Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Bisnis MICE di Bali Terpukul, Hotel Berbintang Alami Penurunan Okupansi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Bali, yang selama ini menjadi pusat industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), kini mengalami tantangan besar akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Pemangkasan anggaran perjalanan dinas dan penyelenggaraan acara di hotel berbintang menyebabkan sektor ini mengalami penurunan drastis.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, mengungkapkan bahwa bisnis MICE di Bali turun hingga 15% akibat pemangkasan anggaran pemerintah. Hal ini berdampak pada tingkat okupansi hotel berbintang yang semakin merosot.
"Wisatawan yang datang ke Bali masih stabil, sekitar 16-17 ribu per hari. Namun, mayoritas mereka berasal dari segmen menengah ke bawah yang lebih memilih menginap di villa, guest house, atau apartemen. Akibatnya, hotel berbintang kehilangan banyak pelanggan dari sektor MICE," ujar Rai, Kamis (27/3/2025).
Ia juga menambahkan bahwa dampak serupa dirasakan oleh hotel di berbagai kota besar di Indonesia. "Banyak anggota PHRI di daerah lain juga mengeluhkan hal yang sama. Penghapusan anggaran MICE membuat hotel-hotel yang mengandalkan sektor ini mengalami tekanan berat," imbuhnya.
Survei yang dilakukan oleh PHRI bersama Horwath HTL terhadap 717 hotel di 30 provinsi menunjukkan bahwa lebih dari 50% hotel berbintang terdampak oleh kebijakan ini. Sebanyak 42% hotel melaporkan ruang pertemuan mereka tidak terpakai, sementara 18% mengalami penurunan permintaan saat hari kerja.
Berdasarkan survei tersebut, lebih dari 50% responden juga melaporkan pendapatan mereka turun lebih dari 10% pada November 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi semakin memburuk pada Januari 2025, di mana lebih dari 30% hotel mengalami penurunan pendapatan lebih dari 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dampak dari kondisi ini juga berimbas pada tenaga kerja di sektor perhotelan. Sebanyak 88% pengusaha hotel memprediksi akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan mereka. Rai pun mengakui bahwa skenario ini sangat mungkin terjadi di Bali.
"PHK pasti akan terjadi karena tanpa meeting dan acara, banyak hotel kehilangan sumber pendapatan utama mereka. Banyak kementerian dan lembaga pemerintah yang membatalkan acara akibat anggaran yang dipotong, sehingga sektor MICE terpuruk," katanya.
Namun, Rai menjelaskan bahwa PHK masih dalam tahap perencanaan dan belum sepenuhnya dilakukan. "Saat ini kami masih bertahan, tapi jika kondisi terus memburuk, kami terpaksa melakukan efisiensi tenaga kerja, terutama di sektor MICE," tambahnya.
Meski kondisi ini memberikan dampak besar, ia menegaskan bahwa situasinya tidak akan separah masa pandemi COVID-19. "Saat pandemi, sektor pariwisata benar-benar lumpuh karena penerbangan dihentikan dan aktivitas ekonomi terhenti. Sekarang, penerbangan masih berjalan, dan wisatawan masih datang, meskipun dengan preferensi akomodasi yang berbeda," jelasnya.
PHRI berharap pemerintah dapat mengkaji kembali kebijakan efisiensi anggaran ini. Menurut Rai, industri perhotelan telah berupaya mengatasi situasi ini dengan berbagai strategi promosi dan kerja sama dengan wholesaler serta travel agent. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang lebih fleksibel, sektor ini akan terus mengalami tekanan.
"Pemerintah bisa mengurangi jumlah meeting dari tiga hingga empat kali menjadi satu atau dua kali dalam setahun, tetapi jangan dihilangkan sama sekali. Sektor MICE ini bukan hanya menyangkut hotel, tetapi juga UMKM yang bergantung pada event-event di hotel," pungkasnya.
PHRI berharap pemerintah dapat mengkaji kembali kebijakan efisiensi anggaran. Menurut Rai, hotel dan sektor terkait sudah berupaya mengatasi kondisi ini dengan melakukan promosi dan bekerja sama dengan wholesaler serta travel agent. Namun, jika tidak ada perubahan kebijakan, maka sektor ini akan tetap terpukul.
"Mungkin pemerintah bisa mengupayakan agar meeting yang tadinya bisa tiga sampai empat kali, dikurangi menjadi satu atau dua kali. Tapi jangan sampai dihilangkan sama sekali. Karena penurunan bisnis MICE ini juga berdampak ke UMKM yang selama ini bergantung pada event-event di hotel," pungkasnya. (sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5798 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4596 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2557 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2203 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2190 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan