Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Kasus Wartawan di Jembrana Dilimpahkan ke Kejaksaan
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Kasus dugaan pencemaran nama baik yang menyeret seorang oknum wartawan di Jembrana memasuki babak baru. Berkas perkara dan tersangka atas nama I Putu Suardana resmi dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jembrana dan segera disidangkan.
Kasus ini bermula dari laporan seorang pengusaha SPBU bernama Dewi Supriani pada Mei 2024 lalu. Ia melaporkan Putu Suardana, wartawan media daring mediacmn.com, karena merasa nama baiknya dicemarkan dalam sebuah pemberitaan.
Pemberitaan yang dimaksud dimuat pada 11 April 2024, berjudul "Seakan Menjajah, Investor Ini Masuk Kabupaten Jembrana Diduga Caplok Sepadan Sungai". Dalam artikel itu, SPBU milik Dewi disebut-sebut mencaplok lahan di sepadan Sungai Ijogading. Padahal, menurut pihak Dewi, informasi itu tidak benar dan merugikan citranya sebagai pengusaha.
Pelimpahan tersangka dan barang bukti dilakukan pada Selasa (15/7/2025) ke Kejaksaan Negeri Jembrana. Tersangka didampingi kuasa hukum dan penyidik dari Polres Jembrana saat diserahkan.
Baca juga:
Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Pemilik SPBU di Jembrana, Oknum Wartawan Belum Tersangka
Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Jembrana, I Wayan Adi Pranata, membenarkan pelimpahan tersebut. “Hari ini kami menerima pelimpahan tahap dua dari penyidik Polres Jembrana, dengan tersangka Putu Suardana,” jelasnya.
Ia menjelaskan, tersangka dijerat dengan Pasal 45 ayat (4) juncto Pasal 27A Undang-Undang ITE. Namun untuk saat ini, Putu Suardana tidak ditahan karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun.
“Penahanan itu nanti jadi wewenang pengadilan setelah perkara kami limpahkan,” ujarnya.
Sementara itu, kuasa hukum Dewi Supriani, I Made Sugiarta, mengaku bersyukur kasus ini berlanjut ke pengadilan. Menurutnya, wartawan seharusnya profesional dan melakukan konfirmasi sebelum memuat berita.
“Ini bukan soal kebebasan pers, tapi soal etika. Wartawan wajib konfirmasi dan memberi hak jawab. Dalam kasus ini, itu tidak dilakukan,” tegasnya.
Ia berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi wartawan lain agar tidak sembarangan dalam menulis berita. “Kami akan terus mengawal proses hukum ini hingga sidang dimulai,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5852 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4605 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2569 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2213 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan