Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 14 Agustus 2026
Aktivis Desak Plataran Ubud Gunakan Telur Bebas Kandang
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Sejumlah aktivis dan konsumen menggelar aksi damai di depan Plataran Ubud, Bali, Senin (10/8/2026). Aksi tersebut digelar untuk mendesak Plataran berkomitmen menggunakan telur bebas kandang atau cage-free dalam rantai pasoknya.
Aksi melibatkan 10 aktivis dengan 10 sepeda motor yang membawa petisi kepada Plataran. Pesan mengenai penggunaan telur bebas kandang juga akan terus disuarakan dengan berkeliling Bali selama sebulan di sekitar area properti Plataran.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong perhatian terhadap kesejahteraan ayam petelur dalam rantai pasok industri hospitality.
Plataran merupakan perusahaan perhotelan berskala besar yang mengelola hotel, resor, tempat acara, restoran, properti, kapal pesiar pribadi hingga operator taman nasional yang tersebar di 81 lokasi di Indonesia dan Jepang.
Sebagai grup usaha besar, Plataran dinilai aktivis perlu memperhatikan aspek kesejahteraan hewan dalam rantai pasoknya. Citra Plataran sebagai brand yang lekat dengan isu ramah lingkungan juga dinilai perlu diikuti dengan perhatian terhadap kesejahteraan hewan.
Aktivis menyebut industri telur di Indonesia hingga kini masih didominasi sistem kandang sempit. Dalam metode peternakan konvensional tersebut, ayam petelur dikurung selama siklus produksi yang berlangsung sekitar 63 minggu.
Ukuran kandang yang sempit dinilai membatasi ayam untuk melakukan berbagai perilaku alaminya, seperti merentangkan sayap, bersarang, mandi debu, bertengger dan bersosialisasi.
Laporan Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) tahun 2019 yang dikutip dalam aksi tersebut menyimpulkan bahwa sistem kandang sempit memiliki tingkat prevalensi Salmonella lebih tinggi dibandingkan sistem kandang cage-free.
Sementara itu, penelitian Universitas Gadjah Mada menemukan adanya Salmonella yang resisten terhadap antibiotik pada telur supermarket yang berasal dari sistem kandang.
Temuan strain yang kebal terhadap berbagai jenis obat atau multidrug-resistant tersebut disebut menjadi pengingat pentingnya penggunaan antibiotik secara bertanggung jawab serta penerapan regulasi keamanan pangan yang kuat di industri.
"Kami sudah menghubungi Plataran sejak 2024. Oleh karena itu, kami berharap audiensi yang telah kami lakukan bersama para pemangku kepentingan Plataran di kantor pusat mereka, disertai berbagai dorongan di Jakarta, dapat menghasilkan keputusan positif. Namun, hingga kini belum ada kemajuan terkait kebijakan telur bebas kandang mereka," ujar Elfha Shavira, Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals.
Elfha mengatakan pihaknya meyakini Plataran dapat mengambil langkah konkret terkait penggunaan telur bebas kandang.
“Kami yakin Plataran bisa melakukan langkah konkret terkait penggunaan telur bebas kandang (cage-free). Namun, sejak 2024 kami membuka komunikasi dan banyak dialog, kami belum melihat kejelasan dan langkah nyata untuk memastikan kesejahteraan ayam menjadi bagian dari standar rantai pasoknya,” ujar Elfha Shavira, Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals.
Menurutnya, komitmen tersebut juga dinilai penting mengingat Plataran merupakan grup bisnis yang beroperasi di Indonesia dan Jepang serta melayani pasar internasional.
“Sebagai grup bisnis di Indonesia dan Jepang yang melayani pasar internasional, Plataran sudah sepatutnya memperhatikan aspek etis ini. Tren cage-free di pasar global sudah tak terelakkan, dan 110 perusahaan di Indonesia pun telah berkomitmen. Plataran mengusung citra ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang seharusnya juga mencakup kesejahteraan hewan serta kesehatan masyarakat. Sudah saatnya Plataran menyelaraskan langkah dengan merilis komitmen bebas kandang,” lanjut Elfha.
Studi Pusat Kesejahteraan dan Etika Hewan, Sekolah Ilmu Kedokteran Hewan, Universitas Queensland, yang dikutip dalam materi kampanye tersebut menunjukkan bahwa ketika kesejahteraan hewan menjadi prioritas, masyarakat dapat terdorong meningkatkan perhatian terhadap kesehatan dan perawatan hewan.
Studi tersebut juga menyebut sistem peternakan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi preferensi konsumen terhadap telur, setelah harga.
Melalui aksi damai tersebut, para aktivis berharap Plataran segera mengambil langkah konkret untuk mengedepankan kesejahteraan hewan sekaligus mewujudkan praktik bisnis yang dinilai lebih etis, bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4520 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2335 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1982 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1601 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1041 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun