Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 31 Juli 2026
Angin Kencang Terjang Pekutatan, Sejumlah Bangunan Rusak
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Hujan deras disertai angin kencang melanda Kecamatan Pekutatan, Jembrana, pada Minggu (9/2/2025). Akibatnya, beberapa bangunan milik warga mengalami kerusakan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Kapolsek Pekutatan Kompol Semadi mengatakan, kejadian ini terjadi di dua desa, yakni Desa Pengeragoan dan Desa Medewi.
Di Desa Pengeragoan, angin kencang menerbangkan atap Rumah Makan Banyuwangi Echo yang berlokasi di Banjar Pengeragoan Dauh Tukad. Bangunan tersebut milik Mohamad Hasan (65), seorang pedagang asal Banyuwangi, Jawa Timur. Akibat kejadian ini, pemilik mengalami kerugian sekitar Rp 50 juta.
Sementara itu, di Desa Medewi, sebuah pohon asam tumbang dan menimpa bagian serambi belakang rumah milik Munairi (54), seorang petani setempat. Insiden ini menyebabkan genting serta kayu penyangga bangunan patah, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 10 juta.
"Selama kejadian, personel kepolisian bersama warga langsung melakukan pengamanan dan pendataan. Situasi kini sudah kondusif," ujar Kompol Semadi.
Saat ini, kondisi cuaca di wilayah Pekutatan sudah membaik, dengan hujan berhenti dan angin tidak lagi bertiup kencang.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3905 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 3050 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2085 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2050 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1825 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun