Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




150 Siswa SMAN 1 Sidemen Ikuti Skrining Kesehatan Mental

Sabtu, 22 Agustus 2026, 10:52 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/150 Siswa SMAN 1 Sidemen Ikuti Skrining Kesehatan Mental.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Sebanyak 150-an siswa SMAN 1 Sidemen mengikuti Sosialisasi Kesehatan Jiwa untuk Remaja yang digelar Suryani Institute for Mental Health (SIMH) bersama Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Jumat (21/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di SMAN 1 Sidemen, Kabupaten Karangasem, ini mengangkat tema “Manajemen Stres, Terapi Relaksasi, dan Adiksi Pada Remaja”. Selain edukasi, kegiatan juga dilengkapi skrining kesehatan mental sebagai upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa pada kelompok usia remaja.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan sekolah sekaligus memperkuat deteksi dini terhadap berbagai permasalahan psikologis yang dapat memengaruhi tumbuh kembang remaja.

Para siswa mengikuti kegiatan melalui sesi edukasi interaktif, diskusi, tanya jawab, serta skrining kesehatan mental. Skrining tersebut bertujuan membantu mengenali kondisi emosional, perilaku, dan kebutuhan dukungan psikologis sejak dini.

Paparan utama disampaikan Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, selaku perwakilan Suryani Institute for Mental Health (SIMH) sekaligus Koordinator Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa FK UNUD.

“Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh dan menjadi fondasi penting dalam tumbuh kembang anak dan remaja”, ungkap Prof Cokorda sebagai pembuka acara.

Materi mengenai manajemen stres dan terapi relaksasi disampaikan dr Luh Nyoman Triwidayani Aryda, residen Psikiatri FK UNUD. Ia menjelaskan bahwa stres merupakan respons alami tubuh terhadap tekanan atau ancaman, baik secara fisik maupun psikologis.

Stres dapat dibedakan menjadi stres positif dan negatif. Stres positif dapat menjadi motivasi untuk berkembang dan menjadi lebih baik. Sementara stres negatif yang berlangsung dalam waktu lama dapat mengganggu fungsi sehari-hari.

“Kesehatan mental pada anak dan remaja perlu mendapatkan perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Remaja yang memiliki kesehatan mental yang baik akan lebih mampu mengenali emosi, membangun relasi yang sehat, berprestasi, dan menghadapi tantangan kehidupan. Sebaliknya, ketika masalah psikologis tidak dikenali sejak dini, dampaknya dapat memengaruhi proses belajar, hubungan sosial, hingga kualitas hidup di masa depan,” ujar dr Aryda.

Selain manajemen stres, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai adiksi pada remaja. Materi yang dibawakan dr Herman Yosef menyoroti penggunaan perangkat digital secara tidak terkontrol yang dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi belajar, regulasi emosi, hingga interaksi sosial.

Para siswa didorong membangun kebiasaan penggunaan gadget yang lebih sehat melalui pengaturan waktu layar, aktivitas fisik, komunikasi dengan keluarga, serta menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.

Sebagai tindak lanjut edukasi, kegiatan dilengkapi skrining kesehatan mental berbasis aplikasi digital Harmoni Jiwa.

Aplikasi tersebut merupakan hasil proyek KONEKSI, kolaborasi pemerintah Australia dan Indonesia yang melibatkan Universitas Udayana dan University of Sydney untuk mendukung pengembangan kebijakan serta teknologi yang inklusif dan berkelanjutan.

Melalui Harmoni Jiwa, siswa dapat melakukan penilaian awal terhadap kondisi kesehatan mental secara mudah, cepat, dan rahasia. Hasil skrining diharapkan dapat meningkatkan kesadaran diri sekaligus membantu mengidentifikasi sejak dini siswa yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Kegiatan juga diisi dengan penyerahan cinderamata kepada pihak sekolah serta pemberian buku Hope and Freedom karya Rudi Waisnawa. Buku tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa.

Salah satu mahasiswi yang terlibat dalam kegiatan edukasi mengapresiasi respons para siswa yang dinilai terbuka selama mengikuti kegiatan.

“Kami melihat siswa sangat terbuka untuk berdiskusi mengenai pengalaman sehari-hari terkait penggunaan gadget dan dinamika pertemanan di sekolah. Banyak yang baru menyadari bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang perlu dijaga dan dibicarakan tanpa rasa takut,” ungkap salah satu mahasiswi peserta kegiatan.

Kepala Sekolah SMAN 1 Sidemen, Nengah Suarta, S.Pd., yang mengikuti kegiatan hingga selesai, menilai sosialisasi tersebut memberikan pengetahuan baru bagi siswa, khususnya terkait dampak penggunaan gadget dalam jangka waktu panjang.

“Sosialisasi ini sangat bermanfaat karena dapat memberika pengetahuan baru kepada anak-anak terkait dampak negative dari penggunaan Gadget dalam jangka waktu yang lama. Serta skrining yang dilakukan dapat menjadi acuan bagi kami dalam mengambil sikap terhadap hasil yang didapat. Dimana cukup mengejutkan bahwa banyak anak-anak yang mengalami stress bahkan depresi yang secara kasat mata tidak kami sadari”, ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, Suryani Institute for Mental Health (SIMH) bersama Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berharap edukasi kesehatan jiwa dapat terus diperluas di lingkungan pendidikan serta mendorong lahirnya generasi muda yang lebih sehat secara mental, adaptif, dan berdaya menghadapi tantangan masa depan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami