Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Jumat, 30 Oktober 2026
AS Perluas Larangan Laptop dalam Penerbangan
Rabu, 31 Mei 2017,
08:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, Washington DC. Pemerintah AS memperluas larangan laptop yang telah berlaku saat ini terhadap semua penerbangan internasional dari dan ke wilayah negara tersebut.
Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS John Kelly mengatakan bahwa maskapai penerbangan menghadapi 'ancaman canggih' dari para teroris yang berusaha menjatuhkan penerbangan AS, meskipun dia menegaskan bahwa keputusan akhir untuk memperluas larangan tersebut belum dilakukan.
[pilihan-redaksi]
"Itu benar-benar hal yang membuat mereka terobsesi, para teroris: gagasan untuk menjatuhkan pesawat terbang, terutama jika itu adalah kapal induk AS, terutama jika pesawat itu dipenuhi warga AS," kata Kelly dalam wawancara dengan Fox News.
Larangan elektronik yang diterapkan pada Maret lalu itu berlaku untuk penerbangan AS yang memiliki rute penerbangan ke delapan negara mayoritas Muslim.
Peraturan tersebut melarang penumpang membawa perangkat yang 'lebih besar dari smartphone' sebagai barang bawaan. Hal itu dilakukan untuk memperkecil potensi teror bom dalam pesawat.
Inggris telah mengeluarkan larangan serupa yang mencakup penerbangan dari enam negara.
Pejabat AS baru-baru ini bertemu dengan para pemimpin Eropa untuk membahas perluasan pembatasan perjalanan dalam penerbangan antara AS dan Uni Eropa.
Perluasan yang diusulkan tersebut dilaporkan masih dirahasiakan, meskipun para pejabat mengatakan akan ada 'tindakan lain'.
Pekan lalu, Politico melaporkan bahwa maskapai AS masih bersiap untuk memperluas larangan terbang ke Eropa dan kemungkinan ke wilayah lainnya.
Perluasan yang diusulkan ke Eropa tersebut menuai kritik dari International Air Transport Association (IATA), yang pekan lalu mengatakan bahwa larangan tersebut akan menelan biaya tambahan US$1,1 miliar per tahun.
Direktur Jenderal IATA Alexandre de Juniac baru-baru ini meminta pejabat untuk mempertimbangkan 'tindakan alternatif', termasuk alat deteksi bom yang lebih baik.
Dalam wawancara dengan Fox News itu, Kelly juga mengakui bahwa AS akan mengandalkan 'teknologi baru' untuk memperbaiki pemindai barang elektronik.
Dilaporkan bahwa setidaknya empat perusahaan yang memproduksi mesin skrining sedang mengerjakan alat pemindai yang lebih canggih untuk mendeteksi bahan peledak.
Jika alat pemindai tersebut digunakan, perusahaan mengatakan bahwa penumpang tidak perlu mengeluarkan barang elektronik dan cairan dari tas mereka selama proses skrining berlangsung, demikian laporan The Verge. [bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5991 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4674 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2653 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2314 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2234 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026