Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Sekutu AS 'Membelot', Beri Ribuan Roket ke Rusia
BERITABALI.COM, DUNIA.
Rusia dilaporkan kembali mendapatkan 'teman' baru saat dunia Barat mulai mengucilkannya akibat serangan ke Ukraina. Hal ini diungkapkan oleh dokumen intelijen Amerika Serikat (AS) yang bocor ke publik beberapa hari yang lalu.
Dokumen yang tertanggal 17 Februari itu menjelaskan Presiden Mesir Fattah El Sissi dan pejabat militer senior negara itu sedang dalam percakapan untuk produksi sekitar 40.000 roket untuk Rusia. Mereka juga mendiskusikan penyediaan peluru artileri dan bubuk mesiu.
"Di dalamnya, pemimpin Mesir dilaporkan menginstruksikan seorang pejabat yang dirujuk sebagai Salah Al Din untuk merahasiakan rencana tersebut untuk menghindari masalah dengan Barat, dimana nama itu diyakini sebagai Mohamed Salah Al Din, menteri negara untuk militer," tulis dokumen itu dikutip Times of Israel, Rabu (12/4/2023).
"Salah Al Din mengatakan kepada Sissi bahwa memasok Rusia dengan senjata adalah setidaknya yang bisa dilakukan Mesir untuk membalas Rusia atas bantuan yang tidak ditentukan sebelumnya," tambah dokumen itu tanpa merinci bantuan apa yang dimaksud.
Serangan Rusia ke Ukraina telah secara signifikan merusak akses Mesir ke gandum Ukraina, yang menjadi andalan negara Afrika utara itu untuk 80% impornya. Di sisi lain, Kairo telah meminta bantuan Moskow terkait hal ini.
Kebocoran data intelijen merupakan bagian dari lusinan foto dokumen AS yang sangat sensitif dan rahasia. Dokumen itu telah ditemukan di Twitter, Telegram, Discord, dan situs lain dalam beberapa hari terakhir.
The Washington Post mengatakan memperoleh dokumen referensi dari sekumpulan gambar file rahasia yang diunggah di Discord pada bulan Februari dan Maret.
Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Ahmed Abu Zeid, menegaskan posisi Mesir yang tidak terlibat dalam krisis ini dan berkomitmen untuk menjaga jarak yang sama dengan kedua belah pihak, sambil menegaskan dukungan Mesir terhadap aturan internasional yang berlaku.
"Kami terus mendesak kedua belah pihak untuk menghentikan permusuhan dan mencapai solusi politik melalui negosiasi," kata Abu Zeid.
Di sisi lain, direktur kebijakan luar negeri AS di Open Society Foundations, Sarah Margon, mengatakan bahwa jika dokumen ini benar, pasokan roket dari Kairo ke Moskow merupakan sesuatu yang di luar batas, terutama untuk sekutu AS yang seolah-olah dekat.
Pemerintahan Presiden Joe Biden sendiri makin terganggu oleh penindasan otoritas Mesir terhadap masyarakat sipil saat negara itu mengarungi krisis ekonomi yang makin intens.
Pada September, AS mengatakan akan menahan sebagian dari pembayaran keamanan tahunannya yang lebih dari US$ 1,3 miliar (Rp 19 triliun) ke Mesir, mengutip catatan hak asasi manusia Kairo yang buruk.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5948 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4658 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2643 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2290 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2226 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan