Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Tren Kekerasan Dilakukan Anak-anak dan Remaja, Psikolog Ungkap Pemicunya
BERITABALI.COM, BADUNG.
Faktor tempat tinggal atau lingkungan sekitarnya menjadi penyebab tindakan kekerasan yang dilakukan remaja dan anak-anak belakangan ini.
Secara langsung maupun tidak langsung dari melihat atau mendengar tindakan kekerasan tersebut, mereka menganggap melakukan kekerasan adalah hal yang wajar.
Psikolog, Ni Made Pradnya Amadeandra Kusuma, M.Psi. mengatakan anak-anak maupun remaja dapat melakukan tindakan kekerasan karena beberapa faktor mulai, faktor lingkungan, adanya “contoh” atau “model” tindakan kekerasan di sekitar anak.
Misalnya, kata dia, melihat orang dewasa melakukan tindak kekerasan, atau anak menonton film atau berita yang mengandung kekerasan. Hal ini membuat Anak secara langsung maupun tidak langsung melihat atau mendengar tindakan kekerasan tersebut dan tidak disertai dengan penjelasan dari orang dewasa bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan merupakan tindakan yang salah dan dapat merugikan orang lain maupun diri sendiri, sehingga anak menganggap bahwa melakukan kekerasan adalah hal yang “wajar” dan “boleh dilakukan”.
Keterbatasan pemahaman anak mengenai konsekuensi dari tindakan kekerasan yang dilakukan, sehingga orang dewasa di sekitar anak perlu memberikan pemahaman ke anak mengenai apa saja perilaku yang termasuk dalam tindakan serta konsekuensi yang diperoleh anak ketika melakukan tindakan tersebut.
"Iya, karena anak merupakan peniru yang ulung dan apabila tidak disertai dengan pendampingan, anak belajar bahwa kekerasan adalah hal boleh atau wajar untuk dilakukan," jelasnya.
Jika seorang anak atau remaja telah memiliki jiwa kekerasan dapat dbenahi jiwanya seperti misalnya, berada di lingkungan aman dan nyaman ke anak.
"Bisa, dengan memberikan lingkungan aman dan nyaman untuk anak, memberikan dukungan agar anak bisa berhenti melakukan tindakan kekerasan, memberikan pemahaman mengenai konsekuensi atas tindakan kekerasan yang dilakukan," ujarnya.
Dari pengamatannya selama ini kurang lebih ada puluhan orang tua anak maupun pelajar telah melakukan konsultasi terkait dengan timbulnya jiwa kekerasan pada anak maupun remaja per tahunnya.
"Dari pengalaman saya sendiri, lebih dari 10 orang tua bersama anaknya sempat melakukan konsultasi per tahunnya," katanya.
Amadeandra menambahkan, ada beberapa upaya perlu dilakukan baik oleh pihak terkait maupun orang tua, yakni melakukan edukasi sedini mungkin mengenai cara-cara pencegahan tindakan kekerasan, bisa dimulai dari keluarga, sekolah, maupun lembaga yang menanganin tindak-tindak kekerasan.
Memberikan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak, artinya lingkungan yang bebas dari tindakan kekerasan serta memberikan pendampingan ketika anak menonton film atau membaca cerita, memilih tontonan yang sesuai dengan usia anak.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3878 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2409 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2011 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1932 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1793 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun