Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Muncul Pelabelan Sosial, Parta: Hindari Istilah Nas Berit hingga Dauh Tukad
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Munculnya berbagai istilah pelabelan berdasarkan ciri tertentu yang sempat berkembang di Bali mendapat perhatian Anggota DPR/MPR RI, Nyoman Parta. Istilah Nas Berit, Dauh Tukad maupun Dangin Tukad kian berkembang di tengah masyarakat.
Ia menilai penggunaan istilah semacam itu sebaiknya dihindari karena tidak memberi manfaat bagi kehidupan sosial dan persatuan masyarakat di Bali.
“Saya kira perdebatan atau penyebutan yang berpotensi menimbulkan jarak sosial itu tidak produktif dalam merajut kebangsaan,” ujar Parta usai kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Wantilan Pura Dalem Sukawati, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, Bali sejak dulu dikenal sebagai daerah terbuka yang menerima siapa saja untuk datang, bekerja, maupun berkarya. Namun demikian, setiap daerah tetap memiliki adat, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang patut dihormati bersama.
“Siapa pun yang datang ke Bali mari sama-sama menjaga budaya, menghormati tradisi, dan merawat keharmonisan yang sudah ada,” imbuhnya.
Ia menekankan bahwa semangat kebangsaan Indonesia dibangun di atas keberagaman budaya. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk saling menghargai tanpa menggunakan istilah yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di ruang sosial.
Parta juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang, untuk turut menjaga suasana kondusif di Bali. Kebersamaan dan tanggung jawab bersama dinilai menjadi kunci utama menjaga harmoni sosial di Pulau Dewata.
“Apapun latar belakang kita, mari bersama menjaga Bali agar tetap nyaman, damai, dan harmonis,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Parta juga menyampaikan materi empat pilar kebangsaan kepada generasi muda Desa Sukawati dengan pendekatan yang lebih santai dan interaktif. Edukasi dilakukan melalui permainan, cerita, serta dialog agar nilai kebangsaan lebih mudah dipahami.
“Kami mencoba pendekatan yang ringan dan menarik supaya pesan kebangsaan bisa diterima dengan baik,” tutup dia.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5900 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4628 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2238 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan