Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Muncul Pelabelan Sosial, Parta: Hindari Istilah Nas Berit hingga Dauh Tukad
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Munculnya berbagai istilah pelabelan berdasarkan ciri tertentu yang sempat berkembang di Bali mendapat perhatian Anggota DPR/MPR RI, Nyoman Parta. Istilah Nas Berit, Dauh Tukad maupun Dangin Tukad kian berkembang di tengah masyarakat.
Ia menilai penggunaan istilah semacam itu sebaiknya dihindari karena tidak memberi manfaat bagi kehidupan sosial dan persatuan masyarakat di Bali.
“Saya kira perdebatan atau penyebutan yang berpotensi menimbulkan jarak sosial itu tidak produktif dalam merajut kebangsaan,” ujar Parta usai kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Wantilan Pura Dalem Sukawati, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, Bali sejak dulu dikenal sebagai daerah terbuka yang menerima siapa saja untuk datang, bekerja, maupun berkarya. Namun demikian, setiap daerah tetap memiliki adat, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang patut dihormati bersama.
“Siapa pun yang datang ke Bali mari sama-sama menjaga budaya, menghormati tradisi, dan merawat keharmonisan yang sudah ada,” imbuhnya.
Ia menekankan bahwa semangat kebangsaan Indonesia dibangun di atas keberagaman budaya. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk saling menghargai tanpa menggunakan istilah yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di ruang sosial.
Parta juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang, untuk turut menjaga suasana kondusif di Bali. Kebersamaan dan tanggung jawab bersama dinilai menjadi kunci utama menjaga harmoni sosial di Pulau Dewata.
“Apapun latar belakang kita, mari bersama menjaga Bali agar tetap nyaman, damai, dan harmonis,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Parta juga menyampaikan materi empat pilar kebangsaan kepada generasi muda Desa Sukawati dengan pendekatan yang lebih santai dan interaktif. Edukasi dilakukan melalui permainan, cerita, serta dialog agar nilai kebangsaan lebih mudah dipahami.
“Kami mencoba pendekatan yang ringan dan menarik supaya pesan kebangsaan bisa diterima dengan baik,” tutup dia.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3805 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1747 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang