Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
Upacara Karya Agung di Pura Nagasari Ubud, Wujud Bhakti Krama Banjar Kutuh Setelah 37 Tahun
beritabali/ist/Upacara Karya Agung di Pura Nagasari Ubud, Wujud Bhakti Krama Banjar Kutuh Setelah 37 Tahun.
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Warga Banjar Kutuh, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, menggelar upakara di Pura Nagasari. Mereka tengah mempersiapkan sarana upakara untuk Karya Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan, Mepedudusan Agung, lan Menawa Ratna di pura tersebut.
Sebuah upacara besar, yang biasanya digelar 30 tahun sekali. Namun karena sempat terkendala biaya dan kesibukan krama adat, sehingga upacara ini baru bisa digelar di tahun ke 37, terhitung dari tahun 1988 saat terakhir kali upacara ini digelar. Dalam penantian yang cukup lama itu, tak ayal, krama adat Banjar Kutuh pun menyambutnya dalam penuh suka cita.
"Tujuan upacara ini untuk membangkitkan energi kesucian pura, yang nantinya akan memberikan vibrasi positif pada krama adat dan lingkungan sekitar, yang akan berimbas pada manusianya, kesejahteraan, harmonisasi alam dan meningkatkan serada bhakti krama pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," ujar Kelian Adat Banjar Kutuh, Drs I Ketut Parsa.
Dijelaskan bahwa saat ini, persiapan sarana upakara telah mencapai 70 persen. Persiapan dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk sarana upakara, tetapi juga termasuk renovasi pelinggih hingga pembuatan tombok penyengker pura, dan wantilan yang menghabiskan dana miliaran rupiah.
"Proses persiapan upacara sudah sejak tahun 2021 yang diawali dengan melakukan sejumlah renovasi hingga pembangunan penyengker dan Pura Melanting dengan menghabiskan dana hampir Rp 1 miliar," ujar Parsa.
Penyempurnaan infrastruktur pura terus berlanjut hingga tahun 2025 ini, dimana pemerintah melalui dana desa mengucurkan dana sekitar Rp 350 juta untuk pembuatan tombok penyengker areal jaba pura, serta dana hibah Pemkab Gianyar sekitar Rp 1 miliar untuk pembuatan wantilan.
"Setelah renovasi dan pembangunan kami rasa sudah cukup, akhirnya per Januari 2025 direncanakan upakara ini, dengan persiapan dana sebesar Rp 1,5 miliar sampai 2 miliar. Dana itu berasal dari kas banjar, pepeson wajib ring krama adat yang jumlahnya 337 KK. Anggaran ini juga bersumber dari punia masyarakat, dan danapunia krama tamiu, serta dari pengusaha yang ada di Banjar Kutuh," ujarnya.
Dalam meminimalisir penggunaan anggaran, Parsa bersama tokoh adat setempat pun menyepakati bahwa setiap sarana upakara, dikerjakan langsung oleh krama secara gotong royong.
"Semua perlengkapan upacara dibuat di pura. Sampai hari ini sudah hampir 70 persen lebih sudah selesai," tandasnya.
Tokoh masyarakat setempat pun jeli dalam mengantisipasi anggaran yang tiba-tiba membengkak, yang bisa membuat keuangan adat menjadi kelimpungan. Biasanya pembengkakan anggaran ini diakibatkan hukum pasar, dimana harga kebutuhan upakara biasanya tiba-tiba naik, karena musim upacara keagamaan di Bali.
"Dalam proses persiapan, sudah tentu ada peningkatan harga, terlebih lagi dalam proses persiapan kita melewati sasih kapat dan sasih kelima yang mana masyarakat Hindu Bali banyak menggelar upacara yang menyebabkan lonjakan harga sarana upakara. Dalam mengantisipasi hal tersebut kami sudah persiapkan cadangan dana," jelasnya.
Adapun prosesi ritual keagamaan yang telah berlangsung dalam upacara ini ialah, upacara Ngadegan Bagia Pula Kerti, yang digelar pada 15 Oktober kemarin. Disaksikan oleh Ida Cokorda Sayan, Bendesa Adat Sayan, Kelian Dinas dan Adat se Desa Sayan, hingga anggota DPRD Gianyar, Tjokorda Gede Asmara Putra Sukawati alias Cok Anom.
Sementara pada Sabtu, 18 Oktober, Krama menggelar upacara Mendak Bhatara Pengerajeg Karya di Pura Batan Pule, Desa Mas, Ubud. Adapun prosesi puncak upacara akan berlangsung, Rabu Umanis Julungwangi, 5 November 2025, bertepatan dengan Purnama Kelima, atau hari piodalan di pura tersebut.
Selain persiapan dalam bentuk sarana upakara dan bangunan suci, Krama setempat juga telah mengumpulkan Tirta dari berbagai pura Sad Kahyangan, baik yang ada di Bali hingga ke Pulau Jawa. Terdiri dari Tirta di Pura Lempuyang, Pura Andakasa, Besakih, Batur, Uluwatu, Batukau, Puncak Mangu hingga Pura Mandara Giri Semeru Agung di Jawa Timur.
"Saat menggelar piodalan kecil atau besar tentu ada ritual mendak Tirta. Kalau upacaranya kecil, mendak tirta hanya di Kahyangan Desa. Karena sekarang tingkat utama, walau nistaning utama karena menggunakan satu kebo, sehingga dilakukan mendak Tirta di Sad Kahyangan," ujarnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3745 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1680 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang