Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
15 Hari Tak Pulang, Pemuda Kebon Dinyatakan Hilang
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Ketut Rata (25) warga asal Banjar Kebon Blahbatuh Gianyar dikabarkan hilang oleh keluarganya sejak 15 hari yang lalu. Hingga kini, pihak keluarga yang cemas masih terus melacak keberadaan pemuda malang tersebut.
Ketut Rata, diinformasikan oleh pihak keluarganya telah meninggalkan rumah sejak 15 hari yang lalu. Dan hingga kini pemuda tersebut tak pernah kembali. Terkait masalah ini, para kerabat dan anggota keluarga memutuskan untuk melakukan pencarian korban. Pencarian korban dimulai dari lokasi yang dicurigai awal mula hilangnya korban.
Salah satunya adalah dengan menyusuri aliran sungai di jembatan Blahbatuh tepatnya di sebelah barat Vihara Amurpha Bumi. Ibu korban, Ni Made Suati (67) ketika ditemui Beritabali.com, (Rabu (27/2) mengatakan, anaknya tak pernah kembali lagi sejak meninggalkan rumah 15 hari yang lau.
“Anak saya tak ada di rumah sudah sejak 15 hari yang lalu. Dan hingga kini anak saya tak kunjung pulang. Saya sangat cemas dan merindukannya,” ucapnya sedih. Hingga berita ini di online-kan, pihak keluarga dan kerabat masih terus melakukan upaya pencarian dengan melacak sejumlah lokasi terakhir yang disinggahi korban.
Reporter: bbn/art
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3896 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2970 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2054 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2029 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1813 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun