Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Anak Korban Pengeroyokan di Baturiti Alami Trauma hingga Sulit Tidur

Senin, 27 Juli 2026, 13:14 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Anak Korban Pengeroyokan di Baturiti Alami Trauma hingga Sulit Tidur.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Anak dari korban pengeroyokan massa di Kecamatan Baturiti, Tabanan, masih mengalami trauma psikis. Selain kehilangan sosok ayah secara mendadak, kedua anak korban juga mengalami gangguan kecemasan hingga sulit tidur.

Untuk membantu pemulihan kondisi psikologis keluarga korban, Dinas Sosial dan P3A Buleleng memberikan pendampingan kepada istri korban serta dua anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMA, pada Senin (27/7). 

Psikolog Dinas Sosial dan P3A Buleleng, Tasya Yumika, mengatakan pendampingan dilakukan melalui asesmen psikologis sesuai prosedur. Dari hasil asesmen awal, anak-anak korban masih menunjukkan respons emosional yang cukup berat akibat kehilangan ayah mereka.

Selain karena kehilangan sosok ayah, trauma juga disebabkan karena anak-anak korban sempat melihat video pengeroyokan yang dialami oleh KD di sosial media. 

"Anak sedang menghadapi peristiwa kehilangan yang sangat berat. Dari hasil asesmen, masih terlihat adanya trauma psikis, gangguan kecemasan, serta gangguan tidur. Namun, mereka sudah mulai bisa bercerita sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara bertahap," ujar Tasya, saat ditemui di Desa Sidetapa. 

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak yang masih duduk di bangku SD, pendampingan dilakukan melalui media menggambar agar lebih mudah mengekspresikan perasaan dibandingkan wawancara secara mendalam.

Selain membantu anak mengungkapkan emosinya, pendampingan juga difokuskan untuk membangun kembali rasa aman setelah peristiwa yang dialami.

"Kami lebih fokus melindungi rasa aman anak melalui pendekatan psikologis dan konseling. Yang terpenting saat ini adalah memastikan kondisi emosional mereka berangsur membaik," katanya.

Tasya menjelaskan, pemulihan trauma tidak dapat dilakukan hanya dalam satu kali pertemuan. Pihaknya akan melakukan pendampingan secara berkelanjutan dengan menyesuaikan perkembangan kondisi psikologis anak dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Ia mengungkapkan, trauma masih kerap muncul saat anak menjalani aktivitas sehari-hari. Misalnya ketika bangun pada waktu subuh, hendak berangkat ke sekolah, maupun saat mengingat kebiasaan bersama sang ayah.

"Perasaan kehilangan itu masih sering muncul dalam momen-momen tertentu. Karena itu, pendampingan akan terus dilakukan agar anak mampu kembali menjalani aktivitasnya secara normal," jelasnya.

Sebelumnya, KD, warga Desa Sidetapa, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, pada Jumat (24/7) dini hari. Peristiwa itu diduga dipicu KD kepergok mencuri ayam aduan seorang warga. Hingga kini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan aparat kepolisian Polres Tabanan dan Polsek Baturiti.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami