Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bertahan dalam Luka Lingkaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Minggu, 13 September 2026, 23:34 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Bertahan dalam Luka Lingkaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

SESEORANG PEREMPUAN berusia 26 tahun, berinisial PRN merasa sedih hingga muncul keinginan untuk mati setelah berulang kali mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia menikah pada tahun 2023 setelah setahun berpacaran dan memiliki dua anak berusia dua tahun serta sepuluh bulan. 

Kekerasan fisik mulai ia rasakan setelah lima bulan menikah, ketika ia sedang hamil anak pertama. Ia mengalami penghinaan, diludahi, dilempar remote hingga lebam, dipukul, diseret, dan dijambak. Anak mereka juga mengalami kekerasan, bahkan pernah dibanting ke tempat tidur saat berusia tiga bulan.

Pertengkaran terakhir terjadi setelah ia melihat suaminya memukul anak mereka dengan bantal. Suaminya mengancam membunuhnya, membekapnya dengan selimut hingga sulit bernapas, lalu memukulnya menggunakan kursi. Setelah menyita ponselnya, suami kemudian mencoba bunuh diri karena takut dilaporkan dan diceraikan, serta memaksanya untuk menyaksikan tindakan tersebut. Ia kemudian berteriak minta tolong yang mengundang tetangga untuk membantu membawa suaminya ke rumah sakit.

Selama dua minggu terakhir, ia mendengar bisikan tidak jelas di kedua telinga yang tidak didengar orang lain, tanpa pengalaman melihat sesuatu yang tidak bersumber. Beberapa bulan terakhir, ia sulit memulai dan mempertahankan tidur, kehilangan nafsu makan, serta sangat mengurangi makan dan minum.

Sejak kecil, ia telah merasakan kehilangan mendalam karena ayahnya meninggal dalam peristiwa Bom Bali tahun 2002 ketika ia berusia dua tahun. Melihat foto jenazah ayahnya menimbulkan kesedihan dan kemarahan. Perasaan tersebut kemudian mereda dan kini ia tidak lagi terganggu oleh ingatan itu.

Saat kelas dua SMA, ia pernah mencoba melompat dari lantai atas asrama setelah menerima perkataan kasar dari kepala asrama. Ia berhasil diamankan dan kemudian menyelesaikan pendidikan hingga S1 di bidang desain interior. Ia juga merasa disalahkan oleh mertuanya dan tidak mendapat pertolongan ketika diancam dengan keris oleh suaminya. 

Suaminya terus mengancam bunuh diri jika ia meminta untuk diceraikan. Kedua mertuanya disebut juga memiliki riwayat percobaan bunuh diri. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dan dibesarkan oleh ibunya yang bekerja sebagai guru TK.

Kehilangan rasa aman dalam hidup

Perkawinan berarti bersatunya laki-laki dan perempuan guna membentuk satu keluarga yang disahkan melalui upacara agama atau adat untuk hidup berdua selama-lamanya dengan bahagia. Namun hal ini tidak berlaku dalam hidup PRN. Ia menjalani kehamilan, persalinan, dan pengasuhan dua anak sambil menghadapi penghinaan serta serangan fisik berulang. Kesedihan muncul hingga keinginan untuk mati. 

Dari perspektif psikiatri komunitas, pertanyaan pertama adalah bagaimana kekerasan mengikis rasa aman, martabat, dan pilihan hidupnya, serta siapa yang seharusnya hadir untuk melindunginya. Cerita ini menunjukkan kekerasan pasangan intim dengan pola coercive control, yaitu pengendalian yang mempersempit kebebasan korban melalui intimidasi, ancaman, dan pembatasan akses bantuan. 

Penyitaan ponsel serta ancaman bunuh diri ketika PRN meminta berpisah menunjukkan bagaimana kendali dipertahankan melampaui tindakan memukul. Pengalaman ini menunjukkan adanya kontrol koersif sebagai keterjebakan yang berkembang perlahan, disertai kewaspadaan berlebihan, gangguan pengaturan emosi, dan perubahan pandangan terhadap diri sendiri. 

Ancaman membunuh, pembekapan hingga sulit bernapas, penggunaan kursi untuk menyerang, ancaman dengan keris, dan kekerasan terhadap bayi memperlihatkan bahaya yang serius. Anak-anak merupakan korban langsung yang memerlukan perlindungan tersendiri. Perlawanan PRN ketika diserang harus dibaca dalam konteks upaya mempertahankan keselamatan, sehingga jika kita menyebut situasi ini sekadar pertengkaran pasangan akan mengaburkan ketimpangan kekuasaan dan tanggung jawab pelaku.

Secara klinis, kesedihan, insomnia, penurunan nafsu makan, dan keinginan mati menunjukkan adanya risiko bunuh diri. Pada perempuan yang mengalami kekerasan pasangan memiliki hampir dua kali risiko mengalami gangguan depresi. Riwayat percobaan bunuh diri PRN menambah alasan untuk menilai niat, rencana, akses sarana, dan dukungan aktual. Bisikan yang dilaporkan perlu diperiksa sebagai kemungkinan gangguan persepsi, termasuk kaitannya dengan trauma, gangguan suasana perasaan, kurang tidur, maupun kondisi medis. 

Bagaimana dengan suaminya? Perilaku yang dilaporkan memperlihatkan agresi, intimidasi, dan pemaksaan. Istilah psikopat dapat muncul karena kekejamannya. Dalam psikologi, psikopati merupakan konstruk yang mencakup ciri interpersonal, afektif, dan perilaku, seperti manipulasi, rendahnya empati, serta perilaku antisosial. 

Terdapat hubungan antara ciri psikopatik dan kekerasan terhadap pasangan. Tanpa sadar ia juga membangun keturunan yang kejam, seakan akan seperti riwayat Empu Gandring yang melanjut kepada keturunannya sampai ada dari keturunannya sadar untuk memutus karma pala yang terjadi.

Sementara itu tindakan percobaan bunuh diri suami harus ditangani sebagai keadaan serius. Pada saat yang sama, ancaman tersebut dapat berfungsi mempertahankan kendali dengan membuat PRN merasa bertanggung jawab atas hidupnya. Risiko bunuh diri yang nyata dan fungsi koersif dapat hadir bersamaan. Suami memerlukan evaluasi psikiatri, termasuk penggunaan zat, gangguan suasana perasaan, dan risiko kekerasan. Riwayat percobaan bunuh diri orang tuanya juga perlu diklarifikasi. Namun, apa pun hasil pemeriksaannya, tanggung jawab atas kekerasan tetap berada pada pelaku.

Apa yang membuatnya bertahan?

Kekerasan dalam rumah tangga pada mulanya menimbulkan rasa sakit hati, sedih, jengkel atau benci. Sehingga mereka sering ingin berpisah atau cerai. Namun kalau ini terus berlangsung, rasa sakit itu berubah menjadi kasihan dan tidak sampai hati meninggalkannya. Oleh karena itu tidak jarang perempuan yang tadinya melaporkan tindakan suaminya kemudian mencabutnya kembali. Rasa kasihan lebih banyak menguasai dirinya. 

Pertanyaan mengapa tidak pergi? sering mengandaikan bahwa pintu keluar tersedia dan aman. Pada PRN, permintaan berpisah justru diikuti ancaman bunuh diri. Ia juga mengasuh dua anak yang masih sangat kecil. Bertahan mungkin merupakan pilihan sementara di antara beberapa pilihan yang semuanya terasa berbahaya. 

Dalam formulasi psikodinamik, adanya kehilangan figur penting memengaruhi kebutuhan akan kedekatan dan rasa aman. Kematian ayah pada masa kanak-kanak mungkin membuat ancaman kehilangan memiliki makna emosional khusus. Namun, kehilangan dini tidak otomatis menghasilkan kelekatan tidak aman, dan tidak boleh dijadikan penjelasan bahwa ia memilih pasangan yang menyakitinya.

Konflik antara kebutuhan mempertahankan keluarga dan kebutuhan melindungi diri dapat melahirkan ambivalensi. Seseorang pada dasarnya berusaha mengurangi ketegangan antara harapan dan kenyataan. Keyakinan bahwa perkawinan akan memberikan perlindungan dapat berbenturan dengan pengalaman disakiti. Penyangkalan atau pengecilan makna kekerasan mungkin menjadi pertahanan sementara agar kehidupan tetap terasa dapat dijalani. 

Teori siklus kekerasan dapat menjelaskan bagaimana pergantian serangan dengan perhatian atau penyesalan dapat mempertahankan harapan. Konsep traumatic bonding membahas keterikatan dalam hubungan yang timpang dan menyakitkan. Konsep learned helplessness juga relevan sebagai kemungkinan adanya pengalaman berulang bahwa tindakan yang tidak menghentikan ancaman akan dapat melemahkan keyakinan terhadap kemampuan untuk mengubah keadaan. Namun, PRN memperlihatkan daya bertindak. Ia melawan ketika dibekap, melindungi anak, meminta kembali ponselnya, dan berteriak mencari bantuan. Tindakan kecil untuk bertahan hidup tetap merupakan bentuk kapasitas dan perlawanan.

Pada tingkat psikososial, respons mertua yang menyalahkan PRN mempersempit dukungan yang seharusnya tersedia. Kerangka ekologis membantu melihat hubungan antara individu, keluarga, komunitas, dan norma sosial. Norma dapat digunakan untuk menekan korban, tetapi solidaritas keluarga dan komunitas juga dapat menjadi sumber perlindungan.

Secara neurobiologis, paparan ancaman berulang dapat memengaruhi sistem saraf otonom dan sumbu hipotalamus–hipofisis–adrenal, yang mengatur respons stres. Perubahan regulasi stres, tidur, perhatian, dan pemrosesan ancaman dapat membuat seseorang lebih terpusat pada keselamatan sesaat. Selain itu kurang tidur serta berkurangnya makan dan minum dapat semakin menyulitkan konsentrasi, pengaturan emosi, dan perencanaan. Penjelasan biologis membantu memahami beban yang ditanggung tubuhnya. Namun, alasan bertahan tetap harus dilihat bersama ancaman nyata, hubungan emosional, dan ketersediaan jalan keluar yang aman.

Apa yang harus dilakukan?

Respons awal sebaiknya membuat PRN merasa dipercaya. Dalam kasus ini, perlindungan dan pemeriksaan medis-psikiatris perlu segera berjalan bersamaan. Penilaian mencakup cedera, dampak pembekapan, hidrasi, nutrisi, bisikan, dan risiko bunuh diri. Bila terdapat niat bunuh diri aktif atau keselamatan tidak dapat dipastikan, diperlukan penanganan darurat serta pendampingan aman. 

Kedua anak membutuhkan pemeriksaan dan koordinasi perlindungan anak. Makin muda umur menyaksikan kekerasan ini semakin berdampak pada perkembangan mental anak itu. Bisa mereka mengalami ketakutan, kecemasan, panik, sedih, atau ia tidak berani menikah takut mengalami hal yang sama seperti orang tuanya. Namun kalua mereka sudah berkeluarga tanpa disadari apa yang ditakuti, apa yang dibenci, apa yang tidak diterima, akan dilakukannya saecara tidak disadarinya kepada anak-anaknya. Seakan-akan karma pala terus bekerja. 

Perawatan suami harus ditangani oleh petugas, sementara itu PRN tidak boleh dibebani menjadi pengawas keselamatannya. Pemisahan tempat tinggal yang aman merupakan pilihan perlindungan yang sangat kuat dalam situasi ini. Keputusan perceraian tetap memerlukan informasi, dukungan, dan ruang bagi PRN menentukan pilihannya. Namun, meninggalkan hubungan dapat menjadi periode eskalasi. 

Penting untuk membaca seluruh riwayat kekerasan serta mengoordinasikan penilaian risiko selama perpisahan. Sehingga dapat mendukung perencanaan keselamatan, bukan anjuran agar perempuan tetap tinggal bersama pelaku. Rencana tersebut perlu konkret, seperti tempat tinggal yang terlindungi, transportasi, dokumen penting, kebutuhan anak, akses dana, komunikasi aman, serta orang tepercaya yang dapat membantu. PRN sebaiknya tidak diminta menghadapi pelaku sendirian untuk mengumumkan perpisahan. Dokumentasi medis dan pendampingan hukum perlu tersedia. 

Pemulihan memerlukan kesinambungan layanan antara rumah sakit, puskesmas, pekerja sosial, perlindungan perempuan-anak, dan bantuan hukum. Penanganan gejala perlu disertai dukungan pengasuhan, tempat tinggal, serta pemulihan kemandirian. WHO menekankan layanan yang berpusat pada penyintas dan koordinasi lintas sektor. Suami memerlukan penanganan risiko bunuh diri serta intervensi kekerasan dengan pertanggungjawaban yang jelas. Dalam kondisi kontrol koersif dan ancaman aktif, pertemuan bersama tidak boleh menggantikan perlindungan atau memaksa rekonsiliasi. 

Refleksi terpenting bagi kita semua adalah siapa yang menanggung biaya sosial ketika masyarakat mempertahankan perkawinan dengan mengorbankan keselamatan anggotanya. Keluarga dan tokoh komunitas dapat membantu apabila menghormati pilihan serta kerahasiaan PRN. Keberhasilan pertolongan terlihat ketika ia dapat tidur tanpa mengantisipasi serangan, anak-anak tumbuh dalam rasa aman, dan keputusan hidup kembali berada di tangannya. Berpisah dapat membuka jalan tersebut dan dukungan yang berkelanjutan akan membuat jalan itu benar-benar dapat dilalui. Berpikirlah dengan tenang. Ketenangan akan memberikan jalan terbaik untuk apa yang musti dilakukan. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami