Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 10 Agustus 2026
Saat Krisis Ekologi Bali Beririsan dengan Kebebasan Pers
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Memperingati hari jadi ke-32 Aliansi Jurnalis Independen (AJI), AJI Denpasar menggelar "PIKNIK WARAS: Merawat Akal Lewat Diskusi, Menjaga Fisik dengan Berlari" di Lapangan Niti Mandala Renon, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut dikemas dalam suasana santai dengan membuka lapak baca. Puncak acara diisi diskusi bertema Refleksi Tri Hita Bencana di Tengah Kondisi Bali Sekarang dan Mendatang yang dipandu Koordinator Divisi Pendidikan AJI Denpasar, Ni Komang Yuko Utami.
Diskusi tersebut menjadi ruang untuk merawat nalar kritis jurnalis dan masyarakat di tengah persoalan bencana lingkungan yang semakin beririsan dengan kehidupan masyarakat serta kerja-kerja pers.
Baca juga:
Krisis Ekologis di Balik Ekowisata?
Buku Tri Hita Bencana; Ekonomi Politik Keserakahan Manusia Bali Kontemporer karya akademisi dan antropolog I Ngurah Suryawan menjadi pemantik diskusi. Buku tersebut mengulas berbagai persoalan lingkungan Bali, mulai dari ancaman ekologis hingga kompleksitas sosial dan budaya.
I Ngurah Suryawan yang hadir sebagai pembicara mengatakan kerusakan lingkungan di Bali tidak hanya berkaitan dengan oligarki. Menurutnya, kondisi tersebut turut diperparah oleh keberadaan kelas komprador, yakni pihak yang dinilai memiliki kecenderungan menjilat ke atas namun menekan ke bawah.
"Yang saya lihat, dari dulu ada kelas komprador. Menjilat dan menekan ke bawah," ungkapnya.
Suryawan menjelaskan, buku Tri Hita Bencana merupakan kumpulan esai yang lahir dari kegelisahannya melihat berbagai persoalan di Bali. Setelah diterbitkan, buku setebal 150 halaman tersebut mendapat sejumlah komentar dan kritik, termasuk terkait aspek metodologis.
Menurut Suryawan, buku tersebut memang diarahkan sebagai pemantik gerakan sosial. "Ada yang kritik tidak ada metodologis. (Bagi saya) buku ini adalah sebuah pemantik gerakan sosial," katanya.
Dalam diskusi, alumnus UGM Jogjakarta tersebut juga mengangkat sejarah ruang di Bali, terutama terkait rentetan peristiwa 1965 dan intervensi kapital.
Selain persoalan lingkungan, Suryawan menyoroti fenomena budaya yang dinilai kerap menegasikan peran perempuan dalam pelaksanaan ritus adat di Bali. Menurutnya, laki-laki kerap ditempatkan di garda depan dalam pelaksanaan upacara, sementara kontribusi perempuan dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan upacara kurang mendapat perhatian.
"Selalu yang ditampilkan adalah soal dana upakara, ditambah fenomena bansos, namun lupa akan andil tubuh perempuan," terangnya.
Pemaparan tersebut kemudian memantik diskusi interaktif. Peserta mengangkat sejumlah persoalan, di antaranya transparansi anggaran pemerintah hingga minimnya gerakan sipil di Bali, termasuk dari kalangan kampus.
Kegiatan AJI Denpasar tersebut turut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari organisasi pers seperti PWI Bali, PFI Denpasar, IWO Bali dan IJTI Bali, perwakilan pers mahasiswa, akademisi hingga masyarakat umum.
Ketua AJI Denpasar, Ni Kadek Novi Febriani, mengatakan peringatan hari jadi ke-32 AJI yang jatuh pada 7 Agustus mengusung tema "Bertahan, Bersuara, Berkarya".
Melalui diskusi tersebut, AJI Denpasar ingin mengangkat persoalan ekologi yang dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan kemerdekaan pers.
Menurut Novi, jurnalis bekerja untuk memenuhi hak publik atas informasi. Karena itu, jurnalis memiliki kewajiban mempublikasikan fakta sesuai dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Namun, dalam praktiknya jurnalis masih rentan menghadapi tekanan politik, ekonomi maupun hukum. Suara kritis juga kerap dipandang sebagai ancaman dan mendapat berbagai label peyoratif.
"Sama halnya dengan kondisi ekologi di Bali yang semakin mengkhawatirkan. Alam sering kali dianggap sekadar sebagai aset yang bisa diperas, bukan sebagai ruang yang harus dijaga. Maka, penting peran jurnalis yang meliput isu ekologi untuk menjadi penjernih dan berpihak pada kemanusiaan. Tidak bisa netral," tegas Febri.
Ia menambahkan, harapan tetap terbuka selama jurnalis, aktivis, akademisi dan masyarakat sipil terus menyuarakan kritik untuk mengantisipasi kerusakan ekologi di Bali. Di penghujung diskusi, pengurus AJI Denpasar mengajak peserta menuliskan kegelisahan masing-masing pada selembar kertas.
Peserta kemudian duduk membentuk lingkaran dan memutar kertas berisi "unek-unek" tersebut sebanyak tujuh kali. Dari tulisan yang terkumpul, terlihat sejumlah kegundahan yang sama di antara peserta.
Salah satu persoalan yang muncul adalah pembangunan yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat, termasuk minimnya fasilitas transportasi umum di Bali. Setelah sesi diskusi untuk merawat akal, peserta melanjutkan kegiatan dengan menjaga kebugaran melalui aktivitas lari.
Rute lari dimulai dari Lapangan Niti Mandala Renon menuju Sekretariat AJI Denpasar di Jalan Sedap Malam dengan jarak tempuh 3,2 kilometer. Jarak tersebut dipilih sebagai simbolisasi usia AJI yang kini memasuki 32 tahun.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jun
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4453 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2199 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1561 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1009 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 947 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun