Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 15 September 2026
Pembantaian di Pujungan November 1965-Januari 1966
Sejarah Kelam G30S 1965 di Bali (3)
BERITABALI.COM, TABANAN.
Tak jauh dari rumah Putu di Pujungan, dibangun posko. Pemuda yang datang ke posko berpakaian ala militer, pakai sabuk kopel tentara dan memakai baret hitam. Di baretnya ada tulisan BM (Banteng Marhaen) dan gambar banteng segi tiga.
Setiap hari posko dipenuhi orang. Di malam hari, Putu ikut bergadang, istilahnya waktu itu untuk menjaga kawasan dari serangan balik komunis. Isu yang dibawa tentara waktu itu PKI akan menyerang balik dan membunuh tokoh-tokoh Marhaen.
Suatu pagi, Putu mendengar dari ibunya ada 14 orang PKI yang diangkut tentara dengan truk. Salah satu orang yang diangkut ke truk, masih ada hubungan saudara dengan Putu, diangkut tentara karena dilaporkan sebagai simpatisan Buruh Tani Indonesia (BTI).
Saat di jalan raya, Putu melihat ada iring-iringan orang berjalan menuju kuburan. Orang terdepan tangannya diborgol dan dikawal pemuda BM. Ada yang membawa parang, ada yang membawa arit Ansor (clurit).
Orang yang dibawa ke kuburan adalah orang yang "kena garis". Dia adalah "tokoh" PKI dari Tibudalem. Orangnya tinggi besar, tapi wajahnya sudah kuyu, matanya layu, hanya mengenakan kain dan baju kaos.
Dari suara-suara orang yang membawanya ke kuburan, Putu tahu orang PKI ini akan dibunuh di kuburan dengan cara digorok. Semua berebut ingin membacok laki-laki yang diborgol ini. Putu akhirnya melihat pembunuhan "tokoh" PKI itu dengan mata telanjang dari jarak yang dekat.
Di hari lainnya, Putu juga mendengar pembantaian orang PKI di kuburan desa. Orang PKI disuruh membuat lubang kuburnya sendiri, lalu disuruh tidur di lubang itu dan dibacok dari atas. Lubang kubur kemudian ditimbun.
Putu mendengar cerita itu sambil lalu. Ia sudah bosan dan imun dengan kabar pembunuhan sadis sejenis ini. Situasi di desa semakin gawat. Putu akhirnya dibawa ke Denpasar untuk tinggal bersama salah seorang kerabatnya yang anggota tentara.
Sekitar awal Juni 1966, sekolah kembali dibuka dan Putu Setia kembali pulang ke Tabanan. Kepala sekolah, Pak Dedeh, menyampaikan kabar, dua guru PKI yang mengajar di SMPN Bajera terkena "garis". Tidak ada murid yang "kena garis". Sedangkan di SLUB ada beberapa murid yang "kena tumpas", tapi tidak disebutkan jumlahnya.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5232 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3433 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2213 Kali
De Gadjah Dorong Pariwisata Toleransi sebagai Kekuatan Bali
Dibaca: 938 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan