Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Cina Respons Protes India Soal Peta Baru: Tetap Objektif dan Tenang
BERITABALI.COM, DUNIA.
Pemerintah Cina buka suara usai India menyampaikan protes keras atas standar peta baru 2023 yang dirilis Beijing, lantaran dianggap mengklaim sepihak wilayah di India.
Baca juga:
Sapi Brasil Sudah Bebas PMK, Ini Buktinya
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Wang Wenbin, menyatakan perilisan standar peta baru merupakan agenda rutin tahunan.
Peta ini dikeluarkan oleh Kementerian Sumber Daya Alam bersamaan dengan Pekan Kesadaran Pemetaan Nasional Cina dan Hari Publisitas Survei dan Pemetaan, Peta Standar 2023.
"Ini adalah praktik rutin dalam pelaksanaan kedaulatan Cina sesuai dengan hukum," kata Wang saat konferensi pers pada Rabu (30/8), dikutip situs resmi Kemlu Cina.
Wang kemudian berujar, "Kami berharap pihak-pihak terkait bisa tetap objektif dan tenang, serta tak menafsirkan masalah ini secara berlebihan."
Pada Selasa (29/8), India mengajukan protes keras terhadap Cina usai merilis standar peta baru.
Di peta baru, Cina mengklaim Arunachal Pradesh dan dataran tinggi Aksai Chin sebagai wilayah teritorial resmi mereka.
Cina mengklaim Arunachal Pradesh di Himalaya timur sebagai bagian dari Tibet selatan. Sementara itu, Aksai Chin merupakan dataran tinggi di Himalaya Barat yang disengketakan Cina dan India. Wilayah ini diklaim India tetapi dikuasai Cina.
"Kami menolak klaim tersebut karena tak berdasar. Tindakan sepihak Cina, seperti itu hanya akan mempersulit penyelesaian masalah perbatasan," kata juru bicara Kemlu India, dikutip Reuters.
Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar juga menyatakan penolakan serupa.
"Membuat klaim absurd di wilayah India bukan berarti jadi teritorial Cina," kata Jaishankar.
Peta tersebut tak hanya mencakup wilayah sengketa India-Cina, tetapi bersinggungan dengan wilayah maritim Malaysia di Sabah dan Sarawak.
Kemlu Malaysia pun turut mengajukan protes. Mereka menilai peta tersebut menunjukkan klaim maritim sepihak Cina yang melewati wilayah maritim di Sabah dan Sarawak berdasarkan Peta Baru Malaysia 1979.
"Malaysia secara konsisten menolak klaim kedaulatan, hak kedaulatan, dan wilayah fitur maritim pihak asing mana pun, atau kawasan maritim negara kita berdasarkan peta baru Malaysia," demikian pernyataan Kemlu.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5900 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4628 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2238 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan