Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
Scared Of Bums Comeback, “Before It Burns” Panaskan Skena Punk Bali
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Setelah tujuh tahun tidak merilis album, unit punk rock asal Denpasar Scared Of Bums (SOB) kembali menyapa publik dengan energi baru melalui acara bertajuk “Before It Burns.”
Perhelatan ini menjadi penanda kebangkitan SOB sekaligus pembuka jalan menuju perilisan album terbaru mereka yang telah lama ditunggu para penggemarnya.
Lebih dari sekadar panggung musik, acara ini dirancang sebagai ruang intim untuk merayakan perjalanan SOB serta memperdengarkan delapan materi baru yang akan menjadi fondasi album keempat mereka.
“Sudah lama kami tidak bikin acara sendiri, dan orang-orang masih terpaku di dua album terakhir. Sekarang saatnya bergerak maju lagi,” ujar Eka Janantha “Bo-Care,” vokalis sekaligus gitaris SOB.
Nova Fuxnbumz menambahkan bahwa konsep “bocoran” lagu menjadi bagian dari kedekatan SOB dengan pendengarnya.
“Dulu album pertama sempat bocor ke warnet, tapi dari situ banyak orang kenal SOB. Kali ini kami sengaja kasih bocoran lebih dulu, biar yang datang jadi saksi pertama,” ungkapnya sambil tertawa.
Judul Before It Burns memuat dua makna. Selain merujuk pada proses duplikasi karya sebelum dirilis, istilah “burn” juga menjadi simbol momen ketika karya benar-benar menyala dan menyentuh publik.
“Sebelum karya ini benar-benar menyala dan dirilis ke publik. Konsep Pesta Sesi Dengar muncul dari keinginan untuk bikin sesuatu yang lebih intim. Bukan sekadar tampil di panggung, tapi menciptakan ruang yang dekat, ngobrol, ngerokok, dan mendengarkan bareng,” jelas mereka.
Dari delapan lagu yang diperkenalkan, SOB masih menampilkan karakter punk yang keras dan meledak-ledak. Namun, sentuhan personal lebih terasa, membawa dimensi emosional baru dalam karya mereka.
“Tema besar album ini tetap tentang amarah, tapi bukan marah yang kosong. Ada kecewa, ada sedih, dan semua itu jadi bahan bakar untuk terus jalan,” kata Eka Paramatha “Poglak” (gitar).
Secara musikal, SOB hadir lebih dinamis dengan berbagai eksperimen nada tanpa meninggalkan identitas khas mereka.
“Kami ubah beberapa nada dasar, menambah referensi baru, tapi tetap menjaga beat dan rasa yang khas SOB,” sambung Nova.
Dalam proses kreatif album barunya, SOB menggandeng sejumlah musisi dan kreator lokal. Utha Kusuma Widhiana terlibat sebagai music director untuk beberapa lagu.
“Utha bantu kami melihat SOB dari sisi yang lebih segar,” tutur Bo-Care.
Kolaborasi juga merambah ke ranah lirik dan melodi bersama Man Angga dan Guna Kupit dari Nostress, yang memberi sentuhan baru pada salah satu lagu.
“Setiap album SOB lahir dari benturan. Kami sering berdebat, tapi itu bagian dari perjalanan. Dari situ justru muncul kehangatan lagi. Kami sadar, SOB bukan cuma band. Ini keluarga," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3870 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1945 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1699 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1569 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1519 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun