Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Shortcut Baru Mengwitani–Buleleng, Koster Siapkan Bus Listrik Denpasar–Singaraja

Rabu, 7 Januari 2026, 22:03 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Shortcut Baru MengwitaniBuleleng, Koster Siapkan Bus Listrik DenpasarSingaraja.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Pembangunan jalan baru batas Kota Singaraja–Mengwitani (shortcut) kembali dilanjutkan. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan proyek ini bukan sekadar memotong jarak tempuh, tetapi membuka pola mobilitas baru bagi masyarakat Bali Utara, termasuk rencana layanan bus listrik Denpasar–Singaraja agar warga Buleleng tak perlu lagi tinggal kos di Denpasar.

Peletakan batu pertama pembangunan shortcut titik 9–10 dilakukan pada Rabu (7/1) di Banjar Dinas Pererenan Bunut, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Titik ini menjadi lanjutan dari sejumlah ruas shortcut yang sebelumnya telah rampung dikerjakan.

Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Asep Syarip Hidayat, menjelaskan pembangunan jalan sepanjang 3,9 kilometer ini terbagi dalam tiga paket pekerjaan. Paket pertama dan kedua dikerjakan bersamaan, sementara paket ketiga masih dalam proses persiapan tender.

Ia memaparkan, paket pertama dikerjakan oleh Waskita–Sinar Bali KSO dengan nilai kontrak lebih dari Rp290 miliar dan waktu pengerjaan 750 hari. Panjang jalan yang dibangun mencapai 1,525 kilometer, dilengkapi tiga jembatan dengan total panjang 593 meter. Paket kedua digarap Nindya–TJS KSO dengan nilai kontrak lebih dari Rp187 miliar, panjang jalan 1,100 kilometer, serta dua jembatan sepanjang 220 meter.

"Untuk paket ketiga, masih persiapan tender. Panjang jalannya mencapai 1,275 kilometer, dengan nilai kontrak Rp189 miliar lebih. Anggaran yang digunakan untuk membangun jalan titik 9-10 ini bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tahun anggaran 2025-2027," jelasnya.

Menurut Hidayat, pembangunan shortcut ini bertujuan meningkatkan konektivitas jalan nasional di Bali. Jalan baru ini mampu memangkas jumlah tikungan dari 58 titik menjadi 21 titik, mempercepat waktu tempuh dari 21,22 menit menjadi 8,61 menit, serta menurunkan kelandaian jalan dari 27 persen menjadi 10 persen. Selain itu, tingkat kecelakaan dapat ditekan dan emisi karbon kendaraan berkurang hingga 10 persen.

Gubernur Bali Wayan Koster menargetkan seluruh ruas shortcut Singaraja–Mengwitani rampung pada 2030, seiring berakhirnya masa jabatannya.

"Titik 3-4, 5-6, 7-8 sudah selesai dikerjakan. Sekarang dilanjutkan 9-10. Sementara untuk titik 11-12, dan 1-2 harus berlanjut karena kebutuhannya mendesak, untuk mengatasi layanan transportasi penumpang, logistik dan pariwisata. Astungkara kementerian sudah menyetujui," katanya.

Untuk pembebasan lahan di titik 11–12 Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Koster menyebut kebutuhan anggaran diperkirakan lebih dari Rp80 miliar.

"Kadis PU sudah menghitung. Kalau butuh Rp 80 Miliar, bisa dianggarkan di APBD perubahan provinsi 50 persen, di induk 2027 50 persen. Sehingga pembangunannya nanti bisa langsung dikerjakan kementerian di akhir 2027. Untuk titik 1-2 targetnya juga selesai berbarengan dengan berakhirnya masa jabatan saya," tegasnya.

Angle baru dari proyek shortcut ini adalah dampaknya pada pola hidup masyarakat. Koster menegaskan, jika seluruh titik jalan rampung, Pemprov Bali akan menyiapkan layanan transportasi bus Denpasar–Singaraja yang beroperasi dari pagi hingga malam.

"Jadi warga Buleleng yang kerja di Denpasar, tidak perlu ngekos. Bisa tetap tinggal di Buleleng. September ini kami dapat bantuan bus listrik dari Korea 10 unit, itu akan kami gunakan untuk transportasi Denpasar-Buleleng. Jadi shortcut ini cukup membantu aktivitas masyarakat Buleleng," terangnya.

Selain memudahkan mobilitas pekerja, jalan shortcut juga membuka peluang ekonomi baru bagi Bali Utara. Bus pariwisata dari Jawa menuju Bali nantinya dapat langsung masuk ke Buleleng tanpa harus melintas Jembrana.

"Bus dari Jawa ke Bali tidak lagi lewat Jembrana. Jadi ada berkahnya, wisatawan itu bisa menginap di hotel Buleleng. Apalagi ada Turyapada tower, akan ramai lagi. Buleleng kebagian rezeki ekonomi yang lumayan," ungkapnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami