Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
BPOM Tegaskan Standar Vaksin Nasional, Indonesia Incar Peran Pemain Global
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, bersama Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya, hadir pada hari kedua pertemuan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) ke-26 di Bali, Kamis (30/10/2025).
Dalam forum tersebut, Prof. Taruna menegaskan komitmen Indonesia untuk memastikan ketersediaan vaksin yang aman, berkualitas, dan efektif, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang mampu mandiri dalam produksi vaksin.
Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi titik balik penting bagi Indonesia untuk mempercepat kemampuan produksi vaksin dalam negeri.
“Produksi vaksin harus memiliki garansi keamanan, kualitas, dan efektivitas. Saat pandemi, Indonesia dipimpin Bio Farma bersama Kementerian Kesehatan bekerja keras agar vaksin tersedia. Dari pengalaman itu, kami memastikan setiap produksi vaksin di Indonesia harus terstandar,” ujar Prof. Taruna.
Taruna memaparkan bahwa BPOM saat ini mendampingi sekitar 80 industri farmasi dalam proses pengembangan produk, mulai dari sertifikasi, pemasaran hingga distribusi. Indonesia juga memperkuat konsep ABG: Akademia, Bisnis, Government, yang terbukti mendorong lahirnya industri vaksin baru.
Konsep kolaborasi ini, katanya, akan dibagikan kepada negara-negara anggota DCVMN, terutama di kawasan Afrika, untuk membantu penguatan ekosistem vaksin global.
Dalam sambutannya, Prof. Taruna menegaskan empat fokus utama pemerintah yakni membangun jaringan kuat ketersediaan vaksin, menjamin ekosistem riset hingga distribusi, memastikan keamanan, efikasi, dan kualitas vaksin serta mendukung pendanaan dan keberlanjutan industri vaksin.
Ia mencontohkan tingginya kebutuhan vaksin TBC di Indonesia. WHO merekomendasikan 50 juta dosis untuk tahap awal, sedangkan kapasitas produksi nasional baru mencapai sekitar 5 juta dosis.
“Kebutuhan vaksin Indonesia sangat besar. Dengan 4,8 juta bayi lahir setiap tahun, vaksin dasar saja belum sepenuhnya bisa dipenuhi produksi dalam negeri. Ini peluang besar, termasuk untuk menjadi pemain global,” tegasnya.
Taruna mengingatkan bahwa bila ekosistem vaksin tidak dibangun secara komprehensif, pasar nasional berpotensi diambil alih produsen luar negeri.
Untuk itu, pemerintah memperkuat koordinasi dari sisi hulu hingga hilir, melibatkan BPOM, Bio Farma, Kementerian Kesehatan, hingga pemangku kepentingan lain.
“Dari hulu hingga hilir, kita ingin memastikan industri vaksin Indonesia bisa menjadi pemain utama dunia,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/adv
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5843 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4600 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2566 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2209 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2193 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan