Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 22 Juni 2026
Permintaan Tinggi Untuk Upacara Adat, Babi Hitam Bali Justru Langka
BERITABALI.COM, BULELENG.
Ketersediaan babi hitam Bali yang selama ini menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat dan keagamaan di Bali mulai menjadi perhatian serius. Populasinya yang terbatas dikhawatirkan akan menyulitkan masyarakat, terutama di desa-desa yang masih mempertahankan penggunaan babi hitam sebagai sarana upacara.
Wakil Ketua II DPRD Bali, Ida Gede Komang Kresna Budi, mengatakan kebutuhan babi hitam di Bali masih cukup tinggi. Selain untuk konsumsi, ternak lokal tersebut banyak digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan.
"Hampir seluruh upacara besar di Bali membutuhkan babi. Mulai dari Galungan dan Kuningan, pernikahan, ngenteg linggih, hingga tradisi babi guling yang masih menjadi bagian dari budaya masyarakat Bali," kata Kresna Budi, Senin (22/6).
Menurut politisi Partai Golkar itu, keberadaan babi hitam Bali kini semakin sulit ditemukan. Kondisi tersebut terjadi karena budidayanya masih dilakukan secara tradisional dan dalam skala kecil oleh masyarakat.
Ia menyebut sebagian besar peternak babi hitam masih merupakan peternak rumahan yang memelihara ternak dalam jumlah terbatas. Di sisi lain, permintaan pasar terus meningkat seiring tingginya kebutuhan untuk upacara adat dan keagamaan.
"Kebanyakan dipelihara secara rumahan oleh ibu-ibu dengan jumlah yang tidak banyak, padahal kebutuhannya sangat tinggi di Bali," ujarnya.
Kondisi ini juga dirasakan di sejumlah desa Bali Aga yang hingga kini masih mempertahankan penggunaan babi hitam sebagai bagian dari tradisi upacara adat. Jika tidak ada upaya pengembangan populasi, dikhawatirkan ketersediaannya akan semakin berkurang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, DPRD Bali bersama Pemerintah Provinsi Bali mulai menyiapkan program pengembangan peternakan babi hitam. Program ini mendapat dukungan dari Wayan Koster.
Bahkan, Pemprov Bali disebut telah mengusulkan anggaran hibah sebesar Rp1,2 miliar yang diharapkan dapat masuk dalam APBD Perubahan Tahun 2026.
Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk membantu kelompok peternak melalui penyediaan bibit, pakan, pendampingan, hingga penguatan manajemen usaha peternakan.
Menurut Kresna Budi, bantuan tidak cukup hanya berupa bibit ternak. Dukungan pakan juga perlu diberikan karena tingginya biaya produksi sering menjadi kendala bagi peternak untuk mengembangkan usaha.
"Kalau hanya diberi bibit, peternak sering kesulitan membeli pakan. Karena itu bantuan harus lengkap agar budidayanya bisa berjalan dengan baik," katanya.
Selain meningkatkan populasi babi hitam, program tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi dan budaya Bali yang masih membutuhkan babi hitam sebagai sarana upacara adat.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun