Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Warga Binaan Lapas Singaraja Bikin Miniatur Praja Mandala

Jumat, 6 November 2026, 11:34 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Warga Binaan Lapas Singaraja Bikin Miniatur Praja Mandala.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Kreativitas delapan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Singaraja menghasilkan miniatur kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, pusat pemerintahan Kabupaten Buleleng. Karya berukuran 194 x 104 sentimeter tersebut dibuat dari lintingan koran bekas selama 50 hari.

Salah satu penggagas sekaligus pengarah pembuatan miniatur tersebut adalah NS (69), warga asal Kelurahan Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng. Dengan latar belakang pendidikan teknik sipil, NS mengarahkan tujuh warga binaan lainnya untuk mengerjakan berbagai bagian miniatur sesuai keterampilan masing-masing.

NS mengaku terinspirasi membuat miniatur kawasan Praja Mandala setelah beberapa kali melewati lokasi tersebut. Keinginannya semakin kuat setelah mengetahui Bupati Buleleng juga menginginkan adanya miniatur kawasan pusat pemerintahan itu.

"Setiap saya lewat, saya terinspirasi untuk membuat ini. Kebetulan saya memiliki dasar teknik sipil," ungkap NS.

Menurut NS, tantangan utama pembuatan miniatur terletak pada ketelitian dalam menggambarkan berbagai bagian bangunan dan kawasan dalam ukuran kecil. Detail seperti trotoar, paving, hingga area makam pahlawan harus dibuat menyerupai bentuk aslinya.

"Karena skalanya kecil, setiap bagian cukup sulit dibuat. Trotoar saja sekitar 2 milimeter, termasuk paving dan bagian makam pahlawan. Semuanya harus diperhatikan detailnya," jelasnya.

Dalam proses pengerjaan, NS bertugas mengarahkan pembuatan, sedangkan tujuh warga binaan lainnya mengerjakan bagian-bagian miniatur. NS sendiri merupakan warga binaan yang terjerat kasus tindak pidana korupsi pembangunan bandara Lombok.

Miniatur Praja Mandala tersebut tidak dibuat untuk diperjualbelikan. NS berencana menyerahkan hasil karya bersama warga binaan lainnya kepada Bupati Buleleng.

Sebelumnya, NS juga pernah membuat miniatur Masjid Istiqlal Jakarta pada 2024. Karya tersebut mendapat respons positif dan kini dipajang di masjid tersebut. Sekitar empat bulan lalu, ia juga membuat miniatur Pura Besakih.

NS mengaku bersyukur mendapat kesempatan dari pihak Lapas untuk mengembangkan kreativitas melalui kerajinan tangan. Aktivitas tersebut membuat hari-harinya lebih produktif selama menjalani sisa masa hukuman yang masih dua tahun.

Lapas Singaraja Kembangkan Program Kemandirian

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Singaraja, Iskandar Djamil, mengatakan pembuatan miniatur Praja Mandala merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan.

Program tersebut bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan sekaligus mendorong mereka tetap produktif selama menjalani masa hukuman.

Selain kerajinan tangan, Lapas Singaraja mengembangkan sejumlah kegiatan produktif, mulai dari budidaya ikan lele, penanaman kangkung, pembuatan tempe dan dupa, hingga jasa pencucian motor.

"Ketahanan pangan kami kembangkan dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk kolam lele dan menanam kangkung. Selain itu, ada juga produksi tempe, dupa, serta kerajinan tangan warga binaan," kata Iskandar.

Hasil produksi warga binaan dipasarkan ke luar Lapas. Produk tempe dijual ke pasar, sedangkan dupa dipasarkan ke sejumlah tempat, termasuk warung dan lingkungan instansi. Dari berbagai produk tersebut, dupa dan tempe menjadi komoditas yang paling laris.

"Yang paling laris itu dupa dan tempe. Dupa kami pasarkan ke luar, seperti warung-warung dan instansi. Jadi, meskipun mereka sedang menjalani hukuman, tetap bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi," jelasnya.

Iskandar menjelaskan, sebagian hasil penjualan diberikan kepada warga binaan dan dimasukkan ke dalam buku tabungan. Sementara sebagian lainnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi dan kegiatan di dalam Lapas.

"Setiap bulan ada hasil penjualan yang kami berikan kepada warga binaan dalam bentuk tabungan. Sebagian lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam," ujarnya.

Ia menegaskan seluruh kegiatan tersebut merupakan program resmi Lapas, bukan usaha pribadi. Pihak Lapas menyediakan modal dan bahan baku untuk mendukung keberlangsungan produksi.

Menurut Iskandar, kegiatan produktif tersebut tidak hanya memberikan keterampilan bagi warga binaan, tetapi juga menghasilkan pendapatan dari penjualan produk. Hasilnya turut berkontribusi terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Melalui program pembinaan tersebut, Iskandar berharap warga binaan dapat mengembangkan kemampuan dan memiliki bekal keterampilan yang bisa dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami