Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 7 Mei 2026
Kesuburan Tanah Bali Turun Drastis, Peneliti Unud Dorong Pertanian Organik Terpadu
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Di balik hamparan sawah yang hijau dan indah, Bali kini menghadapi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan pertaniannya.
Penelitian terbaru dari Pusat Unggulan Penelitian Pertanian Organik dan Manajemen Sumber Daya Lahan Universitas Udayana mengungkapkan bahwa tingkat kesuburan tanah di sejumlah wilayah pertanian di Bali mengalami penurunan drastis.
“Kandungan bahan organik tanah yang seharusnya sekitar lima persen, kini hanya tersisa sekitar satu persen saja,” jelas Ketua pusat tersebut, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., Sabtu (18/10/2025) saat dikonfirmasi di Badung.
Kondisi tersebut, kata Prof. Kartini, menjadi alarm bagi masa depan pertanian Bali. Tanah kehilangan banyak unsur penting baik makro maupun mikroorganisme, termasuk cacing tanah yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem di bawah permukaan.
Untuk menekan laju degradasi lahan, tim peneliti Universitas Udayana mendorong penerapan sistem pertanian konservatif, di antaranya penggunaan tanaman penutup tanah, penerapan sistem tumpang sari antara tanaman leguminosa dan non-leguminosa, serta pengelolaan air yang lebih efisien.
Selain pendekatan biologis, inovasi berbasis teknologi juga mulai diterapkan. Pusat riset mengembangkan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geospasial guna memetakan kondisi kesuburan lahan secara real time.
Inovasi unggulan lain yang dikembangkan adalah sistem pertanian organik terpadu SaBiCaITaLa, yang menggabungkan potensi sapi, biogas, cacing tanah, ikan, tanaman organik, dan lebah untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
“Rehabilitasi lahan harus dimulai dari bawah. Kami mendorong penggunaan pupuk organik, mikroorganisme, serta tanaman yang tahan terhadap kondisi lahan terdegradasi,” tambah Prof. Kartini.
Ia menekankan bahwa upaya menjaga keberlanjutan pertanian di Bali tidak bisa hanya dibebankan pada petani. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan. Pemerintah daerah, lembaga riset, swasta, dan masyarakat harus bersinergi dalam kebijakan, edukasi, serta penerapan pertanian berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan program ini nantinya bisa dilihat dari meningkatnya produktivitas lahan, menurunnya penggunaan pupuk kimia, serta kembalinya populasi cacing tanah sebagai indikator tanah sehat.
Selain riset, Universitas Udayana juga menyiapkan generasi muda petani organik melalui pendidikan, pelatihan, dan program magang di bidang pertanian berkelanjutan. Mahasiswa didorong menjadi pelaku aktif dalam transformasi pertanian hijau di Bali.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Tanah yang subur adalah napas bagi ketahanan pangan dan masa depan Bali,” pungkas Kartini.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 673 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 628 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 465 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 452 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik