Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
BPOM Tegaskan Standar Vaksin Nasional, Indonesia Incar Peran Pemain Global
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, bersama Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya, hadir pada hari kedua pertemuan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) ke-26 di Bali, Kamis (30/10/2025).
Dalam forum tersebut, Prof. Taruna menegaskan komitmen Indonesia untuk memastikan ketersediaan vaksin yang aman, berkualitas, dan efektif, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang mampu mandiri dalam produksi vaksin.
Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi titik balik penting bagi Indonesia untuk mempercepat kemampuan produksi vaksin dalam negeri.
“Produksi vaksin harus memiliki garansi keamanan, kualitas, dan efektivitas. Saat pandemi, Indonesia dipimpin Bio Farma bersama Kementerian Kesehatan bekerja keras agar vaksin tersedia. Dari pengalaman itu, kami memastikan setiap produksi vaksin di Indonesia harus terstandar,” ujar Prof. Taruna.
Taruna memaparkan bahwa BPOM saat ini mendampingi sekitar 80 industri farmasi dalam proses pengembangan produk, mulai dari sertifikasi, pemasaran hingga distribusi. Indonesia juga memperkuat konsep ABG: Akademia, Bisnis, Government, yang terbukti mendorong lahirnya industri vaksin baru.
Konsep kolaborasi ini, katanya, akan dibagikan kepada negara-negara anggota DCVMN, terutama di kawasan Afrika, untuk membantu penguatan ekosistem vaksin global.
Dalam sambutannya, Prof. Taruna menegaskan empat fokus utama pemerintah yakni membangun jaringan kuat ketersediaan vaksin, menjamin ekosistem riset hingga distribusi, memastikan keamanan, efikasi, dan kualitas vaksin serta mendukung pendanaan dan keberlanjutan industri vaksin.
Ia mencontohkan tingginya kebutuhan vaksin TBC di Indonesia. WHO merekomendasikan 50 juta dosis untuk tahap awal, sedangkan kapasitas produksi nasional baru mencapai sekitar 5 juta dosis.
“Kebutuhan vaksin Indonesia sangat besar. Dengan 4,8 juta bayi lahir setiap tahun, vaksin dasar saja belum sepenuhnya bisa dipenuhi produksi dalam negeri. Ini peluang besar, termasuk untuk menjadi pemain global,” tegasnya.
Taruna mengingatkan bahwa bila ekosistem vaksin tidak dibangun secara komprehensif, pasar nasional berpotensi diambil alih produsen luar negeri.
Untuk itu, pemerintah memperkuat koordinasi dari sisi hulu hingga hilir, melibatkan BPOM, Bio Farma, Kementerian Kesehatan, hingga pemangku kepentingan lain.
“Dari hulu hingga hilir, kita ingin memastikan industri vaksin Indonesia bisa menjadi pemain utama dunia,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/adv
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3870 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1982 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1841 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1748 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1532 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun