Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Transaksi Bali Nusra Great Sale 2025 Melejit, APPBI Ingatkan Tantangan Triwulan II

Sabtu, 17 Januari 2026, 17:57 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok APBBI Bali/Transaksi Bali Nusra Great Sale 2025 Melejit, APPBI Ingatkan Tantangan Triwulan II.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Bali Nusra Great Sale 2025 mencatatkan capaian signifikan dan melampaui target dibandingkan tahun sebelumnya. 

Program yang melibatkan pusat-pusat perbelanjaan di Bali dan wilayah Nusa Tenggara atau Nusra ini dinilai mampu mendorong pergerakan ekonomi daerah secara nyata.

Ketua DPD Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Bali, Zenzen Guisi Halmis, menyebutkan adanya lonjakan tajam baik dari sisi penukaran maupun nilai transaksi selama periode pelaksanaan program.

"Luar biasa event Bali Nusra Great Sale 2025 mencatatkan kenaikan hingga 100% untuk penukaran dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi transaksi, nilai yang tercatat khusus melalui BCA saja mencapai Rp222 Miliar untuk periode pertengahan Desember hingga 15 Januari. Jika digabungkan dengan bank-bank lain, tentu angkanya jauh lebih tinggi lagi," ungkapnya, Jumat (17/1/2026) di Denpasar.

Tidak hanya terfokus di Bali, cakupan wilayah Bali Nusra Great Sale 2025 juga diperluas hingga ke luar Pulau Dewata. Hal ini dilakukan untuk memperluas dampak ekonomi dan meningkatkan kunjungan ke pusat perbelanjaan.

"Tentu tidak. Tahun ini wilayahnya diperluas hingga ke Lombok dan Kupang yang turut andil dalam program kami. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan traffic di seluruh mal anggota kami dan menggerakkan ekonomi di Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur," katanya.

Sementara itu, Ketua DPP APPBI, Alfons Widjaja, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari Indonesia Great Sale yang diinisiasi pemerintah. Ia mengakui, kondisi industri ritel sempat menghadapi tantangan pada 2025 akibat tekanan daya beli masyarakat dan pengetatan anggaran.

"Program ini adalah bagian dari Indonesia Great Sale yang diinisiasi oleh pemerintah. Kami mengakui bahwa pada Ramadan dan Idul Fitri 2025 lalu, hasil yang dicapai kurang maksimal karena daya beli masyarakat kelas menengah bawah yang terganggu sejak 2024, ditambah adanya pengetatan anggaran pemerintah. Oleh karena itu, Triwulan IV 2025 menjadi momentum krusial bagi kami untuk menutup tahun dengan target penjualan semaksimal mungkin," jelasnya.

Alfons juga menyoroti pentingnya tahun 2026 sebagai periode penentuan bagi industri ritel, khususnya dalam menjaga stabilitas penjualan saat memasuki masa sepi.

"Triwulan 1 2026 akan sangat penting karena ada penumpukan momentum, mulai dari kenaikan upah minimum, Imlek, hingga Ramadan dan Idul Fitri yang datang lebih awal. Namun, yang perlu diwaspadai adalah low season yang panjang di Triwulan II dan III tahun 2026. Tantangan terbesar kami tahun ini adalah menjaga agar masa sepi tersebut tidak menjadi terlalu 'dalam' bagi penjualan ritel," jelasnya.

Dukungan pemerintah juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan sektor ritel nasional.

"Kami sangat mengapresiasi dukungan Kementerian Perdagangan. Kehadiran Pak Dirjen di sini membuktikan bahwa pemerintah terus memperhatikan industri ritel, tidak hanya saat ada kesulitan, tetapi juga dalam mendorong strategi penjualan. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut agar ekonomi tetap bergerak," katanya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Iqbal Shoffan Shofwan, turut menyoroti tantangan ekonomi pada 2026, termasuk potensi masa kelesuan yang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk 2026, pola serupa akan kembali diterapkan dengan melibatkan pemerintah daerah dan berbagai asosiasi guna mendorong produk lokal dan UMKM.

"Nah, kayaknya nih window-nya bersama di tahun 2026 ini kita copy paste di tahun 2025 itu sambil kita perbanyak lagi. Tadi saya sudah ngobrol sempat kita encourage pemerintah daerah yang melaksanakan hari ulang tahun pemerintah daerahnya kita kerjasamakan dengan APBI, HIPINDO, Aprindo, Iwapi, dan HIPMI untuk meng-encourage produk-produk UMKM. Dan saya pikir kita akan jalani itu semuanya selama kita kompak seharusnya sih enggak ada masalah ya dengan perekonomian kita," jelasnya.

Iqbal juga menyoroti besarnya nilai transaksi Bali Nusra Great Sale yang dinilai luar biasa jika dibandingkan jumlah penduduk Bali.

"Jadi saya pikir begitu. Selamat capaiannya luar biasa. Tadi Ibu Ketua sudah menyampaikan di tahun lalu transaksinya itu cuman 121 miliar ya, Bu ya. Sekarang ini cuman dari BCA saja sudah 220 miliar, belum dari transaksi secara konvensional. Kata Pak Ketua tadi ya, setidaknya itu dikalikan 3 atau empat. Kalau dikalikan 3 saja sudah Rp600 miliar. Wow, luar biasa. Terima kasih atas Bali Nusa Great Sell ini mengingat Bali itu penduduknya cuman 4 jutaan," ungkapnya.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa daya beli masyarakat Bali masih terjaga.

"Jadi kalau misalnya kita bagi itu kalau Rp600 miliar ke 4 juta artinya per kapita Bali itu sudah ngeluarin duit berapa. Jadi kayaknya tuh enggak ada masalah dengan purchasing power di Bali ini. Jadi ini sinyal-sinyal positif juga buat kita semua. Saya pikir demikian kita lanjutkan di tahun-tahun berikutnya. Semoga di tahun 2026 ini kita semakin kuat dan semakin berjaya," tutupnya. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami