Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Nekad Melaut Saat Angin Kencang

Pengambengan

Selasa, 14 Juli 2009, 18:44 WITA Follow
Beritabali.com

images.google.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Seminggu belakangan ini, di Jembrana angin di laut bertiup cukup kencang. Sejumlah nelayan di Desa Pengambengan, Negara terpaksa mempertaruhkan nyawanya dengan melaut demi menyambung berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Dari informasi yang dihimpun, pada awal angin kencang berhembus, para nelayan tidak berani melaut lantaran khawatir dengan kemungkinan resiko yang akan menimpanya di lautan. Angin kencang sangat berpotensi menyebabkan gelombang tinggi yang berimbas bagi keselamatan nelayan di laut.

Selain itu, kencangnya hembusan angin juga mengakibatkan sulit mendapatkan ikan lantaran jarang sekali ikan berada di dekat permukaan air laut. Namun, seminggu berarti menguras dana cadangan nelayan sehingga kian lama kian menipis.

Terlebih lagi bagi nelayan yang tidak memiliki pekerjaan sampingan seperti bertani atau beternak. Kondisi terjepit ini mengakibatkan mereka tidak punya pilihan lain selain melaut dengan menantang berbagai resiko yang mungkin menimpa mereka.

Perbekel Pengambengan, Asmuni Turyadi dihubungi, Selasa (14/7) membenarkan kalau nelayan yang mayoritas penduduknya tetap nekad melaut kendatipun angin berhembus cukup kencang.

Menurut Asmuni, nelayan tetap nekad melaut dan sadar kemungkinan resiko terburuk bisa menimpanya. “Kendatipun nekat melaut, mereka tetap waspada dan penuh dengan kehati-hatian,” tandasnya.

Asmuni juga mengungkapkan selama angin kencang berhembus belum ada nelayan yang mengalami petaka namun hasil tangkapan mereka masih jauh dari standar yang bisas mereka dapatkan. “Kalau melaut dengan perahu besar dalam kondisi normal, mereka bisa membawa 20 ton hingga 30 ton ikan. Kalau saat musim angin seperti sekarang ini, nelayan hanya bisa membawa pulang dua sampai lima ton ikan,” terang Asmuni.

Dengan minimnya hasil tangkapan ini, tambah Asmuni, nelayan tidak memperoleh keuntungan lantaran penjualan ikan hasil tangkapan hanya bisa menutup biaya operasional seperti pembelian solar dan membayar ABK. (dey)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami