Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 7 Mei 2026
AS Perluas Larangan Laptop dalam Penerbangan
Rabu, 31 Mei 2017,
08:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, Washington DC. Pemerintah AS memperluas larangan laptop yang telah berlaku saat ini terhadap semua penerbangan internasional dari dan ke wilayah negara tersebut.
Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS John Kelly mengatakan bahwa maskapai penerbangan menghadapi 'ancaman canggih' dari para teroris yang berusaha menjatuhkan penerbangan AS, meskipun dia menegaskan bahwa keputusan akhir untuk memperluas larangan tersebut belum dilakukan.
[pilihan-redaksi]
"Itu benar-benar hal yang membuat mereka terobsesi, para teroris: gagasan untuk menjatuhkan pesawat terbang, terutama jika itu adalah kapal induk AS, terutama jika pesawat itu dipenuhi warga AS," kata Kelly dalam wawancara dengan Fox News.
Larangan elektronik yang diterapkan pada Maret lalu itu berlaku untuk penerbangan AS yang memiliki rute penerbangan ke delapan negara mayoritas Muslim.
Peraturan tersebut melarang penumpang membawa perangkat yang 'lebih besar dari smartphone' sebagai barang bawaan. Hal itu dilakukan untuk memperkecil potensi teror bom dalam pesawat.
Inggris telah mengeluarkan larangan serupa yang mencakup penerbangan dari enam negara.
Pejabat AS baru-baru ini bertemu dengan para pemimpin Eropa untuk membahas perluasan pembatasan perjalanan dalam penerbangan antara AS dan Uni Eropa.
Perluasan yang diusulkan tersebut dilaporkan masih dirahasiakan, meskipun para pejabat mengatakan akan ada 'tindakan lain'.
Pekan lalu, Politico melaporkan bahwa maskapai AS masih bersiap untuk memperluas larangan terbang ke Eropa dan kemungkinan ke wilayah lainnya.
Perluasan yang diusulkan ke Eropa tersebut menuai kritik dari International Air Transport Association (IATA), yang pekan lalu mengatakan bahwa larangan tersebut akan menelan biaya tambahan US$1,1 miliar per tahun.
Direktur Jenderal IATA Alexandre de Juniac baru-baru ini meminta pejabat untuk mempertimbangkan 'tindakan alternatif', termasuk alat deteksi bom yang lebih baik.
Dalam wawancara dengan Fox News itu, Kelly juga mengakui bahwa AS akan mengandalkan 'teknologi baru' untuk memperbaiki pemindai barang elektronik.
Dilaporkan bahwa setidaknya empat perusahaan yang memproduksi mesin skrining sedang mengerjakan alat pemindai yang lebih canggih untuk mendeteksi bahan peledak.
Jika alat pemindai tersebut digunakan, perusahaan mengatakan bahwa penumpang tidak perlu mengeluarkan barang elektronik dan cairan dari tas mereka selama proses skrining berlangsung, demikian laporan The Verge. [bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 713 Kali
02
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 657 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 482 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 463 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026