Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
25 Ekor Babi di Tejakula Mati Mendadak Terserang ASF
BERITABALI.COM, BULELENG.
Virus African Swine Fever (ASF) kembali menghantui peternak babi di Kabupaten Buleleng. Sebanyak 25 ekor babi milik warga di Kecamatan Tejakula dilaporkan mati mendadak akibat terserang virus tersebut.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Buleleng, I Gede Melandrat, mengatakan mayoritas babi yang mati merupakan ternak peliharaan warga dengan sistem kandang terbuka dan pengawasan terbatas. Kasus tersebut dilaporkan terjadi sekitar pekan lalu.
ASF kembali merebak karena hingga kini belum ditemukan obat maupun vaksin yang benar-benar efektif untuk menangani virus tersebut.
“Sudah ada temuan di wilayah timur. Ini yang membuat kami prihatin karena obatnya memang belum ada,” ujarnya, Kamis (28/5).
Menurut Melandrat, babi yang mati rata-rata berusia sekitar enam bulan atau mendekati masa jual sehingga kerugian yang dialami peternak cukup besar.
“Sekitar 25 ekor mati mendadak. Itu positif ASF. Cuma kami memang tidak mengambil sampelnya, karena ketika diambil, khawatir virusnya semakin menyebar,” katanya.
ASF dikenal sebagai penyakit menular ganas pada ternak babi dengan penyebaran sangat cepat. Dalam beberapa kasus, ternak terlihat sehat pada pagi hari namun mendadak lemas dan mati dalam waktu singkat. “Kadang pagi masih bagus, sebentar langsung drop,” terang Melandrat.
Ia menduga penyebaran virus dipicu tingginya interaksi antarpeternak. Aktivitas saling mengunjungi kandang disebut menjadi salah satu faktor penyebaran ASF dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Selain itu, sanitasi kandang yang kurang baik serta penggunaan pakan yang tidak steril juga meningkatkan risiko penularan virus. “Kalau ada babi mati lalu ditengok peternak lain, ini bisa cepat menyebar,” jelasnya.
Untuk mencegah penyebaran lebih luas, peternak diminta membatasi akses keluar masuk kandang dan rutin menjaga kebersihan area peternakan.
“Pencegahannya dengan menjaga sanitasi kandang dan pakan. Kalau bisa pakannya dari lokal,” terangnya.
Melandrat menambahkan peternakan skala besar cenderung lebih aman karena menerapkan sistem biosekuriti ketat. Sementara peternakan rumahan dinilai masih rentan karena kandang terbuka dan tingginya aktivitas warga di sekitar ternak.
Peternak juga diimbau tidak membuang bangkai babi sembarangan. Ternak yang mati mendadak diminta segera dikubur atau dibakar untuk mencegah penyebaran virus semakin meluas. Saat ini dokter hewan dan petugas Puskeswan telah diterjunkan untuk memberikan sosialisasi terkait pencegahan penularan ASF kepada masyarakat.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5852 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4605 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2570 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2213 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan