Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 11 September 2026
Rusia Klaim Bombardir Odessa Ukraina Demi Cegah Serangan Teroris
BERITABALI.COM, DUNIA.
Rusia buka suara usai membombardir Pelabuhan Odesa, Ukraina pada Sabtu (22/7) malam waktu setempat.
Mereka mengklaim lokasi itu menjadi markas untuk mempersiapkan serangan teroris ke Rusia. Pasukan Negeri Beruang Merah lalu menargetkan Pelabuhan Odesa untuk mencegah aksi teroris ke Rusia.
"Pada malam hari, angkatan bersenjata Federasi Rusia melakukan serangan di fasilitas yang mana tindakan teroris melawan Federasi Rusia menggunakan kapal tak berawak disiapkan," kata Tentara Rusia, seperti dikutip AFP.
Mereka kemudian berujar, "Semua target yang direncanakan dalam serangan itu dihancurkan".
Kementerian Pertahanan Rusia juga membantah serangan itu menyebabkan gereja hancur. Menurut mereka, gereja hancur kemungkinan disebabkan rudal anti-pesawat Ukraina.
Sebelumnya, Ukraina menyatakan pasukan Rusia meluncurkan 19 rudal ke Pelabuhan Odesa. Imbas serangan ini, dua orang tewas dan 22 orang termasuk anak-anak mengalami luka-luka.
Tak hanya itu, enam bangunan tempat tinggal penduduk, monumen arsitektur, dan Gereja Ortodoks, juga hancur.
"Secara total musuh menggunakan 19 rudal berbagai jenis," demikian menurut Angkatan Udara Ukraina di Telegram.
Beberapa peluru kendali itu di antaranya Rudal Jelajah Oniks, Kalibr, dan Rudal Balistik Iskander.
Menanggapi serangan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam tindakan Rusia.
"Rudal melawan kota-kota yang damai, melawan bangunan tempat tinggal, katedral. Tidak ada alasan untuk kejahatan Rusia," kata Zelensky.
Ia juga berjanji akan membalas serangan Rusia di Odesa.
"Mereka akan merasakan pembalasan ini,"ucap Zelensky.
Ukraina tengah berjuang menghadapi serangan Rusia selama sepekan terakhir. Sistem pertahanan mereka disebut belum cukup mampu menghalau serangan dari pasukan Negeri Beruang Merah.
Pada Kamis, tim CNN mendengar ledakan dan menyaksikan serangan yang berlangsung hingga 90 menit.
Gelombang serangan Rusia berlangsung usai Kremlin menolak untuk memperpanjang perjanjian memfasilitasi ekspor gandum. Keputusan ini diambil setelah Ukraina meledakkan jembatan Crimea.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3309 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 779 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 718 Kali
ABOUT BALI
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman