Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 11 Juni 2026
Diminta Uang Seragam Rp4 Juta, Keluarga Korban Penyekapan Mulai Merasa Janggal
BERITABALI.COM, BADUNG.
Fakta baru terungkap dalam kasus dugaan penipuan, penyekapan, dan penganiayaan yang dialami YKB (24), pria asal Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), di Hotel Liberta, Kedonganan, Kuta. Sebelum menjadi korban penyekapan, keluarga korban ternyata sempat mentransfer uang Rp4 juta kepada para pelaku untuk biaya seragam kerja.
Orang tua korban, Adriana Miku Ate (44), mengaku sempat merasa curiga saat anaknya menelepon dan meminta uang tersebut. Namun demi harapan agar sang anak bisa mendapatkan pekerjaan di Bali, ia tetap mengirimkan uang yang diminta.
Belakangan diketahui, uang tersebut merupakan bagian dari modus yang diduga dilakukan kelompok pelaku dengan kedok menawarkan pekerjaan kepada korban.
Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Kuta pada 9 Mei 2026. Saat ini korban masih menjalani pemeriksaan untuk membantu penyidik mengungkap dan menangkap para pelaku yang diduga terlibat dalam aksi penyekapan tersebut.
Selain memberikan keterangan kepada penyidik, korban juga telah menjalani visum et repertum terkait luka-luka yang dialaminya selama diduga disekap dan dianiaya.
Kasus tersebut menghebohkan masyarakat Bali setelah terungkap bahwa korban diduga disekap di kamar 310 Hotel Liberta, Kedonganan, Kuta, dan dimintai uang tebusan hingga Rp100 juta.
Korban mengaku para pelaku berjumlah lima orang yang terdiri dari dua perempuan dan tiga laki-laki. Selain melakukan penganiayaan, para pelaku juga diduga mengambil telepon genggam korban dan menggunakannya untuk menghubungi keluarga guna meminta sejumlah uang.
Menurut Adriana, sejak awal dirinya sebenarnya sudah merasa ada yang tidak beres ketika korban diminta mengirim uang untuk biaya seragam kerja.
Meski demikian, para pelaku terus meyakinkan keluarga bahwa pekerjaan yang ditawarkan benar adanya. Bahkan mereka kerap menggunakan pendekatan religius untuk mendapatkan kepercayaan keluarga korban.
"Dari awal mereka selalu membawa-bawa nama Tuhan, saya sama sekali tidak berpikir mereka orang jahat," ujarnya ke awak media, Selasa 9 Juni 2026.
Kecurigaan Adriana semakin menguat ketika pada 8 Mei 2026 ia menerima pesan yang mengatasnamakan anaknya. Dalam pesan tersebut, korban dituduh mencuri uang milik atasan, melakukan pelecehan seksual, dan menabrak mobil BMW milik para pelaku.
Pesan itu membuat keluarga semakin khawatir karena merasa tuduhan tersebut tidak sesuai dengan karakter korban yang mereka kenal selama ini.
"Saya sudah merasa anak saya dalam keadaan berbahaya karena setahu saya dia (korban) tidak pernah melakukan kejahatan," imbuhnya.
Menurut Adriana, pada malam yang sama keluarga terus menerima telepon dari para pelaku yang meminta uang tebusan hingga Rp100 juta. Namun karena tidak memiliki dana sebesar itu, keluarga berusaha mengulur waktu dengan alasan akan mengirimkan uang kemudian.
Di tengah kepanikan tersebut, kabar yang ditunggu akhirnya datang. Pada Sabtu, 9 Mei 2026 sekitar pukul 06.00 Wita, korban berhasil menghubungi keluarganya dan memberitahukan bahwa dirinya telah lolos dari tempat penyekapan.
"Pagi pagi anak saya menelpon dan mengabari selamat. Saat mendengar suara anak saya, kami semua menangis dan mengucap syukur karena dia masih hidup," ungkapnya.
Adriana berharap aparat kepolisian segera menangkap para pelaku agar tidak ada korban lain yang mengalami kejadian serupa.
"Kami berharap pihak kepolisian bisa menangkap para pelaku. Supaya kasus ini tidak ada korban lagi dan mereka bisa bertanggungjawab atas perbuatannya," tegasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/spy
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli