Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Video Kumuh Menjadi Asri: Imajinasi Perubahan Sosial di Era AI

Senin, 19 Januari 2026, 11:18 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Video Kumuh Menjadi Asri: Imajinasi Perubahan Sosial di Era AI.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Kini, video hasil kreativitas akal imitasi (artificial intelligence/AI) semakin marak bermunculan di beranda media sosial. Salah satunya adalah video yang menampilkan sebuah kawasan yang awalnya tidak terurus, penuh sampah, dan terkesan kumuh, kemudian berubah menjadi lingkungan yang bersih, nyaman, dan asri. 

Video tersebut menggambarkan sekelompok orang yang bekerja sama secara gotong royong membersihkan kawasan, membangun ulang lingkungan, hingga akhirnya menjadikannya layak huni dan bahkan berpotensi sebagai kawasan wisata. Video ini kerap diakhiri dengan sosok seorang bapak tua yang tersenyum sambil berjalan menikmati kawasan yang telah mengalami perubahan.

Meskipun merupakan hasil rekayasa AI, video ini mendapatkan banyak tanggapan positif dari netizen. Banyak yang menilai bahwa video tersebut menghadirkan ide cemerlang tentang kemungkinan perubahan kawasan-kawasan yang selama ini terbengkalai. Video ini juga memunculkan harapan bahwa kondisi lingkungan dapat berubah apabila dikelola oleh pihak yang tepat. 

Selain itu, tidak sedikit netizen yang menyoroti kuatnya nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang ditampilkan, bahkan menilai bahwa video tersebut menegaskan bahwa masyarakat yang bersatu mampu menciptakan perubahan positif.

Dampak dari video ini tidak hanya berhenti pada apresiasi visual, tetapi juga mampu menggugah emosi dan rasa rindu akan keindahan lingkungan. Video AI tersebut berhasil mengonstruksi visual, suara, dan alur perubahan yang bersifat emosional. 

Dalam perspektif affective theory atau teori emosi dalam ilmu komunikasi, perubahan sosial sering kali dipicu oleh dorongan emosional, bukan semata-mata oleh logika rasional. Video ini menyusun cerita mikro yang sangat dekat dengan realitas sosial di Indonesia, sehingga terasa personal dan relevan bagi penonton. 

Hal ini tercermin dari tingginya jumlah penonton serta tingkat interaksi (engagement) yang dihasilkan. Transformasi kawasan kumuh menjadi asri tersebut mengusik perasaan dan kesadaran netizen, serta mendorong refleksi mengenai pentingnya penataan kawasan-kawasan yang selama ini terabaikan.

Lebih jauh, realitas yang dikemas melalui video AI ini memberikan sudut pandang baru dalam memaknai kawasan yang tidak terurus. Video tersebut menyajikan realitas alternatif dengan menghadirkan wajah dan kondisi sosial yang bersifat simbolik. 

Dalam kerangka teori konstruksi realitas sosial, media—termasuk video AI—mampu membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas. Video ini mengguncang persepsi netizen dengan menampilkan simulasi kondisi sebelum dan sesudah penataan, sehingga membuka kemungkinan imajinasi sosial tentang perubahan yang dapat diwujudkan.

Video AI ini juga berhasil memberikan perhatian pada isu yang selama ini kurang mendapat sorotan publik, yaitu penataan kawasan kumuh dan terbengkalai. Visualisasi masalah yang jarang dibahas tersebut berpotensi menjadi bentuk advokasi sosial dan cikal bakal kampanye perubahan. 

Melalui media sosial, video AI ini berfungsi sebagai alat agenda setting, yakni mengarahkan perhatian netizen pada isu yang sebelumnya dianggap tidak penting atau tidak relevan. Tingginya engagement yang dihasilkan turut membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih layak, nyaman, dan asri. Bahkan, secara tidak langsung, video ini berpotensi mendorong tekanan sosial kepada pemerintah dan pembuat kebijakan untuk lebih memprioritaskan penataan kawasan kumuh.

Namun demikian, apresiasi utama tidak seharusnya ditujukan kepada media sosial ataupun teknologi AI semata, melainkan kepada manusia di balik akun yang menciptakan video tersebut. Kekuatan utama video AI tidak terletak pada teknologinya, melainkan pada manusia yang memiliki kesadaran sosial, ide, dan kreativitas. AI tidak menciptakan gagasan perubahan sosial; manusialah yang melahirkan ide, menentukan isu yang diangkat, serta merancang perintah (prompt) yang mengarahkan AI dalam proses penciptaan visual.

AI tidak dapat diposisikan sebagai agen perubahan sosial, melainkan sebagai medium yang dapat meningkatkan efektivitas gerakan atau kampanye perubahan. AI merupakan bagian dari perkembangan medium komunikasi, sebagaimana buku, film, atau media lainnya. Bukan buku yang menciptakan revolusi, melainkan penulisnya; bukan film yang membangkitkan kesadaran, melainkan sutradaranya; dan bukan AI yang menciptakan perubahan sosial, melainkan manusia yang menggunakannya.

AI mampu menghasilkan gambar, suara, dan narasi. Namun arah, makna, dan nilai dari semua itu adalah hasil pemikiran manusia. Video AI yang dibahas mungkin mampu menggugah kesadaran sosial, tetapi kekuatan sejatinya terletak pada kesadaran dan keberanian manusia di baliknya. Oleh karena itu, AI perlu digunakan dengan akal sehat, tanggung jawab etis, dan tujuan yang berpihak pada kebaikan bersama.

Penulis

Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/opn



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami