Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
Anak Korban Pengeroyokan di Baturiti Alami Trauma hingga Sulit Tidur
BERITABALI.COM, BULELENG.
Anak dari korban pengeroyokan massa di Kecamatan Baturiti, Tabanan, masih mengalami trauma psikis. Selain kehilangan sosok ayah secara mendadak, kedua anak korban juga mengalami gangguan kecemasan hingga sulit tidur.
Untuk membantu pemulihan kondisi psikologis keluarga korban, Dinas Sosial dan P3A Buleleng memberikan pendampingan kepada istri korban serta dua anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMA, pada Senin (27/7).
Psikolog Dinas Sosial dan P3A Buleleng, Tasya Yumika, mengatakan pendampingan dilakukan melalui asesmen psikologis sesuai prosedur. Dari hasil asesmen awal, anak-anak korban masih menunjukkan respons emosional yang cukup berat akibat kehilangan ayah mereka.
Baca juga:
Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan hingga Tewaskan Terduga Pencuri Ayam di Baturiti
Selain karena kehilangan sosok ayah, trauma juga disebabkan karena anak-anak korban sempat melihat video pengeroyokan yang dialami oleh KD di sosial media.
"Anak sedang menghadapi peristiwa kehilangan yang sangat berat. Dari hasil asesmen, masih terlihat adanya trauma psikis, gangguan kecemasan, serta gangguan tidur. Namun, mereka sudah mulai bisa bercerita sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara bertahap," ujar Tasya, saat ditemui di Desa Sidetapa.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak yang masih duduk di bangku SD, pendampingan dilakukan melalui media menggambar agar lebih mudah mengekspresikan perasaan dibandingkan wawancara secara mendalam.
Selain membantu anak mengungkapkan emosinya, pendampingan juga difokuskan untuk membangun kembali rasa aman setelah peristiwa yang dialami.
"Kami lebih fokus melindungi rasa aman anak melalui pendekatan psikologis dan konseling. Yang terpenting saat ini adalah memastikan kondisi emosional mereka berangsur membaik," katanya.
Tasya menjelaskan, pemulihan trauma tidak dapat dilakukan hanya dalam satu kali pertemuan. Pihaknya akan melakukan pendampingan secara berkelanjutan dengan menyesuaikan perkembangan kondisi psikologis anak dan lingkungan tempat mereka tinggal.
Ia mengungkapkan, trauma masih kerap muncul saat anak menjalani aktivitas sehari-hari. Misalnya ketika bangun pada waktu subuh, hendak berangkat ke sekolah, maupun saat mengingat kebiasaan bersama sang ayah.
Baca juga:
Perbekel Sidetapa Minta Polisi Usut Tuntas Tewasnya KD, Keluarga Segera Tempuh Jalur Hukum
"Perasaan kehilangan itu masih sering muncul dalam momen-momen tertentu. Karena itu, pendampingan akan terus dilakukan agar anak mampu kembali menjalani aktivitasnya secara normal," jelasnya.
Sebelumnya, KD, warga Desa Sidetapa, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, pada Jumat (24/7) dini hari. Peristiwa itu diduga dipicu KD kepergok mencuri ayam aduan seorang warga. Hingga kini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan aparat kepolisian Polres Tabanan dan Polsek Baturiti.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3870 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1972 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1750 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1734 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1529 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun