Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Denpasar Tetapkan 1.000 Hektare Lahan Abadi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kenaikan harga tanah yang terus terjadi setiap tahun menjadi pemicu utama menyempitnya lahan pertanian di wilayah perkotaan, termasuk di Kota Denpasar.
Alih fungsi lahan kini semakin sulit dibendung seiring tingginya tekanan ekonomi dan perkembangan kawasan perkotaan.
Data Dinas Pertanian Kota Denpasar mencatat, dalam empat tahun terakhir luas lahan pertanian mengalami penurunan signifikan. Pada 2021 tercatat masih 1.915 hektare, kemudian turun menjadi 1.871 hektare pada 2022, kembali menyusut menjadi 1.680 hektare pada 2023, dan pada 2024 tersisa 1.658 hektare.
Baca juga:
Tertinggi Alih Fungsi Lahan Sawah di Bali, Denpasar Kehilangan 38 Persen Sawah dalam Enam Tahun
Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar, Anak Agung Gde Bayu Brahmasta, mengungkapkan bahwa tantangan sektor pertanian di wilayah perkotaan semakin kompleks.
Penurunan minat generasi muda terhadap dunia pertanian menjadi salah satu faktor utama. Banyak lahan tidak lagi digarap dan akhirnya disewakan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih cepat.
Baca juga:
Uma Palak Festival 2025, Pertamina Dampingi Petani Bali Jaga Subak dari Alih Fungsi Lahan
"Adanya dampak perubahan iklim dan bencana serta tekanan ekonomi juga memberi pengaruh terhadap pertanian kian ditinggalkan. Termsuk harga lahan di Kota Denpasar terus mengalami kenaikan baik itu menyewakan atau dijual," beber Brahmasta, Rabu (03/12).
Ia juga memaparkan bahwa dari hasil produksi padi, pendapatan kotor petani saat ini berkisar Rp300.000 hingga Rp400.000 per are setiap empat bulan atau setara Rp600.000 hingga Rp800.000 per are per tahun dengan dua kali panen.
Jumlah tersebut dinilai masih kalah jauh jika dibandingkan dengan nilai sewa lahan nonpertanian yang bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per are per tahun, tergantung lokasi dan akses jalan.
"Tentu kalau melihat perbandingan tersebut sangat jauh terpaut," katanya.
Untuk menekan laju alih fungsi lahan, Pemerintah Kota Denpasar menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya dengan meningkatkan pendapatan petani melalui penekanan biaya produksi serta mendorong diversifikasi usaha pertanian.
"Selain padi ada juga tanaman hortikultura yang diberikan bantuan dari pupuk sampai traktor, sehingga menurunkan biaya produksi,” katanya.
Selain bantuan sarana produksi, kebijakan pembebasan pajak bagi lahan pertanian juga telah dituangkan dalam peraturan daerah. Para petani turut mendapatkan jaminan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan yang preminya ditanggung Pemkot Denpasar.
"Pemerintah juga menetapkan lahan abadi seluas 1.000 hektare yang fungsinya tidak bisa diganti tetap untuk pertanian," ungkapnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/maw
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3759 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1695 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang