Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 20 Juni 2026
Denpasar Pukau Pawai APEKSI Kediri Lewat Garapan Nawasena
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kota Denpasar kembali memancarkan pesonanya melalui seni dan budaya dalam ajang Pawai Budaya Musyawarah Komisariat Wilayah (Muskomwil) IV APEKSI yang digelar di Kota Kediri pada Kamis (17/7) malam.
Mengusung konsep "Denpasar Nawasena", garapan seni yang dipresentasikan oleh seniman-seniman Denpasar ini berhasil memukau ribuan penonton. Pertunjukan tersebut menghadirkan kolaborasi apik antara gerak tari, musik, kostum, dan narasi visual.
"Denpasar Nawasena" menunjukkan bahwa kebudayaan sejati dapat beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan esensi masa lalu. Konsep ini tidak memisahkan antara tradisi dan modernitas, melainkan menyatukannya dalam harmoni yang hidup.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara, menjelaskan makna dari garapan ini.
"Nawasena" sendiri memiliki arti "masa depan yang cerah" dalam bahasa Sanskerta, yang menggambarkan harapan untuk menciptakan wajah baru Nusantara yang berani, bercahaya, dan berakar kuat.
"Garapan ini memadukan berbagai unsur budaya, seperti tarian, musik, dan kostum, yang menampilkan keunikan dan keindahan budaya Bali," ujarnya.
Raka menambahkan, partisipasi Denpasar dalam Pawai Budaya Muskomwil IV APEKSI bukan hanya ajang unjuk seni, namun juga menjadi momen strategis untuk mempromosikan kebudayaan Bali, meningkatkan kesadaran akan pelestarian budaya lokal, serta memperkuat kerja sama antar kota dalam jaringan APEKSI.
"Dengan mengusung garapan 'Nawasena', Denpasar menunjukkan komitmennya dalam melestarikan dan mempromosikan kebudayaan Bali, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya dalam membangun identitas bangsa," ujarnya.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Denpasar
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun