Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 18 Juli 2026
Hanya Terima 3 Murid Baru, SDN 5 Belok/Sidan Gabungkan MPLS dengan Kakak Kelas
BERITABALI.COM, BADUNG.
SDN 5 Belok/Sidan di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, hanya menerima tiga murid baru pada Tahun Ajaran 2026/2027. Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah menerapkan metode khusus dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan menggabungkan siswa kelas 1 bersama siswa kelas 2 dan kelas 3.
Langkah ini dilakukan agar suasana belajar lebih hidup sekaligus membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah melalui pendampingan dari kakak kelas.
Salah seorang murid baru, Ni Nyoman Putri Gauri, mengaku senang mengikuti kegiatan MPLS. Ia menjadi satu-satunya siswa perempuan di kelas 1 dan menjalani masa pengenalan sekolah bersama dua teman lainnya, yakni I Putu Sudiantara dan Putu Pande Raditya Putra, yang berasal dari dusun yang sama.
Baca juga:
Sekolah Sepi Murid, Bali Siapkan Regrouping
"Senang bisa ikut kegiatan. Nggak ada belajar, bermain bersama kakak kelas. Hari ini datang pagi langsung senam, masuk kelas, ada penjelasan guru," sebut salah satu siswi baru, Ni Nyoman Putri Gauri, Kamis (16/7/2026).
Sementara itu, I Putu Sudiantara mengatakan kegiatan MPLS berlangsung menyenangkan karena lebih banyak diisi dengan aktivitas bermain bersama kakak kelas dibandingkan pembelajaran formal. "Kami bertiga juga sudah siap untuk mulai belajar penuh minggu depan," ucapnya.
Wali Kelas 1 SDN 5 Belok/Sidan, Ni Putu Lilik Sri Astuti, menjelaskan penggabungan siswa kelas 1 dengan kelas 2 dilakukan karena kedua jenjang masih berada dalam fase perkembangan yang sama. Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri murid baru yang jumlahnya sangat sedikit.
Baca juga:
MPLS di SLBN 1 Bangli Libatkan Orang Tua, Adaptasi Siswa Berkebutuhan Khusus Jadi Prioritas
"Kalau cuma bertiga kan sepi, jadi kami ikutkan kakak kelasnya dari kelas 2 yang masih satu fase A agar suasana lebih ramai dan siswa baru nggak kesepian. Lewat pendampingan ini, anak-anak jadi lebih berani mengekspresikan diri karena merasa ada kakak-kakaknya yang menuntun," paparnya.
Guru SDN 5 Belok/Sidan, Gita, menambahkan jumlah siswa yang sedikit justru memudahkan proses pembelajaran karena guru dapat memberikan perhatian lebih intensif kepada setiap peserta didik.
Metode pembelajaran nantinya akan mengombinasikan penyampaian materi melalui ceramah dengan bermain peran (role play), sehingga siswa dapat langsung mempraktikkan materi yang dipelajari secara bergantian.
"Pendekatan mengajar nanti bisa jauh lebih dekat dan intensif karena muridnya sedikit, bahkan bisa dijadikan satu grup saja. Setelah guru menjelaskan materi, siswa akan bergantian maju untuk mempraktikkan langsung apa yang diajarkan," sebutnya.
Kepala SDN 5 Belok/Sidan, Ni Nyoman Jamin, mengungkapkan jumlah siswa baru mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu yang mencapai tujuh orang. Saat ini, total peserta didik di sekolah tersebut tercatat sebanyak 38 siswa.
Menurutnya, penurunan jumlah murid dipengaruhi kondisi demografis di wilayah tersebut, mulai dari menurunnya angka kelahiran hingga banyaknya pasangan usia produktif yang merantau dan menyekolahkan anak di daerah tempat mereka bekerja.
"Penyebab utamanya karena sekolah ini hanya didukung oleh satu banjar, ditambah angka kelahiran di sini memang menurun. Selain itu, masyarakat usia produktif yang baru menikah kebanyakan merantau dan menyekolahkan anak mereka di tempat rantauan," ungkapnya.
Meski jumlah murid terus menurun, pihak sekolah menegaskan tetap berkomitmen mempertahankan proses belajar mengajar dan belum mempertimbangkan opsi penggabungan sekolah (regrouping). Keberadaan SDN 5 Belok/Sidan dinilai masih sangat dibutuhkan masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh, mengingat lokasi sekolah lain cukup jauh.
"Khawatir pasti ada, tapi masyarakat berharap sekolah ini dipertahankan karena jika digabung, mereka akan kesulitan mengantar anak akibat jarak yang jauh. Kami sudah berkoordinasi dengan kepala dusun serta komite, dan astungkara tahun depan jumlah siswa meningkat karena data anak di TK saat ini terpantau lebih banyak," sebutnya.
Untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman, seluruh tenaga pendidik turut melakukan pengawasan sejak hari pertama MPLS. Sekolah menekankan pentingnya membangun lingkungan yang ramah anak serta mencegah segala bentuk perundungan.
"Kami arahkan sejak pertama datang agar suasananya riang gembira, welcome, dan jangan sampai ada yang saling merundung (bully). Tujuannya agar tidak ada ketakutan atau trauma pada anak-anak untuk kembali datang ke sekolah besoknya," bebernya.
Selain memperhatikan aspek psikologis siswa, sekolah juga menyusun agenda MPLS yang memadukan aktivitas fisik, edukasi, dan pemenuhan gizi. Setiap pagi siswa disambut guru, diajak berdoa, mengikuti senam sehat, menikmati makanan bergizi, kemudian mengikuti materi sesuai jadwal yang telah disusun.
"Setiap pagi guru menyambut siswa baru, diajak berdoa, senam sehat, kemudian ada pemberian makanan sehat bergizi sebelum masuk ke penyampaian materi sesuai jadwal harian. Kegiatan MPLS ini kami laksanakan dari awal, Senin sampai Jumat besok," tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3722 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1399 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1337 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1262 Kali
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1100 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun