Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Telkom Catat Pendapatan Rp37,2 Triliun di Kuartal I-2026
BERITABALI.COM, NASIONAL.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kinerja positif pada kuartal pertama tahun 2026 dengan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut diraih di tengah kondisi ketidakpastian makroekonomi dan menjadi bukti konsistensi perusahaan dalam menjalankan disiplin operasional sekaligus mempercepat implementasi strategi transformasi TLKM 30.
Selain pertumbuhan pendapatan, Telkom juga mencatat EBITDA sebesar Rp18 triliun dengan EBITDA margin mencapai 48,3 persen. Sementara laba bersih tercatat sebesar Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7 persen. Adapun laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun dengan margin laba bersih yang dinormalisasi sebesar 13,8 persen.
Kontraksi laba bersih yang terjadi disebut dipengaruhi oleh dampak percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama masa transformasi perusahaan. Meski demikian, kinerja fundamental operasional dinilai tetap terjaga dengan baik.
Arus kas operasional Telkom juga tumbuh 3,1 persen secara tahunan menjadi Rp17,3 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong implementasi program efisiensi biaya secara berkelanjutan dan peningkatan disiplin dalam proses penagihan.
Direktur Utama Dian Siswarini mengatakan capaian pada awal tahun ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat transformasi perusahaan ke depan.
“Tahun ini, Telkom akan semakin gencar dalam mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi menciptakan value yang optimal dan memastikan keberlangsungan perusahaan yang semakin solid ke depannya. Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap guna memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat dan negara.”
Pada segmen Business to Consumer (B2C), anak usaha Telkom yakni Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan bisnis digital serta kenaikan penggunaan layanan data.
Payload data Telkomsel meningkat 2,3 persen secara tahunan, sementara Average Revenue Per User (ARPU) naik menjadi Rp45.100 atau tumbuh 6,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Dari sisi pasar, industri telekomunikasi masih prospektif karena konektivitas dan internet saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir pun kami melihat kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan adanya tren penurunan. Kami optimistis untuk memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan customer experience yang baik.”
Sementara itu, segmen B2B Infrastructure menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan pendapatan mencapai Rp2,4 triliun atau meningkat 6,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut ditopang oleh ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang dijalankan oleh Mitratel. Perusahaan mencatat pendapatan Rp2,3 triliun dengan EBITDA margin yang tetap terjaga pada level 82,7 persen.
Sepanjang kuartal pertama 2026, Mitratel menambah jaringan fiber optic sepanjang 1.080 kilometer sehingga total kepemilikan fiber optic mencapai 58.279 kilometer.
Pada sektor data center, Telkom terus memperkuat pengembangan bisnis melalui NeutraDC. Tingginya kebutuhan layanan digital dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi peluang besar bagi pertumbuhan bisnis pusat data di Indonesia.
Selain itu, pendapatan unit Wholesale and International Service tercatat sebesar Rp2,8 triliun dengan pertumbuhan layanan interkoneksi mencapai 18,9 persen secara kuartalan berkat meningkatnya aktivitas bisnis voice internasional.
Di sisi transformasi bisnis, Telkom juga terus menjalankan berbagai langkah strategis, termasuk restrukturisasi portofolio usaha, penguatan bisnis infrastruktur, hingga proses divestasi dan optimalisasi aset non-inti.
Salah satu langkah yang tengah berjalan adalah divestasi bisnis AdMedika Group kepada investor strategis yang ditargetkan rampung pada akhir semester pertama 2026. Selain itu, Telkom juga mempersiapkan tahap kedua pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity kepada InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun ini.
Melalui berbagai langkah transformasi tersebut, Telkom menargetkan peningkatan kontribusi bisnis fiber dari sekitar 15 persen menjadi 25 persen dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus menciptakan komposisi pendapatan yang lebih seimbang antara segmen B2C dan B2B.
“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas,” tutup Dian.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli