Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 28 Juni 2026
Kemarahan atas Kehidupan Saat Hidup Terasa Tidak Lagi Berpihak
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan berusia 31 tahun, berinisial RS tampak mengenakan baju terusan biru dengan cardigan putih. Saat disapa, ia mampu membalas sapaan dengan baik. Ia menyampaikan bahwa perasaannya sangat sedih. Kesedihan ini muncul karena ia terus memikirkan usaha aksesori HP yang dijalaninya, yang semakin menurun dalam dua bulan terakhir.
Ia merasa takut usahanya bangkrut, tidak berhasil, dan kondisi keuangannya memburuk. Kesedihan semakin berat karena kekasihnya tidak mendukung pengobatan psikiatri yang sebelumnya dijalani. Selama satu bulan terakhir, ia berhenti minum obat. Ia juga merasa sakit hati karena kekasihnya mengatakan bahwa masalah kesehatan mental itu tidak nyata. Bahkan dikatakan oleh pacarnya bahwa ia hanya bersantai dan tidak mau bekerja sehingga ia meminum banyak obat agar semua orang tidak meremehkan sakit mentalnya.
Dalam satu bulan terakhir, ia merasa semakin tidak bersemangat, malas beraktivitas, lebih banyak bermalas-malasan, harga diri menurun, merasa bersalah, nafsu makan berkurang, dan sulit fokus bekerja. Ia mengungkapkan pikiran untuk mengakhiri hidup. Upaya bunuh diri sudah hampir 10 kali dilakukan, termasuk mencoba menceburkan diri ke laut kemarin sore, tetapi berhasil ditolong adiknya. Ia juga pernah meminum sekitar 65 butir obat secara acak, antara lain asam mefenamat, cetirizine, Paramex, ibuprofen, dan ketoconazole.
Ia menyangkal adanya suara yang menyuruh atau membisikinya, serta menyangkal melihat bayangan tanpa sumber. Namun ia mengatakan pernah mengalami hal seperti itu pada tahun 2017. Ia merasa kematian akan membuat masalahnya selesai. Ia menganggap kematian sebagai jalan untuk menghentikan rasa sedih, takut, dan beban pikiran yang terus-menerus dirasakan, terutama terkait masalah usaha, keuangan, dan kurangnya dukungan dari pasangan.
Di waktu lain, ia pernah mengalami periode sangat bersemangat, tidak membutuhkan tidur, banyak ide, dan berbelanja online secara impulsif. Tiga minggu terakhir, ia sulit tidur, baru bisa tidur sekitar pukul 04.00, dan sulit tidur kembali bila terbangun.
Riwayat keluarga menunjukkan ibu dan kakak perempuan memiliki gangguan bipolar namun tidak berobat. Riwayat penggunaan zat dikatakatan merokok satu batang per hari, kadang vape, alkohol saat ada acara dengan teman-temannya, dan ganja saat bepergian ke Bangkok.
Marah dengan kehidupan yang gelap tak bercahaya
Apa yang dialami RS sebagai seorang perempuan muda bukan hanya sekedar kisah seseorang yang ingin mengakhiri hidup, namun kondisi seseorang yang sedang mengalami runtuhnya berbagai tiang kehidupannya dalam waktu yang bersamaan. Kemarahan RS tampaknya bukan kemarahan yang meledak keluar, melainkan kemarahan yang tertahan, lalu berbalik menyerang dirinya sendiri. Ia marah karena merasa sudah berusaha, tetapi hidup tidak memberinya rasa aman. Usaha aksesori HP yang menurun bukan sekadar masalah ekonomi yang bagi RS, usaha itu mungkin menjadi simbol harga diri, kemandirian, dan bukti bahwa ia mampu menjadi seseorang. Ketika usaha itu terancam gagal, yang runtuh bukan hanya pendapatan, tetapi juga narasi tentang dirinya, bahwa “Saya mampu”, “Saya berguna”, “Saya punya masa depan”.
Kemarahan kedua datang dari rasa tidak dipercaya. Ketika kekasihnya mengatakan bahwa kesehatan mental itu tidak nyata, ia mengalami invalidasi yang dalam. Dalam budaya kita, penderitaan psikis sering kali masih dianggap kurang sah dibandingkan sakit fisik. Luka batin diminta untuk dibuktikan, seolah-olah seseorang baru dikatakan sakit bila lukanya tampak. Bagi RS, obat psikiatri yang sebelumnya menjadi bagian dari upaya bertahan justru dipermalukan oleh orang yang ia harapkan menjadi tempat aman. Maka ia tidak hanya merasa sedih, tetapi juga merasa dikhianati.
Kemarahan ketiga adalah kemarahan karena ia merasa sendirian dalam menanggung beban. Ia takut bangkrut, takut gagal, takut dianggap malas, takut tidak dimengerti. Dalam teori kognitif, depresi sering ditandai oleh pandangan negatif terhadap diri, dunia, dan masa depan. Pada RS, tiga hal ini tampak jelas dimana dirinya dianggap gagal, dunia terasa tidak mendukung, dan masa depan tampak tertutup. Ketika ketiganya bertemu, maka kematian mulai tampak bukan sebagai keinginan murni untuk mati, melainkan sebagai keinginan menghentikan penderitaan.
Kemarahan RS juga dapat dipahami sebagai kemarahan narsistik, yaitu luka mendalam ketika harga diri seseorang jatuh. Usaha yang menurun bukan hanya kehilangan pemasukan, tetapi kehilangan rasa mampu. Ucapan pacar bahwa sakit mental tidak nyata bukan hanya ketidaktahuan, tetapi terasa seperti penghinaan terhadap seluruh perjuangannya bertahan hidup. Dalam psikodinamika, bunuh diri dapat dipahami sebagai kemarahan kepada orang lain yang tidak dapat diekspresikan secara langsung, lalu diarahkan kepada diri sendiri. RS mungkin sebenarnya marah kepada pasangan, keadaan ekonomi, stigma masyarakat, bahkan kepada hidup itu sendiri. Namun karena ia tidak menemukan ruang aman untuk mengekspresikan kemarahan itu, tubuhnya sendiri menjadi sasaran.
Di sinilah ungkapan RS bahwa kematian akan membuat masalah selesai perlu dipahami dengan hati-hati. Kalimat itu bukan sekadar pikiran ingin mati, tetapi tanda bahwa ia melihat kematian sebagai jalan keluar dari kemarahan, ketakutan, rasa malu, dan kelelahan batin. Ia tidak lagi membayangkan hidup sebagai tempat kemungkinan, tetapi sebagai tempat hukuman.
Ia sedang berada dalam kegelapan, ketika pertimbangan melemah dan pikiran terpaku pada satu jalan yaitu mengakhiri penderitaan. Upaya menceburkan diri ke laut dan menelan banyak obat menunjukkan bahwa kegelapan itu sudah menjadi tindakan, bukan hanya ide.
Kemarahan RS juga merupakan kritik terhadap lingkungan sosial yang belum cukup ramah terhadap penderitaan mental. Ketika gangguan jiwa dianggap tidak nyata, pasien tidak hanya kehilangan pengobatan, tetapi kehilangan martabat. Stigma membuat seseorang merasa harus membuktikan bahwa ia benar-benar sakit. Pada RS, tindakan overdosis obat dapat dibaca sebagai jeritan simbolik, bahwa “Lihat, saya benar-benar sakit. Jangan remehkan saya.” Maka bunuh diri di sini bukan hanya peristiwa individual, tetapi juga cermin kegagalan relasi, keluarga, pasangan, dan komunitas dalam mendengar sebelum terlambat.
Dengan demikian, yang membuat RS marah kepada kehidupan adalah tumpukan pengalaman merasa gagal, tidak dipercaya, tidak dicintai dengan aman, tidak berdaya, dan tidak melihat jalan keluar. Ia marah karena hidup yang ia harapkan memberi ruang untuk tumbuh justru terasa menekan. Ia marah karena perjuangannya tidak dikenali. Ia marah karena orang terdekatnya menambah luka pada saat ia sedang membutuhkan pegangan. Namun di balik kemarahan itu sebenarnya masih ada permintaan tolong, bahwa ia tidak sungguh-sungguh hanya ingin mati, bahwa ia ingin rasa sakitnya berhenti, ingin penderitaannya dianggap nyata, dan ingin ada seseorang yang membantunya menemukan kembali cahaya ketika dunianya terasa gelap.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Secara psikodinamika, RS tampak mengalami luka narsistik, yaitu cedera pada rasa harga diri ketika ia merasa gagal dalam usaha dan direndahkan oleh pasangan. Pada depresi berat, kemarahan terhadap objek luar sering kali tidak dapat diekspresikan secara aman, lalu diarahkan ke dalam diri. Ini menjelaskan mengapa rasa sakit hati kepada pasangan, rasa marah pada keadaan, dan rasa kecewa pada hidup berubah menjadi rasa bersalah, harga diri rendah, dan dorongan menghukum diri. Ia tidak berkata, bahwa “Saya marah kepada orang yang menyakiti saya,” tetapi tubuh dan pikirannya berkata, bahwa “Saya yang salah, saya tidak berguna, lebih baik saya tidak ada.”
Dari teori attachment, pasangan yang seharusnya menjadi secure base justru berubah menjadi sumber ancaman emosional. RS membutuhkan validasi, tetapi menerima penolakan. Ia membutuhkan dukungan untuk minum obat, tetapi menerima stigma. Kondisi ini memperbesar rasa abandoned dan unworthy. Pada kasus ini, bahwa kematian akan membuat masalah selesai adalah bentuk hopelessness yang sangat berbahaya.
Ia berada di titik tabrakan antara tekanan ekonomi, stigma kesehatan mental, relasi yang tidak suportif, dan kerentanan biologis. Perempuan usia produktif sering membawa banyak beban identitas dimana ia harus berhasil, harus kuat, harus bekerja, harus tetap menarik, harus mampu menjaga hubungan. Bila ia gagal pada salah satu sisi, rasa malu sosial dapat menjadi sangat berat. Dalam konteks budaya komunal seperti Indonesia, identitas diri sering terkait dengan penilaian keluarga dan lingkungan. Maka kegagalan usaha dapat terasa seperti kegagalan pribadi di mata banyak orang.
Riwayat berhenti obat selama satu bulan sangat penting. Pada gangguan bipolar, penghentian obat dapat memicu kekambuhan depresi, mania, atau campuran. Riwayat pernah sangat bersemangat, tidak membutuhkan tidur, banyak ide, dan belanja impulsif mengarah pada episode hipomanik/manik sebelumnya. Gangguan bipolar memiliki risiko bunuh diri tinggi dimana faktor seperti episode depresif, percobaan bunuh diri sebelumnya, gangguan penggunaan zat, dan riwayat keluarga perlu dinilai secara serius.
Secara neurobiologis, RS membawa diatesis atau kerentanan. Ibu dan kakak perempuan dengan gangguan bipolar menunjukkan kemungkinan faktor genetik dan familial. Gangguan tidur tiga minggu terakhir memperburuk regulasi emosi. Pada bipolar, ritme sirkadian sangat sensitif, dimana tidur yang rusak dapat memperkuat depresi, impulsivitas, dan keinginan bunuh diri. Meta-analisis terbaru menemukan bahwa gangguan tidur pada bipolar berhubungan dengan peningkatan risiko perilaku bunuh diri seumur hidup, dan riwayat percobaan bunuh diri juga berkaitan dengan gangguan tidur yang lebih tinggi.
Pada tingkat otak, bunuh diri tidak hanya lahir dari pikiran negatif, tetapi dari interaksi sistem stres, impulsivitas, nyeri psikologis, dan gangguan regulasi emosi. Kajian neurobiologi menyoroti keterlibatan neuroinflamasi, stres oksidatif, sistem HPA-axis, serotonin, dan perubahan fisiologis lain pada perilaku bunuh diri. Bila seseorang mengalami depresi berat, kurang tidur, rasa malu, penggunaan alkohol/ganja, dan impulsivitas, maka kemampuan korteks prefrontal untuk menunda tindakan dapat melemah. Pada saat yang sama, sistem limbik memperbesar rasa takut, luka batin, dan urgensi untuk mengakhiri semuanya sekarang.
Penggunaan alkohol dan ganja juga perlu dipahami sebagai faktor risiko, bukan sekadar kebiasaan sosial. Zat dapat menurunkan kontrol impuls, memperburuk mood, mengganggu tidur, dan meningkatkan risiko tindakan bunuh diri secara impulsif. Pada RS, percobaan bunuh diri hampir 10 kali, termasuk menceburkan diri ke laut dan overdosis banyak obat, menunjukkan risiko akut yang sangat tinggi. Ini bukan lagi sekadar ide bunuh diri tetapi ini sudah masuk wilayah perilaku bunuh diri berulang yang membutuhkan penanganan intensif.
Di tengah perubahan yang terjadi dan tekanan yang dihadapi, seorang manusia dapat bertahan bila menemukan makna yang membuat penderitaan tidak menjadi kata terakhir. Meaning in life berhubungan signifikan dengan rendahnya ide bunuh diri, sehingga makna hidup dapat menjadi faktor protektif penting. Maka dari itu tidak cukup hanya menurunkan gejala tetapi ia perlu dibantu menemukan kembali arti untuk siapa dan untuk apa saya bertahan hari ini.
Menata hidup kembali dari sebuah kegelapan
Menata hidup kembali bagi RS harus dimulai dari pengakuan bahwa ia sedang berada dalam keadaan sangat rapuh. Penderitaan batin merupakan keadaan ketika seseorang merasa sendirian, tidak bernilai, tidak berguna, dan tidak ada orang yang mencintai atau mengharapkannya. Pada titik itu, seseorang dapat berada di batas antara dunia nyata dan tidak nyata dimana pertimbangan melemah, harapan menghilang, dan kematian tampak seperti jalan menuju kedamaian.
Karena itu, langkah pertama untuk RS bukan langsung memaksanya berpikir positif, melainkan mengembalikan rasa aman. Ia perlu dijaga, ditemani, didengarkan, dan dilindungi dari akses terhadap sarana bunuh diri. Hidup harus diamankan dahulu sebelum makna hidup dapat dibicarakan.
Orang yang berada dalam kemelut sering merasa tidak ada yang peduli. Maka keluarga RS perlu hadir bukan sebagai hakim, tetapi sebagai saksi penderitaan. Keluarga tidak perlu memulai dengan nasihat panjang, apalagi menyalahkan. Kalimat yang dibutuhkan RS adalah kalimat sederhana, bahwa “Kami percaya kamu sedang sakit. Kami akan menemani kamu berobat. Kamu tidak sendirian.” Bagi orang yang sedang ingin mati, kalimat seperti ini dapat menjadi suara yang menghentakkan kesadaran yang membuat seseorang kembali menyadari dirinya masih berada di dunia nyata.
Menata hidup juga berarti membantu RS memahami bahwa rasa marah, kecewa, sedih, takut, dan malu adalah reaksi manusiawi. Ketika seseorang mengalami kepahitan, kegagalan, penghinaan, dan penghancuran martabat, wajar bila muncul rasa kecewa, marah, sedih, tegang, dan cemas. Yang berbahaya bukan emosinya, tetapi ketika emosi itu dibiarkan terlalu lama tanpa ruang pengolahan, sehingga berubah menjadi putus asa. Karena itu RS perlu diberi ruang untuk mengekspresikan beban emosinya seperti dengan cara berbicara, menulis, menangis, menggambar, berdoa, meditasi, atau aktivitas tubuh yang aman. Yang penting, kemarahan tidak lagi diarahkan ke tubuhnya sendiri.
Jangan menambah beban orang yang sudah menderita. Ini menjadi refleksi besar bagi keluarga dan pasangan RS. Orang dengan depresi berat tidak membutuhkan tuduhan bahwa ia malas, lemah, mencari perhatian, atau kurang iman. Tuduhan seperti itu justru memperdalam rasa tidak berguna. Keluarga perlu mengganti pola komunikasi dari mengoreksi menjadi memahami, dari memaksa menjadi menemani, dari mempermalukan menjadi memulihkan martabat. Dalam keluarga yang sehat, anggota keluarga saling menghargai, menghormati, memerlukan, mencintai, dan bekerja sebagai tim. Prinsip ini sangat penting untuk RS karena pemulihan bipolar dan depresi berat tidak mungkin dibebankan pada pasien seorang diri.
Dari sisi pribadi RS, menata hidup kembali dapat dimulai dari hal paling dasar yaitu tidur nyenyak. Tidur nyenyak sebagai kebutuhan dasar manusia, tidur bukan sekadar istirahat, tetapi fondasi kestabilan emosi. Maka keluarga perlu membantu menciptakan ritme harian yang lembut dimana waktu tidur menjadi teratur, mengurangi stimulasi malam hari, membatasi alkohol dan zat, makan cukup, mandi, relaksasi, dan suasana kamar yang aman. Tidur yang membaik tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi memberi otak kesempatan untuk kembali memiliki tenaga menghadapi hidup.
Meditasi dan relaksasi juga dapat menjadi cara mengistirahatkan tubuh dan mental. Dalam konteks RS, relaksasi dapat dipakai bukan sebagai pengganti obat atau terapi psikiatri, tetapi sebagai pendamping pemulihan. Ia dapat dilatih untuk memusatkan perhatian pada napas, merasakan tubuh, dan memberi jeda antara dorongan bunuh diri dengan tindakan. Ketika dorongan mati muncul, tujuannya bukan langsung mencari jawaban besar, tetapi menunda tindakan, menarik napas, menghubungi keluarga, menjauh dari sarana berbahaya, dan kembali ke tubuhnya sendiri. Kadang keselamatan dimulai dari jeda beberapa menit.
Menata hidup kembali juga berarti mengubah cara memandang kegagalan. Perjalanan hidup tidak untuk terus ditangisi, tetapi dipahami sebagai pengalaman yang dapat mendewasakan. Namun pada RS, pesan ini harus disampaikan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai terdengar seperti semua ini ada hikmahnya ketika ia masih berada dalam fase akut. Pada awalnya, ia hanya perlu selamat. Setelah lebih stabil, barulah ia dapat diajak melihat bahwa usaha yang menurun bukan akhir hidup, melainkan masalah yang bisa disusun ulang. Kegagalan bisnis bukan kegagalan sebagai manusia. Kehilangan uang bukan kehilangan nilai diri. Penolakan pasangan bukan bukti bahwa ia tidak layak dicintai.
RS perlu dibantu menemukan kembali makna kecil sebelum makna besar. Ia tidak harus langsung menjawab untuk apa saya hidup? dengan jawaban tegas. Cukup dimulai dari hari ini saya hidup untuk tidak menyakiti diri atau hari ini saya hidup untuk bertemu dokter, atau hari ini saya hidup untuk adik yang kemarin menolong saya, atau hari ini saya hidup untuk memberi kesempatan pada diri saya yang sakit agar dirawat. Makna hidup kadang tidak datang sebagai cahaya besar, tetapi sebagai pegangan kecil yang membuat seseorang bertahan satu malam lagi.
Akhirnya, menata hidup kembali bagi RS adalah pekerjaan bersama. Psikiater menata aspek biologis dan stabilisasi mood. Psikoterapi menata luka batin, rasa marah, malu, dan bersalah. Keluarga menata suasana aman dan tidak menghakimi. Komunitas menata kembali rasa memiliki. Spiritualitas menata hubungan dengan Tuhan dan harapan. RS sendiri pelan-pelan belajar bahwa hidupnya belum selesai hanya karena hari ini terasa gelap. Kebahagiaan tidak jatuh begitu saja dari langit, namun ia diperjuangkan, dipelajari, dan ditata kembali. Untuk RS, perjuangan itu dimulai bukan dari menjadi kuat, tetapi dari bersedia untuk ditolong. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun