Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 11 September 2026
Suasana di Bali Pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Merdeka! Merdeka! Merdeka! Pekikan itu membahana dimana-mana begitu berita gembira itu disiarkan di radio pada 17 Agustus 1945. Para pemuda meneruskan kabar kemerdekaan ke seluruh pelosok negeri.
Suasana gembira merebak di mana-mana. Setelah dijajah selama 350 tahun, Indonesia kini menjadi negara merdeka.
Di Desa Penyaringan, di pelosok Bali Barat, Pemuda Nyoman Sirna, agak terlambat mendengar berita soal kemerdekaan Indonesia. Ketika mendengar informasi soal kemerdekaan Indonesia, Nyoman bergegas mencari surat kabar Bali Shimbunyang terbit di Denpasar.
Namun berita soal proklamasi tidak ada di koran terbitan Jepang itu. Pemerintah kolonial Jepang menyembunyikan berita soal proklamasi. Mereka takut berita itu akan mendorong rakyat memberontak kepada Jepang.
Kebenaran tidak bisa ditutupi. Sepekan setelah pembacaan proklamasi, beberapa pesawat sekutu terbang rendah sambil menjatuhkan selebaran yang menyatakan Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Dinyatakan juga tentara sekutu akan datang melucuti tentara Jepang. Penduduk diharapkan tenang.
Pemuda Nyoman Sirna meneruskan berita ini kepada penduduk dan mengumpulkan para pemuda. Mereka berkumpuldan berembug. Muncul kekhawatiran penjajahan Jepang akan diganti penjajahan sekutu. Apalagi Belanda termasuk dalam aliansi negara sekutu (Allied Forces). Nyoman dan rekan-rekan bertekad, penjajahan jangan sampai terjadi lagi.
Meski sekutu menyatakan Jepang sudah menyerah, faktanya tentara Jepang masih bercokol di Bali. Di Jembrana, tentara Jepang bertahan di Negara. Tentara Jepang mengadakan perjanjian dengan Pemerintah Jembrana. Mereka menyatakan siap membantu pemerintah lokal untuk melawan Belanda apabila diberi bantuan bahan makanan.
Dalam Biografi Drs. I Nyoman Sirna MPH, "Sang Guru, Sebuah Memoar Tentang Perjuangan dan Pengabdian", yang ditulis Indrawati Muninjaya, Nyoman Sirna menuturkan, belakangan, sikap pemerintah Republik Indonesia berubah menjadi menentang tegas pendudukan Jepang. Pemerintah Indonesia di Bali meminta Jepang menyerahkan senjatanya, namun Jepang menolak.
Baca juga:
472 Benda Bersejarah Indonesia akan Dikembalikan dari Belanda, Salah Satunya Keris dari Klungkung
Tidak dapat dihindari, perselisihan antara pihak Republik dan Jepang meruncing. Setelah perundingan buntu, direncanakan serangan umum serentak di seluruh Bali yang akan dilaksanakan pada 13 Desember 1945 pada malam hari.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3300 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 774 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 712 Kali
ABOUT BALI
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman