Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bali Kejar 3.000 MW di 2031, Koster: Listrik dari Jawa Hanya Cadangan

Jumat, 27 Maret 2026, 12:22 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Humas Pemprov Bali/Bali Kejar 3.000 MW di 2031, Koster: Listrik dari Jawa Hanya Cadangan.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Gubernur Bali Wayan Koster menargetkan kemandirian energi Pulau Dewata dengan kapasitas listrik mencapai 3.000 MW pada tahun 2031. Dengan capaian tersebut, suplai listrik dari Jawa hanya akan difungsikan sebagai cadangan.

Pernyataan itu disampaikan dalam rapat paripurna DPRD Bali memperingati setahun kepemimpinan Koster-Giri, Rabu (25/3/2026).
Dalam pidatonya, Koster mengungkapkan saat ini kapasitas listrik Bali mencapai 1.450 MW, namun masih bergantung pada pasokan sebesar 380 MW dari Paiton, Jawa Timur melalui kabel bawah laut.

Sebagai wilayah kepulauan, Bali dinilai harus segera mandiri energi guna menghindari risiko gangguan listrik yang dapat berdampak pada sektor pariwisata. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah bersama PT PLN (Persero) dan Kementerian ESDM telah menyiapkan pembangunan sejumlah pembangkit listrik secara bertahap dalam kebijakan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Pembangunan dimulai di Pesanggaran dengan kapasitas 200 MW pada 2026-2027, dilanjutkan di perbatasan Denpasar-Gianyar sebesar 450 MW pada 2028-2029, serta di Celukan Bawang dengan kapasitas 2x450 MW pada periode 2030-2031. Secara keseluruhan, tambahan kapasitas listrik mencapai 1.550 MW dengan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan berbasis gas tanpa batu bara.

Dengan total kapasitas 3.000 MW pada 2031, sistem kelistrikan Bali akan berdiri mandiri, sementara suplai dari Jawa hanya digunakan sebagai (reset sharing) cadangan jika terjadi gangguan pembangkit di Bali. Koster menegaskan, ketergantungan terhadap kabel bawah laut sangat berisiko karena rentan terhadap arus laut maupun kecelakaan yang dapat menyebabkan pemadaman total di Bali.

"Kemandirian ini penting karena saluran kabel bawah laut sangat rawan terhadap arus kuat maupun kecelakaan yang bisa membuat listrik Bali padam total dan merusak citra pariwisata," katanya.

Selain pembangunan pembangkit, Pemprov Bali juga mendorong percepatan pemanfaatan energi bersih melalui program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Program ini dijalankan sesuai regulasi daerah dan melibatkan PT Icon Plus sebagai pelaksana pemasangan dan pemeliharaan panel surya.

Menariknya, skema yang diterapkan memungkinkan masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya awal karena seluruh pembiayaan, pemasangan, hingga perawatan ditanggung oleh PLN. Penggunaan PLTS Atap disebut mampu menghemat biaya listrik hingga 30 persen per bulan, sekaligus tetap berfungsi saat terjadi pemadaman listrik dari jaringan utama.

Pemerintah juga menyiapkan kuota PLTS Atap sebesar 250 MW, termasuk potensi tambahan hingga 400 MW di kawasan kehutanan Karangasem.

Koster mengajak seluruh elemen, mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga sektor swasta untuk beralih ke energi bersih guna mendukung citra Bali sebagai destinasi wisata ramah lingkungan dunia.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan PLTS Atap pada gedung-gedung pemerintah, BUMN, BUMD, dan sektor swasta sebagai langkah konkret menuju Bali mandiri energi.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami