Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Siswa SD di Kota Singaraja Enggan Sekolah Sejak 2024, DPRD Turun Tangan

Rabu, 25 Februari 2026, 18:49 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Siswa SD di Kota Singaraja Enggan Sekolah Sejak 2024, DPRD Turun Tangan.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Kasus siswa enggan bersekolah masih terjadi di Kabupaten Buleleng. Ironisnya, peristiwa ini terjadi di wilayah perkotaan, tepatnya di SDN 2 Banyuning, Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.

Kasus tersebut mendapat sorotan dari Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya. Seorang siswa di SDN 2 Banyuning dilaporkan tidak masuk sekolah sejak Oktober 2024, saat masih duduk di bangku kelas II. Berbagai upaya pendekatan telah dilakukan pihak sekolah, namun belum membuahkan hasil.

Kepala SDN 2 Banyuning, Putu Sri Sadwity, pada Rabu (25/2/2026) mengatakan, pihak sekolah langsung melakukan kunjungan ke rumah siswa setelah satu bulan yang bersangkutan tidak hadir ke sekolah.

"Kunjungan itu tidak membuahkan hasil karena anak tersebut takut keluar rumah dan bicara seadanya," kata Sadwity.

Memasuki tahun 2025, pihak sekolah kembali berkoordinasi dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Buleleng untuk mendatangkan tenaga psikolog.

"Kami datang dengan psikolog, untuk bertanya langsung dengan anak tersebut sekaligus membujuk agar mau sekolah," ungkapnya.

Namun dari hasil kunjungan bersama psikolog, pihak sekolah belum menemukan penyebab pasti siswa tersebut enggan bersekolah. Hingga kini, siswa tersebut masih terdata sebagai peserta didik di SDN 2 Banyuning, namun berpotensi mengalami putus sekolah atau drop out (DO).

"Kami tidak bisa menemukan penyebabnya dengan satu kali cara. Perlu kegiatan lanjutan, dengan melibatkan orangtua siswa. Saat itu Dinas P2KBP3A sudah sempat bersurat ke orangtua siswa agar datang untuk diberikan edukasi dan jalan keluar untuk menangani anak tersebut. Namun orangtuanya tidak hadir karena kesibukan. Jadi terputus sampai disana," jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya mengaku prihatin dengan kasus tersebut, terlebih terjadi di wilayah perkotaan. Ia bahkan turun langsung meninjau kondisi siswa yang bersangkutan.

"Di perkotaan masih ada kasus seperti ini. Saya khawatir kasus seperti ini juga terjadi di sekolah-sekolah lain," kata politisi Partai Golkar tersebut.

Dhukajaya menilai siswa tersebut memerlukan penanganan khusus dan mendorong instansi terkait untuk melakukan pendekatan jemput bola secara humanis.

"Harus dicari tau, apakah karena faktor pribadi, orangtua, ekonomi atau lingkungan sekolahnya," jelasnya.

Ia juga mendorong sekolah-sekolah di Buleleng untuk lebih aktif menggelar kegiatan ekstrakurikuler serta menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman bagi siswa.

"Faktor siswa enggan bersekolah itu banyak. Bisa karena gurunya, atau lingkungan teman di sekolah. Maka dari itu perhatian, pendekatan dengan anak seperti ini harus lebih intens dan humanis. Apalagi di perkotaan berpendidikan itu sangat penting, jangan sampai seperti fenomena gunung es," tandasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami