 58,9 persen pada 2026-2027 hingga terus turun menjadi 49,9 persen pada 2031-2032.
Merujuk studi Central Electricity Authority (CEA), kapasitas pembangkit liginite terpasang turun dari 51,27 persen menjadi 28,7 persen hingga Maret 2023.
India merupakan konsumen terbesar kedua batu bara di dunia setelah Cina. Kebutuhan batu bara menembus 1 miliar ton lebih.
Selain India, Jerman juga akan mengurangi produksi listrik batu bara.
Sebagai bagian dari rencana tersebut, pemerintah Jerman akan menutup tambang batu bara LEAG pada akhir 2030. Rencana penutupan tersebut maju delapan tahun dari rencana awal yakni 2038.
Jerman sudah berbicara dengan LEAG soal penutupan tersebut. LEAG merupakan pemilik tambang terbesar kedua di Jerman.
Pemerintah Jerman sebelumnya juga sudah mencapai kesepakatan dengan produsen listrik RWE AG untuk tidak lagi menggunakan batu bara pada 2030.
Jerman berambisi untuk mengurangi emisi hingga dua pertiga dari saat ini dan menghasilkan 80 persen energi mereka dari energi baru dan terbarukan. Kontribusi pembangkit listrik batu bara saat ini berada di kisaran 30 persen dari total listrik yang diproduksi negara tersebut.
Sebelumnya, Cina juga sudah memberikan kabar buruk. Tiongkok mengumumkan kenaikan produksi pada Januari-Februari 2023.
Tiongkok juga diperkirakan tidak akan membeli harga batu bara kokas dari Australia secara besar-besaran karena masih lesunya industri dan mahalnya harga batu bara kokas.
Produksi batu bara Cina menembus 734,23 juta ton pada Januari-Februari 2023. Jumlah tersebut meningkat 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi ini membuat Tiongkok optimis bisa menghadapi kebutuhan batu bara thermal dan bisa menekan impor.
Dengan melemahnya impor maka harga batu bara bisa terus tertekan mengingat Cina adalah konsumen terbesar batu bara di dunia.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4189 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1438 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 942 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 874 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 761 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun