Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Petani Bunga Pacah di Badung Andalkan KUR BRI untuk Jaga Produksi

Rabu, 29 Juli 2026, 12:15 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok BRI/Petani Bunga Pacah di Badung Andalkan KUR BRI untuk Jaga Produksi.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Akses pembiayaan menjadi salah satu penentu keberlangsungan usaha pertanian di Kabupaten Badung. Bagi Made Tarji, petani bunga pacah di Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI menjadi sumber modal penting untuk menjaga kelancaran produksi di tengah fluktuasi harga dan tantangan cuaca.

Tarji memanfaatkan KUR BRI untuk membiayai berbagai kebutuhan budidaya, mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga perawatan tanaman. Dalam satu siklus tanam, biaya produksi bunga pacah dapat mencapai sekitar Rp20 juta yang harus dikeluarkan sebelum tanaman menghasilkan.

"Bantuan modal sangat membantu petani. Karena sebelum panen, biaya untuk pengolahan lahan, bibit, pupuk sampai perawatan sudah lebih dulu dikeluarkan," ujarnya ditemui di sawahnya, Senin (27/7/2026).

Menurut Tarji, bunga pacah merupakan komoditas yang membutuhkan perawatan intensif. Tanaman mulai berbunga sekitar tiga minggu setelah ditanam dan dapat dipanen setiap hari selama dua hingga tiga bulan apabila pertumbuhannya optimal.

Pada masa panen awal, hasil produksi bisa mencapai sekitar 35 kilogram per hari, kemudian secara bertahap menurun menjadi sekitar 25 hingga 27 kilogram per hari.

Meski permintaan bunga untuk kebutuhan upacara keagamaan di Bali relatif stabil, pendapatan petani tidak selalu mengikuti. Harga bunga pacah sangat bergantung pada kondisi pasar. Saat pasokan melimpah, harga dapat turun hingga sekitar Rp10.000 per kilogram. Sebaliknya, ketika produksi menurun, harga dapat meningkat hingga sekitar Rp40.000 per kilogram.

Selain fluktuasi harga, cuaca juga menjadi tantangan utama karena memengaruhi kualitas maupun volume panen. Di sisi lain, bunga pacah yang telah dipanen tidak dapat disimpan dalam waktu lama sehingga harus segera dipasarkan. Kondisi tersebut membuat petani kerap mengikuti harga yang ditetapkan pasar maupun pengepul.

Karena itu, menurut Tarji, efisiensi biaya produksi dan ketersediaan modal menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha. Dengan dukungan KUR, ia dapat memenuhi kebutuhan produksi sehingga pasokan bunga pacah untuk kebutuhan upacara masyarakat Bali tetap terjaga.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan BRI terus memperkuat penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif, termasuk pertanian, sebagai upaya meningkatkan kapasitas usaha pelaku UMKM.

Menurutnya, pembiayaan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha.

"Kami melihat sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah. Melalui KUR, BRI ingin memastikan para petani memiliki akses pembiayaan yang memadai sehingga dapat mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, serta menjaga kesinambungan produksi. Harapannya, pembiayaan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekosistem pertanian di Bali,” ujarnya.

Hery menambahkan, BRI akan terus memperluas akses pembiayaan kepada pelaku usaha produktif yang memiliki prospek usaha dan dikelola secara baik. Dengan dukungan permodalan yang berkelanjutan, sektor pertanian diharapkan semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan sekaligus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/adv



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami