Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
BMKG Jelaskan Fenomena Pusaran Air di Selat Bali
BERITABALI.COM, BADUNG.
Fenomena pusaran air laut di Selat Bali yang sempat viral usai videonya diunggah di media sosial beberapa waktu lalu, dijelaskan oleh pihak BMKG Wilayah III Denpasar.
Menurut Luh Eka Arisanti, Prakirawan BMKG Wilayah III Denpasar, pusaran air laut terbentuk akibat pertemuan dua arus laut yang berlawanan dan dipengaruhi oleh faktor pasang surut perairan.
“Pusaran semacam ini memang bisa muncul secara alami dan umumnya berukuran kecil,” jelasnya belum lama ini di Tuban, Badung.
Meski tidak terlalu berdampak bagi kapal berukuran sedang hingga besar, fenomena ini tetap berpotensi membahayakan jika ada aktivitas langsung di sekitarnya, seperti berenang atau menyelam.
“Masyarakat diimbau untuk menghindari lokasi yang menunjukkan pusaran air, karena bisa berisiko terseret arus kuat,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan agar para nelayan dan wisatawan laut selalu memperhatikan prakiraan cuaca dan kondisi laut sebelum melakukan aktivitas.
Keselamatan disebut sebagai prioritas utama dalam menghadapi fenomena alam seperti ini, terutama di perairan yang sering dilalui kapal dan menjadi lokasi wisata bahari.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3870 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1945 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1704 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1580 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1519 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun