Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Denpasar Tetapkan 1.000 Hektare Lahan Abadi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kenaikan harga tanah yang terus terjadi setiap tahun menjadi pemicu utama menyempitnya lahan pertanian di wilayah perkotaan, termasuk di Kota Denpasar.
Alih fungsi lahan kini semakin sulit dibendung seiring tingginya tekanan ekonomi dan perkembangan kawasan perkotaan.
Data Dinas Pertanian Kota Denpasar mencatat, dalam empat tahun terakhir luas lahan pertanian mengalami penurunan signifikan. Pada 2021 tercatat masih 1.915 hektare, kemudian turun menjadi 1.871 hektare pada 2022, kembali menyusut menjadi 1.680 hektare pada 2023, dan pada 2024 tersisa 1.658 hektare.
Baca juga:
Tertinggi Alih Fungsi Lahan Sawah di Bali, Denpasar Kehilangan 38 Persen Sawah dalam Enam Tahun
Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar, Anak Agung Gde Bayu Brahmasta, mengungkapkan bahwa tantangan sektor pertanian di wilayah perkotaan semakin kompleks.
Penurunan minat generasi muda terhadap dunia pertanian menjadi salah satu faktor utama. Banyak lahan tidak lagi digarap dan akhirnya disewakan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih cepat.
Baca juga:
Uma Palak Festival 2025, Pertamina Dampingi Petani Bali Jaga Subak dari Alih Fungsi Lahan
"Adanya dampak perubahan iklim dan bencana serta tekanan ekonomi juga memberi pengaruh terhadap pertanian kian ditinggalkan. Termsuk harga lahan di Kota Denpasar terus mengalami kenaikan baik itu menyewakan atau dijual," beber Brahmasta, Rabu (03/12).
Ia juga memaparkan bahwa dari hasil produksi padi, pendapatan kotor petani saat ini berkisar Rp300.000 hingga Rp400.000 per are setiap empat bulan atau setara Rp600.000 hingga Rp800.000 per are per tahun dengan dua kali panen.
Jumlah tersebut dinilai masih kalah jauh jika dibandingkan dengan nilai sewa lahan nonpertanian yang bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per are per tahun, tergantung lokasi dan akses jalan.
"Tentu kalau melihat perbandingan tersebut sangat jauh terpaut," katanya.
Untuk menekan laju alih fungsi lahan, Pemerintah Kota Denpasar menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya dengan meningkatkan pendapatan petani melalui penekanan biaya produksi serta mendorong diversifikasi usaha pertanian.
"Selain padi ada juga tanaman hortikultura yang diberikan bantuan dari pupuk sampai traktor, sehingga menurunkan biaya produksi,” katanya.
Selain bantuan sarana produksi, kebijakan pembebasan pajak bagi lahan pertanian juga telah dituangkan dalam peraturan daerah. Para petani turut mendapatkan jaminan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan yang preminya ditanggung Pemkot Denpasar.
"Pemerintah juga menetapkan lahan abadi seluas 1.000 hektare yang fungsinya tidak bisa diganti tetap untuk pertanian," ungkapnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/maw
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5893 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4622 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2590 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2232 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2207 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan