Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 25 Mei 2026
Bukti Terbaru Sanksi Barat Justru Untungkan Rusia
BERITABALI.COM, DUNIA.
Sejumlah sanksi yang dijatuhkan Barat terhadap Rusia menjadi 'berkah' bagi negara tersebut. Negeri Beruang Merah telah meraup US$ 158 miliar atau setara Rp2.354,2 triliun (kurs Rp14.900) untuk ekspor energi dalam 6 bulan setelah serangannya ke Ukraina.
Baca juga:
Erdogan: Tanpa Turki, NATO Itu Lemah
The Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkapkan lebih dari separuh nilai tersebut disumbangkan oleh Uni Eropa. Lembaga itu pun menyerukan sanksi yang lebih efektif terhadap Moskow.
"Melonjaknya harga bahan bakar fosil berarti bahwa pendapatan Rusia saat ini jauh di atas tingkat tahun-tahun sebelumnya, meskipun ada pengurangan volume ekspor tahun ini," kata organisasi yang berbasis di Finlandia itu, dikutip AFP, Selasa (6/9/2022).
Harga gas alam baru-baru ini melonjak ke level tertinggi di Eropa karena Rusia menghentikan pasokan. Harga minyak mentah juga melonjak setelah perang, meskipun sudah kembali menurun.
"Ekspor bahan bakar fosil telah menyumbang sekitar 43 miliar euro untuk anggaran federal Rusia sejak awal invasi, membantu mendanai kejahatan perang di Ukraina," kata CREA.
Selama perang, CREA memperkirakan bahwa Uni Eropa adalah importir utama eksportir bahan bakar fosil ke negeri Presiden Vladimir Putin itu dengan nilai 85,1 miliar euro. China menyusul di posisi kedua dengan 34,9 miliar euro, dan Turki 10,7 miliar euro.
Sementara itu, Uni Eropa telah menghentikan pembelian batu bara Rusia dan hanya secara progresif melarang minyak Rusia. Blok tersebut justru tidak menerapkan batasan apa pun pada impor gas alam.
CREA mengatakan larangan Uni Eropa atas impor batu bara Rusia telah efektif. Setelah larangan itu berlaku, ekspor batu bara Rusia turun ke level terendah sejak perang dimulai.
"Rusia gagal menemukan pembeli lain untuk menggantikan penurunan permintaan UE," kata CREA.
CREA pun menyerukan aturan dan penegakan yang lebih kuat mengenai ekspor minyak Rusia, mendesak Uni Eropa dan Inggris menggunakan pengaruh mereka dalam pengiriman global.
"Uni Eropa harus melarang penggunaan kapal milik Eropa dan pelabuhan Eropa untuk pengiriman minyak Rusia ke negara ketiga, sementara Inggris harus berhenti mengizinkan industri asuransinya untuk berpartisipasi dalam perdagangan ini," tutur CREA.
Sebelumnya, negara-negara G7 berjanji pada hari untuk mendesak maju untuk memberlakukan batasan harga pada minyak mentah Rusia, sebuah langkah yang akan membuat Rusia kehilangan sebagian besar pendapatan yang sekarang diperolehnya dari ekspor minyaknya.
Adapun, Amerika Serikat (AS) telah berdebat untuk pengenaan batas harga selama berbulan-bulan, dengan alasan bahwa larangan Barat pada produk energi Rusia berkontribusi pada kenaikan harga yang membantu Moskow membiayai upaya perangnya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2122 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1965 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1452 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1337 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli