Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 31 Juli 2026
Ketut Artono Buktikan Pertanian Organik Bisa Jadi Harapan Baru di Gianyar
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Di tengah kebiasaan petani yang masih bergantung pada pupuk kimia, I Ketut Artono (35), petani muda asal Banjar Madangan Kelod, Desa Petak, berani menempuh jalan berbeda.
Dengan penuh keyakinan, ia mengelola lahan seluas 40 are secara organik, sekaligus mengubah cara pandang terhadap pertanian berkelanjutan di Bali.
Langkah Artono bukan tanpa rintangan. "Awalnya memang hasil panen menurun, karena tanah yang dulunya terbiasa [menggunakan] pupuk kimia harus dipulihkan dulu," katanya saat ditemui di tengah panen raya padi sehat.
Namun kerja kerasnya berbuah manis. "Beras organik jauh lebih enak, legit, dan yang paling penting, tidak cepat basi meski disimpan sampai keesokan harinya," ungkapnya dengan bangga.
Keberhasilannya menjadi bukti nyata bahwa pertanian organik bukan sekadar wacana. Dengan ketekunan, ia berharap bisa menginspirasi petani lain di subaknya untuk ikut beralih.
Upaya ini juga sejalan dengan program Pemerintah Desa Petak melalui PETA (Pertanian Tanpa Anorganik), yang didukung tim PKK “Jayanti Sari”. Mereka mengembangkan pupuk organik inovatif bernama BPJS (Biopeta Jayanti Sari), hasil olahan kotoran sapi dengan bioteknologi probiotik.
"Pupuk organik ini dibuat dari kotoran sapi yang ditimbun, lalu diolah dengan probiotik hingga jadi pupuk berkualitas. Semua lahan organik kami kini memakai pupuk ini,” jelas Artono.
Kini, tiga dari tujuh subak di Desa Petak sudah beralih ke sistem organik. Targetnya, pada 2026–2027 seluruh subak bisa sepenuhnya meninggalkan pupuk kimia.
Bagi Artono, pertanian organik bukan hanya soal panen. Lebih dari itu, ini adalah visi menjaga warisan leluhur sekaligus menjawab tantangan masa depan. "Harapannya kita bisa kembali ke budaya bertani tradisional Bali, tetapi tetap dengan hasil yang baik," ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga melihat potensi besar mengintegrasikan pertanian organik dengan pariwisata desa. "Jika dikolaborasikan dengan desa wisata, pertanian organik bisa jadi daya tarik sekaligus menjaga warisan budaya," tambahnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3905 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 3050 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2085 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2050 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1826 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun