Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 3 November 2026
Sejarah Komunitas Muslim di Kampung Gelgel
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Kampung Gelgel merupakan komunitas Muslim yang paling spesial, sebab Kampung Gelgel ini merupakan komunitas Muslim pertama di Pulau Dewata. Kedatangan muslim generasi pelopor ini dilakukan orang Jawa di era Dalem Ketut Ngulesir berkuasa di Bali.
Demikian terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Komunitas Islam di Desa Kampung Gelgel, Klungkung Bali", (Latar Belakang Sejarah, Peninggalan, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Sejarah (Widya Winayata) Volume 3, nomor 1 tahun 2015. Artikel tersebut ditulis oleh Putu Adi Sutama, Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum dan Ketut Sedana Arta, S.Pd, M.Pd dari Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha.
Putu Adi Sutama dan kawan-kawan menuliskan masuknya Muslim di Bali berbeda dengan daerah-daerah yang ada di Indonesia yang di sebarkan oleh para Ulama. Dimana kedatangan muslim generasi paling awal ini dilakukan orang Jawa sebelum masa pemerintahan Dalem Waturengong (1460-1550) atau tepatnya era Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460) yang bertepatan era Hayam Wuruk memerintah Majapahit (1350-1389).
Saat itu, Dalem Ketut Ngelesir menghadiri kunjungan ke Majapahit ketika Prabu Hayam Wuruk mengadakan konferensi kerajaan - kerajaan vasal (taklukan) di seluruh Nusantara di awal 1380an. Ketika kembali ke Gelgel Dalem Ketut Ngelesir diberi Prabu Hayam Wuruk 40 orang pengiring yang semuanya beragama Islam.
Bahkan mereka sudah dianggap layaknya saudara, semeton selam. Seiring dengan perjalanan waktu, Kampung Gelgel mengalami perkembangan, baik dari segi jumlah maupun aktivitas. Mereka mengembangkan aktivitas di berbagai sektor seperti keagamaan, ekonomi, dan seni budaya.
Kampung gelgel memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah, akan tetapi sayangnya banyak benda-benda bersejarah itu disimpan di museum Belanda. Saat penjajahan Belanda, benda-benda bersejarah itu dibawa kesana oleh Belanda.
Baca juga:
Sejarah Nyepi, dari India Hingga Majapahit
Pada saat ulang tahun Kabupaten Klungkung yang ke 100, Pemerintah Kabupaten Klungkung sempat berusaha untuk membawa kembali benda-benda bersejarah itu, akan tetapi Pemerintah setempat harus membayar uang 3 miliar hanya untuk meminjam tombak selama 3 hari saja. Adapun benda-benda bersejarah yang masih tersisa di Desa kampung Gelgel yaitu Masjid Nurul Huda, Babad, Tari Rudat, Pintu Menara, Mimbar, dan Makam.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 567 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 439 Kali
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 431 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan