Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
Penjelasan BMKG Soal Angin Puting Beliung Rusak Rumah Warga Nusa Penida
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar menjelaskan fenomena angin puting beliung yang menerjang dan memporak-porandakan rumah warga Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.
I Gusti Ayu Putu Putri Astiduari, prakirawan cuaca BMKG Wilayah III Denpasar, mengatakan puting beliung merupakan dampak ikutan awan cumulonimbus (Cb) yang biasa tumbuh selama periode masuk puncak musim penghujan.
Sementara, kata dia, Pulau Bali sedang dalam puncak musim penghujan dan memasuki peralihan musim.
"Jadi untuk puting beliung itu sumbernya terjadi ketika memang ada awan cumulonimbus. Karena, sekarang sudah memasuki puncak musim hujan berarti dari segi ketersediaan bahan bakarnya itu dari awan terpenuhi," kata Putri, saat dikonfirmasi Jumat (9/2) sore.
"Jadi memang potensi-potensi terjadi hujan lebat dan dapat disertai petir, karena berasal dari awan cumulonimbus juga termasuk puting beliung bisa lebih besar kemungkinan terjadinya," imbuhnya.
Ia menyebutkan fenomena angin puting beliung itu terjadi di darat dan untuk di laut disebut waterspout, yang merupakan kolom berputar yang terdiri dari uap air dan udara.
"Penamaannya saja berbeda, tapi sebenarnya sama saja karena berasal dari awan cumulonimbus juga," imbuhnya.
Putri menerangkan awan cumulonimbus berawal dari awan cumulus yang tercipta akibat dari udara yang naik dan mengembun di langit.
Awan ini berkembang melalui proses kondensasi. Ketika massa udara labil, karena musim puncak penghujan atau memasuki peralihan musim, awan cumulonimbus yang lebih besar terbentuk.
"Ketika masa udara itu labil. Jadi masa udara yang bisa naik ke atas itu akan membentuk awan yang besar juga. Dari masa angkatnya yang besar bisa terbentuk awan yang besar," jelas Putri.
"Kemungkinan terjadinya awan cumulonimbus juga lebih besar dibandingkan pada saat musim kering walaupun musim kering tetap bisa saja ada hujan. Tapi, kemungkinan terjadi awan yang lebih besar lagi pada saat musim hujan itu lebih cenderung bisa terjadi," terangnya. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3870 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1982 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1841 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1748 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1532 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun