Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Belut Jadi Hidangan Bintang di Event Sayan Nguni Ubud
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Event Sayan Nguni kembali digelar di Banjar Mas Sayan, Ubud, pada Sabtu (22/11) hingga Minggu (23/11/2025) dengan menghadirkan kreasi kuliner unik berbahan dasar belut atau lindung. Salah satu yang menarik perhatian ialah demo memasak bertema fushion food oleh Chef I Gede Krisna Wibuwana Putra.
Dalam sesi demo tersebut, Chef Krisna memperkenalkan olahan lindung menjadi lawar khas bernuansa tradisi persawahan. Konsep ini selaras dengan karakter Sayan Nguni sebagai ajang yang mengangkat potensi pertanian lokal Gianyar.
Krisna menjelaskan bahwa lindung dipilih karena menjadi ikon ekosistem sawah. Namun keberadaannya kini makin sulit ditemukan akibat penggunaan obat kimia pertanian yang mengurangi populasi lindung di alam.
“Untungnya, sekarang sudah mulai ada usaha budidaya lindung. Jadi kita bisa tetap melestarikan bahan pangan lokal tanpa mengganggu ekosistem,” ujarnya di sela-sela demo memasak.
Selain lindung, ia juga mengolah bahan-bahan khas Bali seperti nangka dan paku menjadi hidangan fushion yang tetap mempertahankan rasa tradisional. Perpaduan teknik modern dan sentuhan lokal menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.
Perjalanan Chef Krisna tidak terbangun secara instan. Lahir di Denpasar sebagai anak kelima dari enam bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan sejak kecil hobi memancing serta memasak. Hasil pancingannya sering langsung ia olah di tepi sungai, sebuah kebiasaan yang membentuk kecintaannya pada cita rasa.
Setelah menempuh pendidikan di International School Hotel, ia mulai meniti karier lewat berbagai perlombaan memasak hingga dipercaya menjadi konsultan menu hotel. Dorongan berwirausaha kemudian membawanya mendirikan Warung Diteba pada tahun 2017 yang dikenal sebagai pelopor menu samsam guling dan cumi suna cekuh.
Keterlibatannya dalam Sayan Nguni menjadi refleksi bahwa kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga pelestarian budaya serta pertanian lokal.
“Melalui makanan, kita bisa bercerita tentang tanah kita, tradisi kita, dan masa depan pangan Bali,” ucap Krisna.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli