Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Tak Sekadar Ilmu Pertanahan, Rocky Gerung: Taruna Politeknik Agraria STPN Belajar Banyak Ilmu
bbn/dok ATR/BPN/Tak Sekadar Ilmu Pertanahan, Rocky Gerung: Taruna Politeknik Agraria STPN Belajar Banyak Ilmu.
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Rocky Gerung menilai Taruna dan Taruni Politeknik Agraria STPN memiliki ruang belajar yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar ilmu teknis pertanahan. Menurutnya, persoalan tanah bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu, mulai dari psikologi, administrasi, hukum, politik, hingga ekologi.
Pandangan tersebut disampaikan Rocky saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).
Menurut Rocky, posisi tanah sebagai objek yang berkaitan dengan negara, masyarakat dan kepentingan ekonomi membuat para calon insan pertanahan harus memahami berbagai perspektif.
Baca juga:
Menteri Nusron dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN: Dialektika Berpikir Tak Boleh Mati
“Jadi, Teman-teman yang belajar di sini sebenarnya belajar semua ilmu. Ilmu tentang psikologi, ilmu tentang administrasi, ilmu tentang hukum tata negara, ilmu tentang politik, ilmu tentang global security, ilmu tentang ekologi, ilmu tentang kematian, ilmu tentang cacing. Jadi ini kampus yang paling lengkap sebetulnya,” ujar Rocky Gerung saat mengisi Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta pada Jumat (04/09/2026).
Rocky kemudian membandingkan ruang belajar di Politeknik Agraria STPN dengan sejumlah institusi pendidikan yang memiliki bidang keilmuan lebih spesifik. Menurutnya, karakter persoalan tanah membuat Taruna/i STPN harus mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Kalau Anda ada di Akmil, Anda cuma belajar tentang cara mempertahankan negara. Kalau Anda ada di UI, Fakultas Ekonomi, Anda hanya diajarkan tentang supply demand dari tanah. Kalau di Fakultas Teknik, ITB, Anda cuma diajarkan untuk melihat struktur tanah secara geologi. Anda ada di IPB, Anda cuma diajarkan cara memupuk tanah. Anda ada di sini, Anda belajar semua hal, kendati kurikulumnya tidak ada, tapi otomatis Anda mesti ambil risiko belajar semua hal,” tutur Rocky Gerung.
Ia mengatakan, memahami tanah tidak cukup hanya dengan mengetahui aspek teknis pengelolaannya. Para calon pengelola pertanahan juga perlu memahami makna tanah bagi negara dan masyarakat serta bagaimana berbagai kepentingan di dalamnya saling berhadapan.
“Keinginan kita untuk kuliah di institut ini adalah untuk memahami tanah itu sebetulnya apa maknanya bagi negara, karena Anda akan mengurus tanah negara, tapi lebih penting melihat kapan dan dengan siapa atau oleh siapa perebutan makna itu diselesaikan,” kata Rocky Gerung.
Dalam pandangannya, tanah dapat memiliki makna berbeda bergantung pada pihak yang melihat dan mengelolanya. Bagi negara, tanah berkaitan dengan penguasaan dan pengaturan melalui hukum. Sementara bagi masyarakat adat, tanah memiliki keterkaitan dengan leluhur dan kehidupan yang diwariskan antargenerasi.
Di sisi lain, korporasi dapat melihat tanah dari perspektif ekonomi sebagai sebuah komoditas. Perbedaan kepentingan tersebut membuat persoalan pertanahan memiliki dimensi yang kompleks.
Perubahan fungsi dan kepentingan suatu wilayah juga dapat mengubah pemaknaan terhadap tanah. Tanah yang sebelumnya memiliki nilai adat dapat berubah menjadi tanah negara dan kemudian menjadi komoditas ketika masuk kepentingan pembangunan.
“Jadi kita tahu bahwa soal tanah ini adalah soal yang menyebabkan seluruh masalah ini timbul,” ujar Rocky Gerung.
Rocky menilai persoalan tanah memiliki dampak yang dapat berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, pemahaman terhadap persoalan pertanahan menurutnya harus dilakukan secara mendalam dan tidak berhenti pada persoalan teknis.
“Kita berupaya untuk menghindari pertanyaan karena menganggap kesalahan itu selalu bisa dimaafkan, tapi kesalahan dalam mengolah tanah tidak mungkin dimaafkan karena dia akan permanen,” pungkas Rocky Gerung.
Kuliah umum bertema "Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertamahan dalam Perspektif Kebangsaan" tersebut turut dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid.
Kegiatan juga diikuti Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN.
Editor: Redaksi
Reporter: BPN Karangasem
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5651 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4583 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2516 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2184 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2178 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan